Bim-Bim

Fitriane Lestari
Karya Fitriane Lestari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Agustus 2016
Bim-Bim

Namaku Bim Bim.. Kucing kampung yang tidak terlalu ganteng memang. Tapi keimutanku saat aku kecil membuat seorang laki-laki baik hati memungutku karena iba, namanya Adrian. Wajahnya seperti bintang sinetron yang sesekali kulihat di televisi saat ibu majikanku menontonnya. Adrian yang memang suka kucing tapi tidak berani merawatnya karena takut tidak bisa maksimal memberikanku pada pacarnya yang bernama Maria.

Aku senang-senang saja, karena ternyata keluarga Maria memang pecinta kucing. Aku diberinya nama Bim Bim, meski kucing kampung tapi hampir seluruh anggota keluarga begitu menyayangiku. Teman-teman Maria dan Adrian yang sering datang berkunjung juga pasti akan selalu mengajakku bermain. Bahkan Ibu sudah menganggapku bagian dari anaknya, kadang ibu juga memarahiku seperti dia sedang memarahi anaknya, ibu juga sering mencerewetiku jika aku bandel. Tapi aku tahu segala yang dia lakukan itu karena dia begitu menyayangiku.

Awalnya aku begitu bahagia berada di tengah-tengah keluarga Maria, aku diberi tempat tinggal dan kadang makanan yang bagiku sangat mewah. Sebagai kucing kampung aku sudah terbiasa memakan apa saja yang aku temukan di jalan. Di rumah ini aku sudah sangat bersyukur makanan selalu tersedia.  Tapi, lama kelamaan aku merasa bosan berada di dalam rumah terus, sesekali aku melihat kucing-kucing liar sedang asik bermain di samping rumah, dan aku hanya bisa menatap mereka dengan rasa iri. Yah, aku iri. Naluriku sebagai kucing kampung yang liar membuatku semakin tidak kerasan di dalam rumah, aku semakin merasa terpenjara. Akhirnya aku nekat.

"Bim bim, dari mana kamu?!" Ibu membentakku saat mendapati tubuhku kotor sekali. Aku memang nekat keluar rumah melalui jendela, di rumah ini memang semua orang akan pergi pagi pulang sore jadi aku yakin akan aman dan tidak ada yang tahu. Aku benar-benar tergoda dengan ajakan kucing-kucing liar yang tak bertuan yang sering bermain dekat rumah. Aku berusaha merajuk dan mendekati kaki ibu, aku minta maaf. Meski aku sendiri tidak mampu berjanji untuk tidak keluar lagi. Aku justru semakin ingin terus berada di tengah-tengah teman-temanku. Ibu membersihkanku dengan masih saja mengomel. Bahkan seluruh anggota keluarga juga diberitahunya atas kelakuanku kabur dari rumah. Menyebalkan.

Aku mengadu pada Adrian yang kebetulan hari itu dia datang bersama Maria sepulang kuliah. Adrian hanya mengelusku dan mengajakku bermain. Maria juga sama, dia tidak memarahiku, hanya pura-pura marah. Aku tahu, dia selalu memanjakanku.

Semakin hari aku semakin menjadi-jadi, aku bahkan kadang tidak pulang sama sekali. Menginap dan tidur di mana saja selayaknya kucing liar. Pulang saat aku sedang tidak menemukan makanan, hidup di luar memang keras.

Suatu hari aku tertular penyakit kulit. Bulu-buluku semakin rontok di bagian aku merasa gatal, lukakupun menjadi koreng yang menjijikkan. Saat aku pulang anggota keluarga tidak ada yang mau bermain bersamaku lagi. Aku bahkan tidak diperbolehkan lagi masuk ke rumah. Mereka semua jijik padaku. Memang sesekali aku masih diberi makan tapi tanpa menyentuhku lagi. Aku tahu diri, ini semua memang karena kesalahanku sendiri. Aku merasa kesepian, tapi aku tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku pasrah.

Akhirnya, aku putuskan untuk pergi. Toh aku memang merasa tidak akan lama lagi ada di dunia ini. Apalagi keluarga Maria sudah memiliki kucing baru yang di beri nama Tom. Lebih ganteng dari aku pula, ah aku tidak iri kok. Bagaimanapun juga aku pernah merasakan kehangatan keluarga Maria.

Kupandangi rumah yang selama ini kutinggali itu, salah satu rumah di komplek perumahan elite. Selamat tinggal keluargaku, Selamat tinggal Maria, maafkan aku Adrian, kepergianku demi kebahagiaan kalian. Aku yakin kalian tidak akan merasa kehilanganku. Aku akan kembali pulang ke kampung, tempat dimana aku berasal. Aku ingin mati di tempat di mana ibuku melahirkanku.

'Ne

Note : cerita ini pernah di posting di blog saya http://selaksakata.wordpress.com dan sengaja diposting ulang di sini untuk nantinya dilanjutkan menjadi kisah-kisah Bim Bim dan kawan-kawan :)

Gambar saya pinjam dari sini

  • view 127