Kisah Sebuah Rumah

Kisah Sebuah Rumah

Fitriane Lestari
Karya Fitriane Lestari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Kisah Sebuah Rumah

Seharusnya akulah tempat untuk kalian berpulang. Tempat melepas segala penat, dan lelah setelah kalian melewati hari bersama matahari. Seharusnya akulah tempat yang paling nyaman di antara tempat-tempat yang kalian singgahi. Tapi, kenapa kalian hanya menikmati kebersamaan denganku sesaat saja? berangkat pagi dan pulang menjelang berganti hari. Lalu untuk apa kalian bangun aku di atas tanah yang begitu luas. Untuk apa kalian bangun aku dengan material yang berkualitas. Ah apalah gunanya semua itu! jangan kalian pikir aku tidak bisa kesepian. Kalian bangun tembok tinggi agar aku tak terlihat dunia luar, tahukah kalian itu membuatku tidak punya teman. Rasanya aku iri sekali dengan rumah-rumah yang saling berdekatan, bisa saling bercengkerama bahkan sesekali bergosip tentang penghuni masing-masing. Ah lupakan, bukan itu sebenarnya yang aku inginkan. Aku hanya ingin difungsikan selayaknya rumah, sebagai tempat tinggal bukan hanya sekedar pajangan demi gengsi belaka.

Aku hanya ingin kembali seperti dulu saat di mana kalian duduk dan bercengkerama bersama-sama, yah aku sebut ‘kalian’ karena bukan hanya salah satu saja tapi kalian adalah keluarga yang bernaung di dalamku. Aku rindu derap langkah-langkah yang saling berkejaran saat bercanda, aku rindu gema tawa yang membahana tapi penuh kehangatan sebuah keluarga. Duduk bersama di ruang tengahku dan menatap layar yang menyala yang kalian sebut itu Televisi, meski sebenarnya kalian tidak benar-benar menontonnya hanya sekedar menemani kebersamaan kalian. Aku juga rindu saat kalian bersama-sama berada di ruang yang penuh dengan buku-buku, ruangan yang berada di lantai atasku, terkadang kalian berbagi apa yang kalian baca hingga aku bisa mendengarnya dan membuatku tahu banyak hal. Aku juga rindu suara denting sendok-garpu saling beradu dengan piring dan lainnya. Betapa saat itu aku bahagia bisa menghangatkan rasa kekeluargaan dan kenyamanan dalam riuh canda tawa dan tangis haru.

Tapi.. sekarang semua kehangatan itu menguap bahkan tidak meninggalkan jejak. Kalian seolah berubah menjadi robot, selalu berpacu dengan waktu, tak lagi hirau satu sama lain. Apalagi terhadapku..yang hanya kalian anggap sebagai tempat untuk berlindung dari panas dan hujan, hanya itu tidak lebih..dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain merasakan sepi ini sendirian..

 

'Ne

*Terima kasih gambar rumahnya yang di sini

 

  • view 369