Jingga di Ujung Senja

Fitriane Lestari
Karya Fitriane Lestari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 September 2016
Jingga di Ujung Senja

“Dulu kita pertama kali bertemu di sini ya sayang, sama-sama sedang menghabiskan sore dan menikmati senja di jembatan Ampera. Ingat tidak, waktu itu kamu sedang memotret suasana di sekitar jembatan, apalagi pada saat matahari mulai tenggelam itu memang momen yang paling menarik untuk di jadikan objek foto”

Lelaki di sampingnya yang diajak bicara pun tersenyum, menerawang namun tatapannya kosong, perempuan itu pun terus saja melanjutkan bicaranya.

“Saat itu aku juga sedang asyik menikmati senja, karena aku memang sangat menyukai langit jingga saat senja. Saking asyiknya sampai aku tidak sadar ada seseorang yang memotretku sejak lama. Hingga akhirnya aku menengokkan kepala dan ternyata kamu pun memandangiku tepat melalui lensa kamera. Aku dan kamu sama-sama tersenyum, malu dan saat itulah si Cupid kecil memanahkan cintanya pada kita berdua, aku dan kamu jatuh cinta”

Bersamaan dengan kata-katanya, perempuan itu menoleh pada lelaki di sampingnya yang sangat dia cintai, tersenyum dan tangannya semakin erat memeluk lengan lelakinya itu. Lelaki itu pun akhirnya tersenyum, namun tatapannya tetap kosong tapi akhirnya dia pun berbicara juga.

“Kamu tahu sayangku, kamu adalah perempuan terindah dalam hidupku, berjuta kata terima kasih pun takkan sanggup mewakili perasaanku padamu. Tapi aku tetap ingin mengatakannya, terima kasih untuk tetap mencintaiku meski kamu sangat mampu untuk meninggalkanku, dan kamu tidak pernah melakukannya, terima kasih untuk tetap memilihku dan bersamaku hingga usia senja kita sekarang. Terima kasih untuk percaya padaku dan menjadikanku satu-satunya lelaki dalam hidupmu, pun hingga detik ini”

Mendengar kata-kata dari lelakinya, perempuan itu pun menangis terharu.

“Karena kamu adalah langit jinggaku dan aku adalah lembayung senjamu, kita akan tetap bersama, sampai salah satu dari kita menutup mata, aku bahkan berdoa semoga aku jugalah bidadarimu di surga nanti”

Perempuan itu mengecup kening lelaki yang sudah menjadi suaminya selama dua puluh lima tahun. Satu-satunya lelaki di hatinya yang dicintai dan mencintainya. Lalu lelaki itu meraba wajah istrinya dan balas mengecup keningnya. Seolah menatap istrinya meski tatapannya tetap saja kosong.

“Terima kasih sekali lagi, karena kamu sudah menggantikanku untuk melihat dunia dan aku melihat dunia yang begitu indah melalui matamu”

“Tentu sayang, bukankah aku sudah berjanji sejak saat itu, sepuluh tahun yang lalu untuk menjadi pengganti matamu melihat indahnya dunia, hingga aku menutup mata”

Sore itu jingga di ujung senja menjadi saksi cinta sejati dari dua hati.

‘Ne..

Gambar dari sini

  • view 258