Tentang dirimu, temanku

Desap
Karya Desap  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Mei 2016
Tentang dirimu, temanku

Saat langkah masih seirama
Saat fikiran jauh berkelana
Membawa pergi pada angan dan impiannya

Aku terpaku memperhatikanmu
Mengenalkanku pada imajinasi terliarmu
Mendengarkan jeritan suara hatimu
Sampai terkagum aku akan tingkahmu
Ini aku yang penakut
sedang kamu yang berani
mengajakku untuk keluar
yang kau sebut  sebagai zona nyaman

Seperti hujan
Air darimu sungguh memuaskan dahagaku
menumbuhkan setiap benih dalam diri
walau hanya berupa kecambah
Dan seperti  matahari
cahayamu menuntunku
menuju tempat yang tak pernah ku temui sebelumnya

Berjalan bersamamu
dalam waktu yang singkat
tapi memberi arti banyak
Namun kini kau tengah berada di jalan yang berbeda
aku tak tahu apakah tujuan kita sama?
tapi katamu “see you on top”

Biarlah, aku berusaha menikmati perjalanan ini
___

Hai kau..

Walaupun saat ini rasanya kita tidak bisa seperti dulu, namun kau pernah menjadi sosok penting yang pernah ada dalam hidupku. Kau ajarkan rasa sabar dan tulus. Juga bagaimana ketika kita harus adil memperlakukan seseorang. Kau yang senang dengan hal-hal yang berbeda dari biasanya namun tetap keren kelihatannya—antimainstream. Senyumu yang selalu menawan beriringan dengan tawamu yang terkadang sangat keras sampai naik oktaf. Itu berarti mengindikasikan”sesuatu“ yang tak seharusnya disebutkan. Terkadang kau hanya diam seperti tak peduli keadaan sekelilingmu, hanya memerhatikan sekitar dengan mata yang tertuju pada layar smartphonemu. Namun ketiadaanmu selalu menjadi pertanyaan orang-orang, itulah..

Memandang sesuatu dengan perspektif yang berbeda dan selalu tertarik dengan hal-hal baru apalagi yang berbau luar negeri. Selalu update informasi terkini, dari mulai film, fashion, buku atau apapun-- nampaknya dia serba tahu. Namun tak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Akhirat pun tentu menjadi prioritasnya. Dengan jilbab yang selalu menutupi bagian depan juga belakangnya, berusaha untuk tetap syar’i dan itu terlihat indah dipakainya. Pemikirannya yang melanglang jauh, membawanya pada impian untuk bisa bepergian ke berbagai negara.  Sangat supel, tetapi misterius dan juga tertutup.

Sebenarnya aku tak suka dengan hal ini, tapi aku selalu senang ketika berada di dekatmu, melihat senyummu, berbicara denganmu, berdiskusi denganmu walau tanpa kesimpulan akhir dan selalu menggantung. Beruntunglah  terkadang alam berkonspirasi, beberapa kali alamlah yang justru membantu  kita menemukan jawaban. Tapi mengapa aku tak suka ? Karena aku selalu takut kalau kau tidak begitu, apakah ini berarti pertemanan yang aku rasakan tidak tulus ?

Entahlah tapi aku hanya ingin berterimakasih padamu, yang selalu terpacu ketika melihatmu bergerak. Kau temanku tentu saja, tapi tak berani aku menyebutmu sahabat sekalipun menginginkanya. Apapun itu yang pasti aku selalu ingin menjadi temanmu, perasaan macam apa ini tapi aku yakin kau berbeda dengan teman-temanku yang lain. Selalu ada porsi yang lebih di ruangan dalam diri ini. Maaf dariku karena akupun sama belum bisa menjadi temanmu yang baik.

 

Rumah, ditemani hujan. |17-05-2016