Sehidup Sesurga Bersama Keluarga

Fitriane Lestari
Karya Fitriane Lestari Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 09 September 2016
Sehidup Sesurga Bersama Keluarga

Apa yang ada dalam pikiran saat calon pendampingmu adalah seorang duda atau janda? Barangkali yang terbayang adalah sebuah pertentangan, cibiran atau bahkan lebih serius lagi adalah masalah dengan keluarga besar. Bisa jadi benar begitu. Aku pernah mengalaminya sendiri. Saat pertama kali memutuskan untuk menikah dengan seorang duda muda beranak satu. Butuh perjuangan untuk sampai akhirnya kedua orangtuaku menyetujuinya, meridhoi tepatnya.

Membuka pikiran orang tua yang memiliki harapan tinggi terhadap putrinya tentu tidaklah mudah. Proses yang panjang dan membuat aku dan orang tuaku sama-sama mengalami sakit hati. Pertentangan bukan hanya datang dari kedua orangtuaku tetapi juga hampir seluruh keluargaku. Sedih? tentu saja. Tapi aku menyadari satu hal, mereka menentang tentu bukan tanpa alasan, mereka hanya khawatir akan masa depanku. Aku yang seorang anak manja, harus menikah dengan seorang duda dengan anak satu. Bagaimana masa depanku nanti, apakah aku bisa melewati, itulah kekhawatiran mereka.

Aku mencoba memahami posisi mereka sebagai orang tua, bagaimana jika aku yang berada di posisi mereka, tentu saja akan memikirkan seribu kali untuk melepas anakku. Karenanya aku tidak membenci orang tuaku dan mencoba untuk tidak lagi sakit hati. Untungnya aku dan suamiku saat itu bukan pasangan bodoh yang nekat kawin lari, kami tetap berprinsip bahwa ridho Alloh adalah karena ridho orang tua. Aku tidak mau menjadi anak durhaka, aku tidak mau tersiksa dunia akhirat. Keyakinanku adalah suatu saat mereka akan teryakinkan dan akan merestui tanpa paksaan.

Sampai akhirnya keyakinanku terbukti benar. Setelah aku berpasrah, berdoa dan berhenti untuk berdebat, berhenti untuk menentang secara membabi buta, saat itulah Alloh memberi jawaban. Ibuku yang pertama kali mengabarkan bahwa mereka memutuskan untuk merestui dan untuk menghindari fitnah lebih baik disegerakan. Maka nikmat mana lagi yang harus aku dustakan dariMu ya Alloh. Seketika aku menangis terharu, betapapun beratnya bagi mereka yang paling utama untuk mereka adalah kebahagiaan anaknya. Itulah yang orangtuaku lakukan dan yang patut aku contoh dari keluargaku. Tugasku hanya membuktikan pada mereka bahwa aku akan bahagia bersama dengan pilihanku.

Proses persiapan pun dimulai. Tidak banyak waktu untuk aku melakukan pendekatan dengan pihak keluarga suamiku, aku tidak pernah datang kerumahnya sebelum acara lamaran, juga belum pernah bertemu putri dari suamiku. Selang dua bulan sebelum menikah, aku baru bertemu dengan calon Ibu dan Bapak mertuaku. Mereka adalah orang-orang yang sangat rendah hati, taat pada agama. Saat berdua dengan calon Ibu mertua aku diberi banyak wejangan terutama karena posisiku nanti adalah akan langsung menjadi seorang Ibu. Harus selalu menjaga komunikasi dan tidak lagi mengedepankan ego masing-masing karena setiap rumah tangga pasti tidak akan terlepas dari masalah, begitu katanya. Wejangan yang selalu aku ingat hingga saat ini.

Begitu juga saat aku bertemu dengan calon anakku, seorang anak perempuan berumur 12 tahun. Suamiku memang dulunya menikah muda saat masih berumur 22 tahun. Istrinya meninggal dunia karena leukimia, seminggu sebelum putrinya berumur 3 tahun. Putrinya diasuh oleh orang tua dari almarhumah istrinya atau mertua dari suamiku. Putrinya seorang anak yang ceria dan juga pintar, sering kami menghabiskan waktu bertiga saat akhir pekan tiba. Piknik bersama, jalan-jalan atau nonton bioskop selalu kami jalani bertiga.

Pernikahan kami cukup sederhana, dengan disaksikan keluarga besarku, keluarga besar suamiku dan juga keluarga dari almarhumah istrinya terdahulu (mertua suamiku) dan sahabat dekat. Alhamdulillah, bersyukur kepada Alloh karena aku dikaruniai kebahagiaan yang luar biasa. Aku bukan hanya mendapatkan suami, tetapi seorang anak dan juga keluarga tambahan, bukan saja satu mertua tetapi sekaligus dua. Terbukti bahwa keridhoan mereka pun adalah ridho Alloh, karena setelah itu segalanya tampak mudah dijalani, semua jalan seolah-olah terbuka untuk aku dan suamiku berdua meniti tangga pernikahan, yang semoga sehidup sesurga kelak.

Ada satu momen yang membuatku menitikkan air mata haru di hari pernikahan, setelah semua keluarga dan tamu-tamu pulang, aku dan suami sedang beristirahat sembari bercengkerama. Tiba-tiba ada pesan singkat masuk ke ponselku. Saat kubuka ternyata dari putriku yang isinya " Mbak, boleh aku panggil Mama?" singkat padat dalam satu kalimat, tapi mampu mengguncang hatiku. Air mata haru tak mampu lagi terbendung. Tanpa disuruh tanpa aku harus meminta dan memaksanya dia menganggapku Mama. Aku tahu dan paham betapa rindunya dia memanggil seseorang dengan panggilan Mama. Selain dari itu aku bahagia karena dia benar-benar menerimaku dan dia percaya padaku.

Stigma negatif yang orang gambarkan tentang hubungan ibu tiri dengan anaknya tidak selalu benar. Nyatanya kami bisa bisa hidup berdampingan, saling menerima. Kami bahkan seperti kakak adik kalau bersama. Untuk urusan sekolah saat ada pertemuan wali murid dan parenting day  akulah yang selalu hadir bukan suamiku. Begitu juga dengan keluarga dari mertua sumiku yang sekarang aku anggap sebagai mertuaku juga. Mereka menerimaku selayaknya anak sendiri. Setiap kali ada acara keluarga besar mereka kami pun turut serta.  Silaturahim antara orang tua kami pun tetap terjaga dengan baik, saling mengunjungi, saling berbagi rejeki meski sekadar oleh-oleh tapi itu menghangatkan keluarga kami.

Tiga tahun pernikahan kami, sudah bertambah anggota keluarga satu lagi seorang anak perempuan. Semoga ini bentuk dari keberkahan pernikahanku dengan suamiku, menyatukan 3 keluarga besar menjadi satu. Bukankah itu adalah rezeki yang tidak bisa diukur dengan materi. Tidak semua orang diberi kesempatan memiliki keluarga sepertiku. Harapanku semoga kami bisa selalu berdampingan, saling mengasihi satu sama lain bersama-sama sehidup sesurga di dunia dan akhirat. Semoga kelak anak-anakku pun akan mencontoh apa yang baik dari keluargaku, dan menjaga silaturahim yang sudah terjalin baik. Aamiin.

'Ne

 

 

  • view 192