Jarak dan Aldi

Fitri Wahyuni
Karya Fitri Wahyuni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Juli 2017
Jarak dan Aldi

Jarak dan Aldi
Kenangan, lagi. Seperti diksi yang luar biasa picisan, terlalu sering diucapkan dan seakan diagung-agungkan oleh sebagian orang yang dimabuk oleh rasa. Kadang sepasang kekasih pun bisa mengorbankan apa saja untuk sesuatu yang disebut picisan itu. Bahkan bodohnya, saat ini aku masih juga terpaku dengan yang namanya kenangan. Membuka tiap lembar demi lembar halaman kebersamaanku dengannya, Aldi.
Sudah satu jam lamanya aku dan dia duduk di kursi ini. tempat pertama kali kami bertemu, menghabiskan berjam-jam untuk sekedar saling bercerita dan lebih mengenal diri masing-masing. hingga pada suatu hari dia menyatakan perasaan yang dia sebut dengan “cinta” itu padaku. Dan dengan begitu percayanya, aku setuju untuk menitipkan nyaris semua hatiku padanya. Membiarkan begitu saja hatiku dibawa pergi jauh bersama janji-janji yang dia ungkapkan. Entahlah, aku tak bisa mengungkapkan bagaimana mulanya “perasaan” itu tumbuh begitu saja. Mata coklat terang, suara beratnya, serta kumis yang bertengger tipis tapi begitu manis itu mampu menjungkir balikkan duniaku.
Kutatap lagi undangan yang kini berada di genggamanku dengan eratnya. Nyaris saja jatuh airmata yang sedari tadi kutahan. Kuhembuskan kasar nafasku sehingga membuatnya menoleh menatap wajahku. “Na, sekali lagi maafkan aku.” ucapnya dengan raut muka gusar. Kutatap lagi lekat-lekat mata yang membuatku jatuh cinta itu, menikmati setiap kedipan tajamnya yang setelah ini mungkin tak akan bisa kujumpai lagi. Hembusan lembut angin menerbangkan anak-anak rambut di sekitar wajahku, bersamanya pula turut terbang segala angan masa depanku bersamanya.
“Bolehkah aku pergi?” tanyaku dengan suara yang kubuat setenang mungkin. “tunggu dulu Na, tunggu sebentar lagi. Tunggulah sampai senja usai dan kau boleh meningalkanku sendiri.” Pintanya dengan suara khasnya yang bahkan mampu membuatku tak beranjak dari kursi. Kupandangi sekitar, rerumputan hijau ditemani kilau warna senja yang menenangkan. Semua masih sama seperti dulu, tempat ini. hanya saja kini ceritaku bersamanya yang telah usai. 
“Kau tahu bagaimana rasanya menjadi diriku, Di? Ketika berusaha sekuat mungkin menjaga, namun yang dijaga malah dengan begitu mudahnya melepaskan?” dia hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaanku. Menunduk dalam dan meremas ibu jari tangannya. Oh aku begitu mengerti kebiasaannya yang satu itu selalu ia lakukan ketika sedang kehabisan kata-kata. Kau tahu? Sungguh menyakitkan rasanya ketika ada orang yang meminta hatimu dan berjanji akan menjaganya, namun ia mengembalikannya dalam keadaan rusak parah. Itu yang sekarang kualami.
“Maaf Na, aku tak bisa menepati semua janjiku padamu. Maaf juga karena telah dengan begitu teganya meninggalkanmu. Memutuskan hubungan kita hanya melalui pesan telepon seluler,” katanya dengan wajah mengiba.
“Na, yang perlu kamu yakini adalah waktu yang akan menyembuhkan luka di hatimu. Kelak kau akan bertemu dengan lelaki yang lebih baik dariku, segalanya,” dia mencoba tersenyum.
Jarak. Sebuah kata yang dulunya begitu kuyakini diciptakan untuk diperjuangkan. Sepanjang jarak membentang, akan selalu ada cerita tentang wanita kesepian yang dengan angkuhnya berusaha terlihat tegar. Menanti kabar dari seseorang di seberang sana yang memenuhi seluruh rongga hatinya. Sepanjang jarak membentang, akan ada perjuangan tentang seseorang yang dimabuk cinta. Mengagung-agungkan rindu dan penantian. Sepanjang jarak membentang pula akan ada kisah tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Kemudian membekas jadi lara dan sakit hati.
Apakah kau tahu rasanya merindukan tanpa batas, yang selalu berusaha kutuangkan lewat kalimat-kalimat dalam pesan singkat? Setiap hari dengan tanpa lelahnya aku selalu mengirimkan pesan singkat kepada Aldi walau hanya sebatas perhatian kecil. Aldi, jangan lupa makan. Selamat beraktifitas Aldi, tetap semangat ya! Dan masih banyak hal lainnya. Bahkan tak pernah lelah meski pesanku hanya sekedar dibaca tanpa ada balasan darinya.
Oh aku sangat ingat, saat bagaimana jarak dengan tega mulai merenggut rasa itu dari hatinya. Membuat segalanya sia-sia. Mempertemukan Aldi dengan sosok perempuan yang katanya, begitu dia idam-idamkan. Memiliki segala hal yang tidak ada pada diriku. Pribadi ceria dan mampu membuatnya bahagia. Bukan sepertiku yang bertele-tele dan sok romantis, menurutnya.
