Tiramisu Terakhir

Fitriane Lestari
Karya Fitriane Lestari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Oktober 2016
Tiramisu Terakhir

Sepotong Tiramisu yang ada di depanku ini, yang kubeli dari toko Bakery sudut jalan, adalah sepotong tiramisu terakhir yang kau inginkan sebelum kepergianmu. Kau bahkan belum sempat memakannya, tentu saja ini salahku sayang. Saat itu aku begitu egoisnya dengan tidak langsung memenuhi keinginanmu untuk membelinya. Aku tidak pernah menyangka bahwa itu adalah keinginan terakhirmu, maafkan aku sayang.

Kepergianmu yang tak terduga jelas mengagetkan begitu banyak orang, tak terkecuali aku yang melewatkan sepanjang malam denganmu. Masih jelas dalam ingatan kau yang tidur dalam dekapanku dan lalu berkata terima kasih karena aku telah menjadi pendamping dan menjadi ayah dari anak-anakmu. Sepanjang malam itu kau tidak tidur, kau lebih cerewet dari biasanya, banyak bercerita tentang anak-anak, tentang kebersamaan kita selama ini. Kau juga bilang bahwa kau begitu bangga dengan kehidupan yang sudah kau jalani. Bukan karena semata-mata kau telah menjadi artis terkenal dan berbakat, menjadi salah satu artis legenda di negeri ini. Bukan itu yang kau banggakan, juga bukan itu yang kau ceritakan. Kau justru merasa sangat bangga menjadi istri dari seorang dosen sepertiku.

Tapi, dari sekian banyak kisah yang sudah aku lewati bersamamu, selama 45 tahun perjalanan pernikahan denganmu tidak ada satu pun penyesalan dalam hidupku. Aku tidak pernah merasa direndahkan olehmu, Seorang Anggita Maharani sang artis besar hanya bersuamikan seorang dosen. Aku tidak pernah malu karena kau pun juga tidak pernah malu mengakui pada dunia siapa suamimu. Kau tetap setia menjadi pendampingku meski aku tahu ada begitu banyak godaan di depanmu. Tentu saja ada begitu banyak laki-laki yang menginginkanmu apalagi mereka tahu aku hanyalah seorang dosen dengan gaji yang tidak bisa dibandingkan dengan penghasilanmu atau dengan harta para pengusaha kaya yang mengejarmu. Hingga usia senja kita, bahkan saat-saat terakhirmu kau habiskan waktu hanya untukku, dalam dekapku kau pergi dengan tenang. Aku menyadari satu hal, ternyata Tuhan begitu menyayangimu hingga memanggilmu lebih dulu.

Tanah merah masih juga basah, berpuluh-puluh karangan bunga memenuhi halaman rumah dan pemakaman, orang-orang dan semua yang datang untuk melayat satu persatu kembali pulang. Tinggallah aku duduk di kursi goyang di teras belakang, tempat kita biasa menghabiskan sore, menikmati senja dengan teh manis dan Tiramisu kesukaanmu. Kursi goyang di sebelahku, dingin. Tidak ada lagi kamu duduk di situ, yang ada hanya aku dan sepotong Tiramisu terakhirmu.

***

'Ne

-gambar milik seorang teman @capucinnored dari Bandung

  • view 166