#Fragmen #2 - Perubahan dan Tak Pernah Merasa Cukup

Fortinov Akbar Irdam
Karya Fortinov Akbar Irdam Kategori Project
dipublikasikan 25 Januari 2018
Fragmen

Fragmen


Fragmen merupakan proyek menulis yang diinisiasi tiga penulis berbeda, yakni Fortinov Akbar Irdam, Yoka Nur Rochman, dan Utami Nurhasanah. Tiap sambungan ditulis oleh penulis berbeda yang menuangkan kreativitasnya masing-masing tanpa campur tangan penulis lain.

Kategori Petualangan

176 Tidak Diketahui
#Fragmen #2 - Perubahan dan Tak Pernah Merasa Cukup

Episode sebelumnya dapat dilihat disini

 

Perubahan dan Tak Pernah Merasa Cukup

Sebulan sebelumnya

Shibuya hari ini tak seperti biasa. Keadaan hari ini tak seperti yang dibayangkan dari daerah terpadat di seantero Tokyo ini. Sunyi, lengang, sepi mungkin kata yang pas untuk menggambarkan keadaan hari ini. Ah, sudahlah, daripada membahas hal yang membingungkan itu lebih baik segera kupercepat langkahku menuju flat.

Aku sengaja memilih flat yang cukup jauh dari riuhnya kehidupan kota. Tak ada alasan lain selain aku butuh ketenangan setelah beraktivitas sehari penuh. Hari ini berjalan seperti hari-hari biasanya, pergi di saat matahari masih malu-malu menunjukkan rupanya, dan kembali ketika sang surya lelah menyinari bumi.

Kalau merujuk pada targetku tahun ini akan menjadi tahun terakhir aku berada di ibukota Jepang ini. Pendidikan doktorku akan segera berakhir. Riset-riset yang menjenuhkan akan segera lepas dari rutinitasku. Tak terasa memang, sudah hampir empat tahun aku berada disini. Di kota yang selama ini menjadi impianku untuk berlabuh. Belajar dari kearifan lokal yang terkenal luar biasa disiplin.

Mengingat kembali ke belakang selalu membuatku tertawa. Kelucuan bahkan sudah timbul saat aku tiba di bandara Narita. Aku bertanya kepada satpam yang tak mengerti sedikitpun bahasa Inggris. Jadilah mau tidak mau atraksi sirkus tersaji di pagi yang cukup cerah saat itu. Memang selalu ada jalan, ketika bahasa lidah tidak mampu lagi menjadi alat komunikasi yang ampuh, masih ada bahasa tangan, kepala, kaki, serta bagian tubuh lainnya yang dapat kita gunakan.

Belum lagi kelas pertamaku di Tokyo Institute of Technology. Aku ingat, saat itu Profesor Kenji Matsumoto, mentorku hingga saat ini, hanya tersenyum melihatku datang 5 menit sebelum kelas Heat and Mass Transfer yang diajarinya akan dimulai. Dasar, sampai hari itu seperti belum sadar bahwa saat ini aku berada di tempat yang berbeda dari tempatku hidup sebelumnya. Melihat semua murid sudah siap belajar, aku hanya tertunduk malu sambil berkata ‘sumimasen’.

Ah, terlalu banyak hal lucu lainnya yang lebih baik tidak usah kuceritakan.

Tak terasa pintu flat yang kurindukan sudah di depan mataku. Sepersekian detik sebelum kakiku melangkah menuju ke dalam flat, aku teringat tiga buah jurnal yang kupesan dari temanku yang sedang melanjutkan pendidikan doktornya di Belanda. Kebetulan, bidang yang menjadi riset kita mirip, dan dia memiliki jurnal yang mampu menunjang kebutuhan risetku saat ini.

Jika tebakanku benar seharusnya jurnal itu sudah tiba. Kotak surat yang terletak di sebelah kanan pintu flatku pun kubuka. Wajahku sumringah karena ketiga jurnal tersebut sudah mengisi ruang di kotak suratku.

Mataku menangkap masih ada benda lain yang mengisi kotak suratku. Terlihat satu buah map berwarna coklat berprangko Masjid Gede Yogyakarta. Tertulis nama Muhammad Fatih sebagai pengirimnya.

Tak mungkin kulupakan sahabatku yang satu ini. Dibalik sifatnya yang sangat suka sekali bermain, tersimpan api tekad di dalam hatinya. Dia selalu sesumbar berkata bahwa akan menjadi pebisnis termuda yang sukses. Aku hanya menganggapnya bualan belaka, mana mungkin orang yang selalu bermain-main seperti itu dapat mewujudkan impian yang sangat ambisius, begitulah yang kupikirkan.

Kabarnya, setahun yang lalu bisnis yang dirintis Fatih telah tersebar ke banyak negara. Wajah Fatih kutemukan dimana-mana. Baik itu media cetak, media elektronik, hingga media sosial tak luput membahas kesuksesan yang diraih Fatih dalam usia yang cukup muda.

