Di Tiga Puluh Enam Tahun Usiamu

Fitriane Lestari
Karya Fitriane Lestari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 September 2016
Di Tiga Puluh Enam Tahun Usiamu

Untuk Suamiku

Tiga puluh enam tahun yang lalu, kamulah laki-laki pertama yang terlahir dari rahim ibumu. Aku yakin saat itu betapa bersuka citanya Bapak dan Ibu menyambut kehadiranmu, juga kedua kakak perempuanmu. Besar harapan mereka terhadapmu untuk tumbuh menjadi putra yang membanggakan. Teriring doa dan harapan yang mereka sematkan di dalam nama yang mereka berikan untukmu, Wachyu Widodo. Barangkali mereka berharap kamu menjadi seorang lelaki yang mampu membawa pengaruh yang baik, bijaksana dan teguh pendirian pada hal-hal yang benar.

Benar adanya kini kau menjadi lelaki yang membawa kebaikan dan kebahagiaan terutama bagiku secara pribadi, dan semoga bagi keluarga kita nanti. Tidak ada penyesalan sedikitpun kenapa aku memilihmu menjadi imamku. Kamulah yang menunjukkanku jalan untuk menjadi lebih baik. Bukan hanya sebagai perempuan, tapi juga sebagai anak, sebagai istri dan ibu bagi anak-anak kita. Dengan caramu kamu mengajarkanku banyak hal, bahkan soal memasak di dapur kamu jauh lebih pandai dari aku.

Aku  tidak ingin melihat lagi siapa kamu di masa lalu, tapi yang terpenting adalah siapa kamu sekarang. Kamu adalah suami yang bertanggung jawab, penuh kasih sayang pada keluarga, seorang papa yang sangat menyayangi anak-anak. Jangan pernah merasa rendah diri, karena bagi kami (aku dan anak-anak) kamu adalah segalanya.

Segalanya bisa berubah, begitu juga dengan kebiasaanmu yang dulu. Kamu yang perokok, bahkan setelah kita menikah kamu masih merokok, tapi sudah hampir dua tahun ini kamu berhenti melakukannya. Tidak pernah ada larangan dariku, meski aku tidak pernah menyukainya. Kamu juga tidak pernah lagi bermain musik, meski aku pun tidak pernah melarangmu juga. Semenjak anak kita lahir, kamu berhenti menjadi drummer. Dulu aku sering menemanimu latihan, menemanimu manggung dan sering ditinggal latihan hingga dini hari. Membiasakan telingaku untuk mendengarkan musik Trash Metalmu, dan aku tidak pernah melarangmu melakukannya, meski kini kamu lebih memilih langsung pulang ke rumah setelah kerja sampai akhirnya mengundurkan diri bermusik meski bukan berarti berhenti menyukainya. Apakah setiap lelaki bisa berubah setelah menikah? dan keluarga menjadi lebih prioritas dibandingkan kepentingan dan kesenangan sendiri? yah barangkali.

Barangkali itulah bentuk kecintaanmu terhadap keluargamu, karena berkumpul bersama dengan keluarga, bercanda dengan anak-anak adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun bukan? dan di tiga puluh enam tahun usiamu kini,  hanya doa-doa yang senantiasa kupanjatkan untuk segala baikmu. Semoga tiga puluh enam tahun yang sudah terlewati bisa memberikanmu pelajaran hidup yang berharga. Semoga sisa usia kedepan akan semakin berkah dan bermanfaat. Sukses dan kebahagiaan itu kita yang bangun, dan kita akan bersama-sama membangun kebahagiaan versi kita dan sukses versi kita.

Untuk suamiku,

doaku menyertaimu selalu.

_Fitri Ane Lestari_

 

 

 

 

  • view 228