Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 11 April 2018   21:44 WIB
Payung Hitam

Sudah dua minggu hujan terus mengguyur kota ini. Jalanan basah, genangan air di mana-mana, dan tempat cuci sepeda motor jadi banyak pengunjungnya. Orang-orang jadi malas mau keluar, bahkan hanya untuk membuka pintu. Tapi kehidupan tak akan berhenti hanya karena hujan bukan, ada sesuatu yang harus dibayar, sesuatu yang harus dikerjakan, ada banyak hal yang memaksa mereka harus keluar meskipun seluruh ototnya menolak habis-habisan. Maka bergeraklah mereka di tengah hujan dengan berbagai macam umpatan karena genangan air yang bercampur tanah itu telah membasahi sepatunya yang akan ia gunakan untuk rapat hari ini. Saat musim hujan, musim kemarau bagai calon pengantin yang di tunggu kedatangannya, begitu juga sebaliknya. Aku menyimpulkan, manusia dan segala macam keinginannya adalah sesuatu yang terlalu berlebihan.

Benda itu masih berdiri kaku di pojok rumahku, tidak ada yang aneh dengan bentuknya. Tapi hitam mungkin sedikit pilihan warna yang menyeramkan, aku baru menyadari kalau seluruh payung ini berwarna hitam, mulai dari kanopi, besi dan gagangya semuanya berwarna hitam, dan pekat. Aku tidak begitu mengenali si pemilik payung ini, aku mencoba mengingat kembali, tapi yang tergambar hanya seorang laki-laki, tingginya sekitar 180 cm, rambutnya berwarna hitam dan wajahnya, dia sudah menjauh sebelum aku mengenali wajahnya. Sempat terpikir aku akan membuang payung itu, tapi melihat bagaimana dia sudah mau mengorbankan dirinya basah kuyup, aku jadi tidak tega, bagaimana jika dia membutuhkan payungnya, bagaiman jika payung ini berharga. Maka cara satu-satunya untuk mengembalikan payung ini yaitu menunggu di tempat yang sama dan berharap dia bisa mengenali payungnya, aku harap.

Sudah dua minggu aku melakukan hal itu, tapi yang aku temui hanya orang yang berlalu-lalang. Hal baiknya bagiku adalah dua minggun ini hujan turun, jadi aku tidak terlalu bosan menunggu. Tapi pada waktu tertentu aku berpikir, apakah orang ini sengaja memberikanku payung, ataukah dia seorang pembuat payung, atau dia hanya turis yang kebetulan lewat, apakah dia mengalami hal buruk, apakah dia kriminal, jangan-jangan payung ini adalah curian. Aku ingin berhenti berdiri di sana, menunggu entah siapa, mengorbankan 2 jam waktuku hanya untuk berharap akan ada seseorang yang mengakui payung ini, siapa pun. Tapi tiap kali aku ingin berhenti, perasaan ingin tahu yang muncul entah dari mana tiba-tiba datang, aku ingin tahu seperti apa dia, kenapa dia melakukan ini, aku ingin tahu tinggi sebenarnya, wajahnya, warna rambutnya, bahkan wana matanya.

Aku penasaran, apakah aku sedang jatuh cinta.

***

Jalan-jalan sangat sepi malam ini, padahal sebelum musim hujan di jam seperti ini masih banyak orang-orang yang bersantai dan mengobrol di depan rumahnya, menyaksikan anak-anak mereka tumbuh dan berlarian, atau tamu yang sedang berkunjung ke rumah saudara, teman, atau kekasihnya, terkadang beberapa komunitas terlihat sedang mengadakan pertemuan. Tapi malam ini benar-benar sepi, bahkan lampu jalan yang biasanya menerangi tiap malam kali ini mati, hujan benar-benar membunuh mereka dalam lelap, apakah hujan juga telah membunuhnya?

Pertama kalinya dalam hidup, aku ingin hujan ini berhenti untuk satu hari saja, mungkin dia akan melihat payung miliknya, mungkin aku akan bisa melihatnya dengan jelas, mungkin kita bisa bertemu.

Hujan ini tetap sama saat aku menyentuhnya.

"Aku mohon.. berhenti" bisikku.

 

 

Bersambung...

Karya : Ainun Nafhah