Setahun yang lalu pula aku terakhir kali berhubungan dengan Fatih. Aku mengucapkan selamat padanya atas segala yang diraihnya. Aku sempat membercandainya, “Boleh saja sih sukses di bidangmu saat ini, tapi kapan nih sang pebisnis muda mendapatkan pendamping hidupnya”.

Tetap dengan gayanya yang main-main, dia membalas, “Lihat saja, setahun lagi akan kau temukan undangan pernikahanku setelah kau pulang dari riset-risetmu yang membosankan itu!” Terkekeh, hanya itu reaksiku saat itu.

Kubuka map berwarna cokelat terlebih dahulu. Aku yakin bukan hanya surat yang ada pada map itu.

Undangan pernikahan. Ya, itu yang kutemukan. Janjinya setahun yang lalu benar-benar ditunaikan. Pikirankupun berkecamuk, kiranya apa yang membuat calon separuh jiwanya jatuh cinta terhadap Fatih? Cinta memang semisteri itu.

Memang, Fatih selalu menghadirkan kejutan dalam setiap perilakunya.

Sepucuk surat pun terlampir selain undangan pernikahan itu.

 

Untuk sahabatku, Fandi di negeri sakura

Apa kabar sobat?Masihkah kau berkutat dengan risetmu yang membosankan itu? Ya mau bagaimana lagi, sudah karaktermu toh untuk mengakhiri apa yang telah kau mulai?

Kau tentu ingat kan janjiku setahun yang lalu? Kalau boleh kutebak, pasti saat ini kau baru saja pulang dari kegiatan risetmu kan?

Undangan yang kau terima mungkin sudah cukup menjelaskan semuanya. Aku sangat berharap kau dapat hadir di pernikahanku. Ini hariku yang paling membahagiakan. Aku ingin orang-orang yang berharga bagiku hadir di momen ketika aku menyempurnakan agamaku.

Kau tak perlu membalas surat ini. Cukup kehadiranmu yang kumau.

 

Dari temanmu di kota pelajar,

Fatih

 

Ketika Fatih sudah memohon seperti ini aku sangat yakin memang itu yang dia inginkan. Walaupun dia orang yang suka main, tapi untuk urusan permohonan dia tidak pernah bermain-main.

Pernikahan akan dilaksanakan sebulan lagi. Sepertinya aku akan menghabiskan beberapa hariku di laboratorium. Risetku beberapa bulan ini terbilang mandeg, Matsumoto-sensei terlihat gelisah akhir-akhir ini. Memang sudah karakternya. Dia hanya gelisah tanpa mengungkapkan kegelisahannya padaku, tetapi aku tahu itu alarm untukku agar segera menunjukkan perkembangan yang diharapkan.

Tunggu aku, kawan.

XXXXX

 Sehari sebelumnya

Fatih memelukku erat sesaat ketika aku keluar dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Kami melepaskan kerinduan. Terakhir kali kami berpelukan se-erat itu adalah ketika dia mengantarkan kepergianku ke Jepang empat tahun lalu.

Kacamataku berembun, tak terasa mataku sembab karena kerinduanku padanya.

“Rumi akan menyusul besok, kita akan menjemputnya nanti di Stasiun Tugu,” katanya.

Rumi, sahabatku yang lain. Berbanding lurus dengan apa yang dilakukan Fatih saat ini, Rumi menjalani peran sebagai pebisnis. Usia bisnisnya baru mau memasuki angka satu tahun. Meski belum bisa dikatakan sukses, tapi aku bisa melihat ada gelagat tak mau kalah yang ditunjukkan Rumi terhadap Fatih.

Dua orang ini sering sekali memperdebatkan banyak hal. Tak jarang mereka kuat mempertahankan argument yang mereka keluarkan. Aku malah sempat berpikir bahwa Fatih akan menikah dengan Rumi. Perbedaan pendapat yangs sering terjadi di antara mereka justru kulihat sebagai chemistry yang pas. Entahlah, tiba-tiba hal yang kurasa aneh itu terlintas.

“Bagaimana dengan persiapan pernikahanmu?”

Alhamdulillah lancar, segala persiapan teknis sudah hampir selesai. Tinggal mentalku yang harus kusiapkan.”

“Kau akan menginap di rumah Pak de ku. Maaf, rumahku saat ini benar-benar tidak mampu lagi menambah jumlah manusia. Daripada kau nanti merepotkanku, lebih baik kau kutempatkan di rumah Pak de ku,” ujarnya dengan cara bicaranya yang khas.

Fatih dan Rumi empat tahun yang lalu ikut mengantarkan kepergianku ke Jepang. Pada hari itu juga terakhir kali aku berjumpa dengan Rumi. Aku penasaran untuk melihat keadaannya saat ini.

XXXXX

Kereta datang tepat waktu. Kurang lebih 15 menit setelah pengumuman kereta datang, kami langsung melihat sosok Rumi. Mukanya terlihat lelah, namun berusaha tetap tersenyum saat kami melambaikan tangan padanya.

“Bagaimana perjalananmu?” Tanyaku.

“Melelahkan, menyenangkan, membosankan. Sudahlah tak usah dibahas. Bagaimana kabarmu? Kerasan di Jepang?”

