Tom [ Ketika Kucing Jatuh Cinta Part I ]

Fitriane Lestari
Karya Fitriane Lestari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 September 2016
Tom [ Ketika Kucing Jatuh Cinta Part I ]

Tom, itu nama yang Marisa berikan padaku. Seandainya boleh memilih aku tidak mau diberi nama seperti kucing yang ada di film kartun yang sering kulihat di televisi saat aku bermanja di kaki Marisa menonton Tom and Jerry. Entah apakah dia memang terinspirasi dari kucing jelek itu. Asal bukan terinspirasi dari makhluk yang beberapa waktu yang lalu sempat menghebohkan masyarakat di sini, Tomcat. Bahkan mendengar berita-berita yang kadang kupikir terlalu lebay itu membuatku merasa ngeri sendiri. Aku tidak seburuk itu.

Oh iya perlu kalian tahu, Marisa adalah adik dari Maria yang punya kucing kampung namanya Bim Bim. Aku sendiri kucing Persia, hadiah ulang tahun yang diberikan pacar Marisa. Kadang aku heran dengan manusia, ada banyak sekali hal yang selalu dirayakan. Ah tapi itu bukan urusanku, aku tidak mau pusing-pusing seperti mereka.

Kedatanganku ke rumah ini bisa dibilang tepat pada waktunya. Karena saat itu Bim Bim memang sudah sering menghilang dari rumah. Namanya saja kucing kampung udah dikasih makan dan tempat yang enak masih aja suka kabur.

Suatu hari aku lihat si Bim Bim datang lagi ke rumah, tapi dia sudah tidak punya tempat lagi dan dia tidak diterima lagi di rumah ini. Maaf Bim Bim, bukan aku bermaksud merebut posisimu tapi yah salah kamu sendiri yang suka kabur dan berkelahi dengan kucing kampung lain, membuatmu terlihat buruk dengan luka di sana sini. Ditambah lagi kamu sekarang punya koreng, ya pantas saja mereka tidak mau menerimamu lagi. Aku sih nggak mau keluar-keluar rumah, itu tekadku dalam hati.

Tapi suatu hari saat aku menemani ibu duduk di beranda adalah saat di mana aku merubah pikiranku untuk tidak keluar rumah. Bukan karena aku ingin bermain dengan kucing-kucing kampung yang kotor itu, sama sekali bukan. Tapi karena ada kucing betina yang membuatku terpesona. Yah, dia benar-benar membuatku mabuk kepayang. Dia begitu anggun, jalannya bak peragawati di atas catwalk, -eh bukankah peragawati itu yang jalannya niru kita ya?- dia sama sekali bukan kucing pemalu, ceria dan terlihat sangat percaya diri. Aura yang terpancar benar-benar membuat siapapun yang memandangnya akan langsung menyukainya. Tak terkecuali aku. Normal bukan? aku pejantan yang gagah, keren dan tak sedikit kucing-kucing betina yang menngejarku. Tapi selama ini tidak ada yang bisa membuatku jatuh cinta seperti Lala. Iya benar, kucing itu namanya Lala, kucing milik tetangga komplek yang rumahnya di sudut jalan.

Sejak hari itu pun duniaku terasa tidak berada di rumah. Selama ini yang kukira tempat tinggal dan makan yang enak sudah cukup bagiku, ternyata salah. Aku jatuh cinta pada Lala, dan membuatku mulai berani keluar rumah untuk menemuinya. Kecuali hari hujan setiap hari kami pasti main bersama, kalau bukan aku yang datang menemui Lala kadang Lala yang mendatangiku. Kami begitu bahagia selayaknya Romeo dan Juliet. Jangan kalian tanyakan kenapa aku tahu tentang Romeo dan Juliet, aku pernah menontonnya bersama Marisa di rumah. Saat itu aku pikir kisah cinta seperti itu sangat konyol, tapi itu adalah pikiranku saat aku belum merasakan jatuh cinta.

Tapi seperti kata pujangga yang pernah kudengar, bahwa cinta hanyalah terdiri dari dua rasa, sedih dan bahagia. Jika ada kebahagiaan pasti juga akan beriringan dengan kesedihan. Apa yang aku alami bukan karena orang tua tak setuju, karena semua keluarga Marisa jelas menyukai Lala begitu juga sebaliknya. Bahkan tak jarang mereka meledekku sepulang aku bermain dengan Lala.

Hari itu semuanya berawal, sepulang aku menemui Lala di rumahnya aku berjalan dengan penuh riang gembira. Hingga aku tak sadar ada sepeda motor yang lewat dengan kencang, sudah tahu ini perumahan seharusnya mereka tidak boleh ngebut. Tapi dasar manusia, peraturan yang mereka buat mereka langgar sendiri. Akhirnya tak terhindarkan lagi aku terserempet, untung saja aku lumayan gesit hingga aku tidak terlindas. Melihatku masih hidup pengendara sepeda motor itu malah kabur, dasar tidak bertanggung jawab. Aku mengerang, tentu saja Lala pun tak akan mendengarku, aku sudah cukup jauh dari rumahnya. Dengan tertatih akupun berjalan pelan pulang ke rumah. Darah mengucur dari mulut dan kakiku. Jangan tanya seperti apa sakitnya.

Setibanya di rumah, Marisa yang saat itu sudah pulang kuliah yang pertama kali melihatku, dia menjerit histeris dan langsung menggendongku. Setelah mengamati lukaku, kulihat Marisa menelpon Ibu dan sayup-sayup kudengar aku akan dibawanya ke pet shop yang memang menyediakan ruang khusus untuk perawatan kucing agar aku diperiksa. Benar saja tak lama Bimo, pacar Marisa datang lalu mengantarkan aku dan Marisa ke Pet shop dengan mobilnya. Ternyata setelah diperiksa aku harus di opname dan dirawat untuk beberapa hari. Aku sedih sekali, sudah membuat keluarga repot dan aku pun tidak bisa bertemu dengan Lala. Aku sakit dan sekaligus merindu. Ah, yang terakhir lebih sakit.

Keluarga pun bergantian menengokku, sampai akhirnya di hari ketiga aku sudah diijinkan pulang. Aku sangat gembira meski ada yang membuatku masgul. Aku cacat, mulutku yang sobek dan gigiku tanggal satu membuatku tidak percaya diri untuk bertemu dengan Lala. Jalanku juga jadi agak pincang. Masihkah Lala mau bersamaku jika melihatku begini? Entahlah, aku pasrah. Bukankah di saat seperti ini aku akan tahu kesungguhan cinta Lala padaku.

Kepulanganku di sambut dengan gembira oleh seluruh anggota keluarga, dan yang membuatku surprise adalah lala juga sudah ada di sana menungguku. Awalnya aku sedikit kikuk dan berusaha menghindarinya, tapi ternyata Lala masih tetap sama dengan yang sebelumnya. Setelah melihat rupaku yang tak lagi ganteng, Lala tidak meninggalkanku. Aku terharu, rasanya tidak ada lagi yang aku inginkan di dunia ini. Semua kebahagiaan sudah kudapatkan.

Tapi lagi-lagi aku salah, tidak ada kebahagiaan yang abadi. Hingga hari itu pun tiba.. ( bersambung yaa di postingan berikutnya..)

 

'Ne

*gambar : koleksi pribadi foto Tom asli.

 

  • view 276