Lelaki dan Perempuan dalam Imaji

Fitriane Lestari
Karya Fitriane Lestari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 September 2016
Lelaki dan Perempuan dalam Imaji

Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Di kursi seberang  kulihat sepasang kekasih sedang bercengkerama sembari berpegangan tangan. Sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta, indah. Bagaikan bunga yang sedang mekar tak mampu menyembunyikan kecantikannya. Dalam hati aku tersenyum, apakah aku iri? Sama sekali tidak. Aku hanya suka melihatnya.

Kualihkan pandangan ke pintu masuk saat ada seseorang membukanya, tak bisa kusembunyikan kecewa, ternyata masih juga bukan dia. Hampir habis cangkir kopi kedua, dan dia yang kutunggu tak kunjung tiba.

Kutengok Swiss Army di pergelangan tangan kiriku. Sudah satu jam lebih aku menunggu. Setiap detik waktu seolah berpacu seiring degup jantungku. Saat itulah. Kuangkat kepalaku dan kulihat dia membuka pintu, aku terpaku, kaku.

Seketika aku berpura-pura sibuk dengan laptopku yang sejak tadi kuabaikan. Dalam hati riuh riang bukan kepalang. Dia yang kutunggu akhirnya datang.

Kusiapkan diri. Kudengar ketukan sepatunya yang seperti bernada. Mulai kucium aroma yang harum lembut dan sangat khas dirinya. Semakin dekat langkahnya semakin kencang detak jantungku berirama.

Tibalah dia melewatiku, aroma wangi tubuhnya semakin terasa, ayunan langkah kaki bak peragawati. Kulirik dia, kali ini dia mengenakan blus transparan berwarna putih tulang. Jins ketat dengan sepatu berhak lancip setinggi tujuh senti. Apa yang tidak berubah adalah tempat duduk yang dia pilih, selalu kursi di sudut dekat jendela. Aku sudah hapal di luar kepala. Tentang kebiasaannya, wangi parfumnya, sepatu merah berhak lancip dengan tinggi tujuh sentinya.

Biar kutebak, dia akan memesan black coffee sebelum membuka laptopnya. Menyalakan sebatang rokok yang terselip di antara dua jari lentik dan lalu mulai mengetik. Aku -selalu- terkesima.

Alangkah dahsyat pesonanya, menjeratku sejak kali pertama. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku, untuk pertama kali sejak aku menjadi seperti majnun yang tergila pada laila. Dia tersenyum padaku.

Tuhan, akulah yang telah terjerat candu mahadaya, cinta. Akulah yang terjatuh dan tak ingin bangkit dari keindahan yang sekaligus menyakitkan dari cinta. Satu-satunya kejatuhan yang diharapkan dan dinikmati banyak orang, jatuh cinta, dan aku salah satunya.

Tiba-tiba pintu kembali terbuka, seketika kutolehkan kepala. Kuberikan senyum setulus hati pada dia yang sedang melangkah menghampiriku. Dia, yang selama ini mengisi hari-hariku. Mencintaiku dengan penuh kesabaran, dan juga sangat aku cintai.

Dia meminta maaf karena membuatku menunggu. Ah, bagaimana bisa aku marah padanya. Tentu aku tahu dia bukanlah tipe orang akan dengan sengaja membuatku marah ataupun kecewa. Aku begitu menyayanginya.

Sungguh aku sangat mencintai dia yang ada di hadapanku ini, perempuan manis nan sederhana.

Kutolehkan kepala kembali pada kursi di sudut dekat jendela, kosong. Tapi aku tetap bahagia, pada cinta yang nyata adanya.

 

'Ne

*tulisan lama hehe

  • view 200