“Ya seperti biasa, masih dengan riset-riset yang membosankan itu, Rum,” Fatih tiba-tiba menimpali.

Rumi hanya tersenyum mendengar celotehan Fatih. “Cerita-ceritamu di Jepang sungguh membuatku ingin ke Jepang. Sepertinya lebih menarik dibanding Norwegia.”

“Ketika ke wisudaku nanti kalian harus datang loh. Bukan perkara sulit kan bagi kalian? Ongkos ke Jepang hanya sepersekian persen dari penghasilan yang kalian dapat tiap hari, tinggal kalian mau atau tidak saja”

Insya Allah,” jawab Fatih dan Rumi hampir bersamaan.

Kami langsung membawa barang bawaan Rumi. Sebelumnya, Fatih sempat menawarkan Rumi untuk menginap di rumah kakaknya di dekat Malioboro. Tetapi, Rumi sudah memesan sebuah kamar di hotel sebelumnya. “Sudah dibayar full,” ujarnya saat Fatih kembali menawarkan penginapan.

Hari ini, kami habiskan untuk melepaskan rasa rindu. Diskusi-diskusi yang sering kami lakukan dulu pun terjadi kembali. Ah, betapanya rindunya aku masa-masa itu.

“Bagaimana riset-risetmu, Fan?” Tanya Rumi

“Akhir-akhir ini memang agak mandeg. Aku masih kekurangan beberapa hal untuk menyempurnakannya. Izin kemari saja susah payah kudapatkan. Aku harus menginap di kampus selama seminggu penuh. Pulang ke flat hanya buat mandi. Alhamdulillah, sudah menunjukkan progress yang baik,” jawabku

“Bagaimana kerjaanmu, Rum?” Tanyaku balik pada Rumi.

“Sedang sibuk-sibuknya. Pameran seni masih dua bulan lagi, tetapi karya-karya yang ada harus aku seleksi dari sekarang. Sekarang sedang jamannya perkembangan seni ya, biasanya aku bisa menyeleksi karya-karya dua minggu sebelum pameran. Sekarang, karya yang diajukan banyak sekali. Mau tak mau harus diseleksi dari sekarang. Tapi, aku senang, karya-karya yang diajukan bagus-bagus,” jawabnya penuh antusias.

“Wah, keren ya! Sejujurnya dulu aku sempat meremehkan pekerjaanmu itu loh, Rum. Tetapi setelah melihatmu berkecimpung di dunia seni, ternyata semua penilaianku terhadap itu salah besar,” ujar Fatih.

“Ya, aku ingat ketika aku beritahu pada kalian ketika aku memilih pekerjaan ini. Kamu langsung bilang ‘sarjana teknik kok kerja jadi kurator seni?’ Buktinya aku berhasil,” kata Rumi penuh kebanggaan.

“Iya iya,” kata Fatih dengan nada khasnya.

Alhamdulillah kalau begitu. Tih, ceritakan dong tentang calon istrimu,” ujarku sambil melihat Fatih.

Sambil menarik nafas dalam-dalam, Fatih memulai ceritanya, “Dia salah satu guru ngaji anak-anak di Masjid Gede Yogyakarta. Pertemuannya agak unik, aku melihat anak kecil terjatuh dari sepeda. Aku menolongnya, lalu mengantarkannya menuju Masjid Gede. Disanalah, aku pertama kali melihatnya. Aku kembali bertemu dengannya saat mengadakan meeting dengan salah satu partner bisnisku. Ternyata, dia salah satu adik dari partner bisnisku. Ketika mengetahui hal itu, aku langsung saja menghubungi partner bisnisku untuk mengetahui hal yang lebih jauh tentangnya. Cerita-cerita itu membuatku yakin untuk menjadikannya separuh hidupku. Dua bulan yang lalu, aku langsung menemui orang tuanya untuk memberi tahu keinginanku menikah dengannya. Alhamdulillah, tak perlu menunggu lama agar lamaranku diterima.”

Aku bisa melihat kebahagiaan itu melalui wajahnya. Rasanya, aku seperti tidak sedang melihat Fatih. Saat ini, Fatih yang selalu banyak main dalam setiap hal sudah lama menghilang.

Tak terasa, langit sudah mulai gelap. Itu pertanda untuk kami agar segera menyelesaikan diskusi yang menyenangkan ini. Sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa cukup atas apa yang sudah diberi.

Ya, itu yang kurasakan. Aku merasa waktu terlalu cepat berlalu. Aku masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan kedua sahabatku ini.

Setelah mengantar Rumi ke hotel, Fatih mengajakku untuk mengitari Jogja di malam hari. Walaupun sudah beberapa kali ke Jogja, tak ada rasa bosan yang kurasakan. Jogja selalu memberikan kepuasan bagiku selama ini.

Fatih kembali mengajakku untuk mencoba salah satu tempat makan gudeg terenak se-Jogja. Sembari menunggu pesanan, kami kembali melanjutkan diskusi.

“Aku ragu.” Dua kalimat itu mengejutkanku.

  • view 175