Bait Cinta Puisi Pegon

fly yuly
Karya fly yuly Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Mei 2016
Bait Cinta Puisi Pegon

Semilir angin yang menderu membuatku terus khusyu' mengeja setiap huruf yang ada di secarik kertas yang kupegang erat. Kali ini aku tak memedulikan pemandangan di sekitar. Semburat jingga yang cantik seperti biasa. Aku sedang tidak peduli. Seluruh pikiranku hanya terfokus pada tulisan yang sedang kubaca. Aku terbiasa untuk membaca huruf Arab yang ada pada Alquran, namun tulisan ini berbeda. Memang berupa tulisan arab, namun tak biasa. Meski ada tanda baca, namun aku masih agak kesulitan membacanya. baru beberapa larik yang mampu kubaca, dan itu sudah membuatku menahan napas.

Aku mencoba mencari, ternyata itu adalah bait-bait puisi yang kau tulis dengan huruf pegon. Sekiranya aku bisa memahamimu jauh-jauh hari. Sekiranya, kau memiliki keberanian untuk sekedar menyapa. Sekiranya kau memiliki keberanian untuk memberikan kertas ini sebelum tahun lalu berakhir. Ahh, semuanya tak akan pernah lagi sama. Aku meremas kertas usang itu lalu melempar sembarangan. Dalam dada yang dipenuhi rasa sesak, aku mencoba bersembunyi dari rasa yang seharusnya tak lagi kuulang. Kau, tak seharusnya lagi datang. Membawa setangkai kenangan yang dulu pernah kau koyak percuma. Aku yang pernah memintamu untuk membuktikannya, namun kau hanya membisu. Hingga aku memutuskan untuk pergi. Bukan tanpa alasan, kaulah alasan mengapa aku pergi. Aku tak bisa terus memaksakan semua ini berlanjut. Aku tak bisa berjuang sendirian, sedang engkau hanya diam sembari menulis bait-bait puisi pegon serupa ini. Cinta, tak hanya sebatas larik-larik kata, sebab ia butuh diwujudkan dalam akad yang nyata. Dan kau tak pernah berjuang untuk mewujudkannya.

Aku mngusap wajahku yang pias. Adzan maghrib berkumandang, aku memutuskan untuk pergi dari gubuk tua. Juga darimu. Dan tak akan pernah kembali. Selamanya.

 

"Aku mencintaimu, serupa aksara yang melekat erat pada kata

Ia berjejalan, berbaris rapi dalam untaian kata yang sedang kususun dalam bait

Serupa angin yang menggoyangkan dedaunan,

maka aku adalah pohon yang akan tetap kuat meski angin menempaku dengan sangat dahsyat

Aku, masih di sini, dalam rangkaian larik puisi ini, mencintaimu"

 

  • view 996