Lihat? Betapa jarak dengan hebatnya mampu mengubah sudut pandang penilaian seseorang dengan sangat mudahnya! Aku yang mendampingi Aldi dari pertengahan semester kuliah, hingga dia mulai menggapai karir. Namun, di tengah usahanya bekerja dia harus dipindah tugaskan ke luar kota. Hingga akhirnya muncullah jarak di antara kami. hari-hariku dan Aldi, dengan “jarak” tentunya, berjalan seperti biasa selama kurang lebih 5 bulan. Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang hadir di antara kami, yang akupun tak tahu seperti apa kejadiannya hingga hanya dalam hitungan hari saja dia bisa membuat Aldi-ku berpaling.
Aku tak mengerti apa saja yang diperbuat perempuan itu disana, namun yang ku yakini adalah bahwa kebersamaan bisa merubah segalanya. apalah artinya saling mencintai bila ketemu saja sulit sekai. Hingga pada suatu hari, Aldi menghilang. Tanpa kabar sedikitpun. Selama beberapa hari, akupun sempat panik dan kebingungan mencari kabar tentangnya. Tak satupun pesan yang kukirim mendapatkan balasan, teleponku juga tak pernah diangkat. Tapi lagi-lagi, dengan naifnya aku berusaha meyakinkan pada diriku bahwa mungkin dia sedang berada di tempat yang susah jaringan.
Suatu ketika ketika aku sedang menatap rintik hujan yang jatuh membelai bumi di tengah jingga cahaya senja, handphoneku berdering menandakan satu pesan yang masuk. Dengan cepatnya kuraih handphone dan tersenyum begitu melihat nama “Aldiku” yang tampak pada layar. Namun, tahukah kalian alangkah terkejutnya aku ketika melihat isi pesan yang dikirimkan olehnya. Dia mengatakan bahwa sudah tak bisa melanjutkan hubungannya denganku, dia mengatakan bahwa dalam hatinya sudah tak lagi terdapat namaku, sudah bukan. Sudah ada perempuan lain disana yang jauh lebih baik dariku, mengisi tiap rongga-rongga kosong hatinya.
Kupandangi lagi mata coklat terangnya, dengan sedikit keberanian yang kumiliki aku berkata”Di, tahukah kamu? Saat kau begitu saja meninggalkanku, aku masih tak mampu untuk membencimu. Bahkan, tak sedikitpun berkurang rasa itu dari hatiku. Sebelum kamu meminta maafpun aku telah lebih dulu memaafkanmu. Hanya saja...” kalimatku menggantung di udara. Kutarik dalam-dalam nafasku, runtuh sudah pertahananku. Buliran air yang sedari tadi kutahanpun kini jatuh juga. Dia masih tetap diam memperhatikanku dalam-dalam. “Hanya saja Aldi, pahamilah bahwa hati perempuan itu sangat rapuh. Sekali dihancurkan tak akan mudah untuk kembali utuh lagi. Tolong, cukup aku saja yang merasakan sakitnya dihianati. Semoga kalian berbahagia, tapi maaf aku tidak akan datang.” Kataku seraya beranjak pergi dari tempat dudukku.
Selamat tinggal senja, ilalang, dan rel kereta yang nyaris sudah seperti tempat persinggahanku selama ini. Suduk menatap senja dari balik ilalang yang lebat sambil mengingat kenangan antara aku dan dia. Sesekali sambil tersenyum ketika teringat kenangan manis yang pernah aku lalui bersamanya. Selamat tinggal Aldi, memang tak mudah bagiku melupakanmu begitu saja. Namun, kehidupan harus tetap berjalan dengan atau tanpa dirimu. Kali ini, aku harus benar-benar membunuh dengan tega tiap kerinduan yang datang. Memangkas dengan kejamnya tiap ingatan yang berlalu-lalang. Mungkin benar kata Aldi, hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka di hati. Dan hanya orang baru dengan hati yang baru pula yang mampu memperbaiki kerusakan di hati.
Dear, Aldi
Mungkinkah pada akhirnya kita bertemu di persimpangan jalan itu? atau pada pelabuhan yang menggoda untuk disinggahi? Bermain dengan karang yang tegar, dandesah angin membelai mesra helaian rambut yang jatuh di tiap kali kusebut namamu. Kemudian  pasir-pasir laut bersisisan menuju ke laut bersama ombak yang membawanya pada kedalaman palung rindu.
Aldi, adakah yang lebih resah dari hujan di penghujung senja? Manakala tetesan air di sela jemarinya harus terenggut oleh malam. Adakah yang lebih masam dari hempasan ombak kepada karang yang menjadikannya hancur? Manakala datangnya bersamaan dengan butiran pasir penebar asam. Pastilah cintaku, jika dengan ranumnya terus mendesirkan detik dan menit penantian. Pastilah cintaku, jika dengan resah menuju detak jantungmu di ruang berbeda. Pastilah cintaku, yang segigih karang dan sekarang harus roboh karena terpaan angin malam.
Selamat tinggal Aldi.
 

  • view 33