Sudah Islamkah Diriku?

Fitri Rachmawati
Karya Fitri Rachmawati Kategori Agama
dipublikasikan 09 Februari 2016
Sudah Islamkah Diriku?

Sudah Islamkah diriku?

Oleh: Fitri Rachmawati

?

Ada setumpuk pertanyaan yang berlarian diotakku. Mengusik batinku sejak semalaman tadi.

?

Sudah Islamkah diriku? Atau hanya sebatas identitas? Apakah selama ini hidupku sudah sesuai dengan syariat Islam? Bagaimana dengan ibadah-ibadahku? Adakah yang diterima?

?

Aku mulai merenung..? Memutar kembali semua memori ibadahku sejauh ku bisa.

?

Selama ini.. Aku merasa sudah taat.

?

Lima waktu selalu ku tunaikan walau seringnya aku menunda hingga diakhir waktu. "Yang penting sholat"? selalu seperti itu pikirku.

Aku selalu melaksanakan puasa dibulan Ramadhan, bahkan aku rajin bertilawah dan tarawih di bulan mulia itu. Tetapi rupanya terselip niatku untuk dilihat orang lain, terutama dia, seseorang yang belum halal yang sangat aku sayangi, dengan harapan dia akan termotivasi dan lebih rajin dariku.?Namun ketika Ramadhan pergi, aku seolah-olah menangisi kepergiannya, berharap Ramadhan akan tetap disini agar aku tak meninggalkan tilawahku.

Benar saja, kepergian Ramadhan membuat tilawahku semakin kendur dan tak mampu lagi khatam dalam 1 bulan, 2 bulan, bahkan sampai Ramadhan itu hadir kembali.

Aku juga jarang meninggalkan puasa senin kamisku. Namun rupanya masih terselip ujub dihatiku, apalagi dikala tidak bangun sahur dan aku tetap menjalankannya. Ada pula secuil riya dihatiku agar lelaki kesayanganku yang belum halal itu tau dan akhirnya ikut berpuasa.

?

Itukah Islamku yang sesungguhnya? Sudah Islamkah diriku??

?

Tak terasa butiran air mata ini keluar dari kelopaknya, tak beraturan iramanya.

?

Batinku mulai berperang.

?

(+) "Bagaimana bisa dikatakan taat sedangkan maksiat masih berjalan!"? batinku mulai menyatakan kebenarannya.

?

"Lelaki itu!

Dia sering membelokkan niatku, bahkan tak jarang aku melalaikan kewajibanku karenanya..

Dia penghalang ke khusyu'anku..

Dan itu berarti, aku juga penghalang kekhusyu'annya!

?

Tak mungkin bisa ketaatan sejalan dengan kemaksiatan!"

?

(-) "Namun bagaimana jika pacaran tapi tidak bersentuhan?"? batinku mulai tergoyah

?

(+) "Pacaran adalah aktivitas maksiat, meskipun berusaha tidak bersentuhan, bukankah hati dan pikiranmu akan tetap berzina? Ibadahmu tidak akan bisa khusyu'."

?

(-) "Bagaiman jika tidak bertemu? Hanya sebatas smsan, chatting dan telpon?"

?

(+) "Apapun bentuknya tetap dilarang! Kamu akan tetap lalai dari-Nya."

?

(-) "Tapi aku menyayanginya, terlebih lagi dia terhadapku. Banyak perubahan positif didirinya atas doronganku, keluarganya pun sangat menyukaiku. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya?"? hatiku mulai tersayat, perih

?

(+) "Tapi bagaimana dengan orangtuamu? Berapa banyak lagi dosa yang akan kau tanam untuk mereka?"

?

(-) "Aku mengerti, tapi aku khawatir dia akan sangat terluka dan berubah seperti dulu."

?

(+) "Allah akan menyembuhkannya, begitu juga lukamu. Ada atau tanpa kamu, jika Allah menghendaki hidayah kepadanya, dia akan tetap menjadi baik dan akan semakin baik. Hidayah itu milik Allah bukan milikmu."

?

(-) "Tapi......."

?

(+) "Diriku, ku mohon berhentilah mencari celah, ku mohon berhenti memikirkan cara agar gaya pacaranmu dihalalkan Allah.

?

Allah melarangnya, Allah melarang hamba-Nya mendekati zina, dan pacaran adalah bentuk pendekatan dari zina. Titik. Tidak ada toleransi lagi.

?

Sekarang, bukalah Al-qur'an terjemahan cokelat mudamu yang kau letakkan di lemari kamarmu itu, carilah surat Al-Israa' ayat 32, kemudian bacalah.

?

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk."

?

Sudah paham?

?

Sejak berabad-abad yang lalu Allah telah sangat jelas melarangnya. Jika ingin pacaranmu dihalalkan, menikahlah dahulu. Hanya itu solusinya.

?

Wahai diriku.. Sudah cukup ya. Kalahkan hawa nafsumu. Rasakan betapa Allah sangat mencintaimu.. Cinta-Nya padamu jauh melebihi cinta dia kepadamu..

?

Allah yang berimu kehidupan, bukan dia..

Allah yang berimu kebahagiaan, bukan dia..

Allah yang bisa wujudkan harapanmu, bukan dia..

Allah yang bisa kau andalkan, bukan dia..

Allah yang bisa kabulkan doamu, bukan dia..

Begitu pula..

Allah yang beri dia kehidupan, bukan kamu..

Allah yang beri dia kebahagiaan, bukan kamu..

Allah yang bisa wujudkan harapannya, bukan kamu..

Allah yang bisa dia andalkan, bukan kamu..

Allah yang bisa kabulkan doanya, bukan kamu..

?

Berhentilah menyakiti-Nya dengan mendekati larangan-Nya, dengan menduakan-Nya. Jangan sampai pacaranmu mengundang murka-Nya yang menjadikan hidupmu jauh dari keberkahan.

?

Pernah dengar kan sabda Rasulullah SAW "Jika kamu meninggalkan sesuatu karena Allah Ta'Ala, niscaya Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik bagimu?"

?

Percayalah dengan janji-Nya, hidupmu dan hidupnya akan jauh lebih baik tanpa pacaran..

?

Hijrahlah..

Tinggalkan kekasih tak halalmu..

Tutuplah auratmu..

Perbaiki segala niat ibadahmu..

Lakukan karena Allah..

Lakukan sekarang, tanpa tapi..

Jangan biarkan bisikan syaitan berhasil mengurungkan niat baikmu..

?

Sekarang, hapuslah air matamu dan rasakan di 'Arsy sana Allah tersenyum lebar melihat niat baikmu, Allah sangat merindukanmu.."