Pagi Riang di Pembuangan Sampah

F. Nurul Istiqamah
Karya F. Nurul Istiqamah Kategori Renungan
dipublikasikan 14 September 2016
Pagi Riang di Pembuangan Sampah

Aroma yang kurang nyaman menyeruak, menusuk-nusuk indera pembau. Iya, beberapa hasta ke depan kita akan menemukan tempat pembuangan sampah. Tempat itu tak jauh dari jalan raya. Pada pagi hari, saat melewatinya sebelum berangkat beraktivitas, sebagian orang memilih singgah untuk membuang sendiri sampah mereka. Karena menunggu petugas kebersihan mengambil sampah-sampah yang diserak di depan rumah, akan butuh berhari-hari. Itu sama saja dengan menyengaja menyimpan sumber bau yang menyakiti pemilik hidung di sekitarnya.

Umumnya tempat pembuangan sampah, kita akan menemukan beberapa pemulung di sana. Mereka mengais barang-barang bekas yang memungkinkan menghasilkan pundi-pundi rupiah. Ada yang menarik dari pemandangan di sekitar pembuangan sampah itu. Segerombolan anak usia sekolah, yang nampaknya anak para pemulung, berdiri menunggu para pengendara yang akan membuang sampah. Mereka bergegas lari saat melihat motor atau mobil yang bersiap singgah membuang sampah. Mereka menyambut antusias sampah-sampah yang ada, kemudian bersama-sama menyortir barang bekas yang ada nilai jualnya atau mengunyah sisa makanan yang masih layak menurut indera mereka.

Kehadiran segerombolan anak pemulung itu cukup membantu. Tak hanya bagi orang tua mereka, juga bagi para pengendara yang ingin membuang sampah. Mereka menjadi perpanjangan tangan kedua belah pihak. Bagi orang tua, kerjasama itu tak perlu menyusahkan mereka untuk mengambil langsung sampah itu dari bekas pemiliknya. Bagi pengendara, mereka tak perlu repot-repot turun dari kendaraan sambil menutup hidung dengan sangat rapat. Mereka dapat kembali beraktivitas tanpa bau apapun menempel.

Kerja segerombolan anak itu cepat. Mereka bersegera dan tampak sangat antusias. Bahkan seperti berkompetisi diselingi tawa. Ada pengendara yang mengulurkan rupiah ke mereka, namun banyak pula yang merasa tak perlu memberikannya. Tapi di luar itu semua, mereka telah melakukan tugasnya dengan baik. Tanpa disadari, mereka telah memudahkan urusan banyak orang.

Ah, bahkan di tempat yang “sebusuk” itu, mereka riang tertawa, mereka ringan membantu, mereka lincah membaca peluang kebaikan. Tak mengeluh. Bahkan di tempat yang sebagian besar orang menyimpan barang yang tidak pernah lagi ingin mereka miliki, mereka justru mencari-cari apapun yang dapat menghidupi mereka. Tak mengeluh. Bahkan di tempat yang orang-orang menyumpahi baunya berkilo-kilo meter dari sumber bau, mereka malah saling bercanda, riang berbagi, seolah bau itu adalah udara yang memang selayaknya dihirup. Tak mengeluh.

Mereka memang tak sekolah, bahkan mungkin sekolah menjadi barang yang terlalu mewah untuk dicita-citakan. Tapi mereka bisa jadi guru berharga bagi kita. Bahwa tidakkah hidup kita lebih baik dari mereka, setidaknya kita tak pernah berkawan dengan gunungan sampah. Bahwa mereka baik-baik saja berada dan tumbuh di tempat yang tak pernah sudi bahkan untuk kita bayangkan. Bahwa mereka tak mengeluh meski yang didapat serba sisa, serba bekas.

Mungkin begitu cara mereka mensyukuri kesempatan hidup yang diberikan. Atau memang dalam kapasitas mereka, itulah cara terbaik menjalani hidup. Sedang kita dengan segala hal yang bahkan tak berani mereka impikan, sudahkah seriang pagi mereka? Sudahkah selincah lari mereka? Sudahkah seantusias kerja mereka? Sudahkah seringan bantuan mereka? Sudahkah sebahagia hari mereka? Ah, entahlah. Semoga iya.

Kota Daeng, 260416

  • view 188