Ketika Tontonan Bukan Lagi Menjadi Sebuah Tuntunan

Fitri Fauziah
Karya Fitri Fauziah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Februari 2016
Ketika Tontonan Bukan Lagi Menjadi Sebuah Tuntunan

Topik : Televisi dipenuhi acara-acara tidak bermutu dan pemberitaan yang sarat kepentingan.

Kebutuhan akan informasi dan hiburan yang sangat tinggi menjadikan televisi sebagai salah satu primadona dihati masyarakat Indonesia saat ini. Program-program menarik yang disuguhkan mampu membuat seseorang rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyaksikan acara yang ditampilkan. Mulai dari sinetron, berita, acara music dan program lainnya.

Namun jika dilihat pada saat ini, ada beberapa stasiun televisi yang menyajikan program yang kurang bermutu dan mendidik. Salah satunya adalah program reality show yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta setiap hari pukul lima sore. Entahlah ada yang setuju ataupun tidak dengan pendapat saya ini, bagi saya acara tersebut cukup membuat saya sedikit skeptis. Permasalahan hidup seseorang yang barangkali bisa dikatakan aib lantas diekspos sedemikian rupa. Luapan emosi, pertikaian dan saling mencerca membuat hati saya miris. Bintang tamu diacara tersebut diharuskan menceritakan dengan runtut permasalahan yang sedang mereka alami entah dengan kekasih, teman bahkan masalah dengan orang tua sekalipun walau pada akhirnya mereka menemukan titik temu atau bisa dibilang happy ending (Barangkali itupun sudah disetting sebelumnya). Namun bagi saya tidak ada pesan apapun yang bisa diambil dari acara tersebut kecuali pembukaan aib seseorang yang kurang bermanfaat sama sekali.

Dunia Sinetronpun tak kalah dramatisnya, cerita seputar kisah percintaan anak muda yang terkadang dibumbui dengan aroma mistis dan ke-gengster-an menerjang bak ombak laut. Merajalelanya cerita sinetron seperti itu tentunya memberikan kesan kurang baik bagi generasi muda kita saat ini yang sedang tumbuh kembang dengan pemikirannya yang selalu ingin tahu.

Disamping acara tersebut ada juga beberapa acara music dan program lawak yang menonjolkan sisi humoris dengan menyisipkan kata-kata jorok dan celaan, entah dari segi fisik ataupun dari segi lainnya. Padahal hal semacam itu mampu memberikan paradigma negative kepada masyarakat Indonesia. Bukankah masih banyak cara-cara lain yang lebih baik dan beretika untuk membuat orang lain tertawa?

Ditambah lagi dengan acara gossip seputar selebriti tanah air yang terkadang lebih mengedepankan sensasi dan glamouritas bukannya nilai prestasi yang telah dicapai. Kemewahan, kasus hukum dan status sebagai sosialita dirasa lebih penting untuk dipamerkan daripada sikap baik yang bisa menjadi teladan bagi sesama. Tentunya hal tersebut dapat menjadi ajang percontohan bagi kaum remaja saat ini. tak sedikit dari mereka yang kini mulai mengikuti trend atau gaya jetset para artis yang mereka sukai meski isi dompet pas-pasan.

Dan akhir-akhir ini yang paling membuat saya heran adalah beberapa stasiun berita swasta yang seakan-akan sedang bersaing memberikan pencitraan bagi mereka yang berkepentingan. Saling memberikan pembenaran, penyalahan dan berbagai macam hal rumit lainnya yang menjejal pemahaman masyarakat Indonesia dengan pemberitaan yang sarat akan kepentingan politik. Masyarakat dibuat bingung dengan pemberitaan yang terkadang belum jelas kebenarannya. Para pemilik stasiun televisi tersebut pun berlomba-lomba membuat partai politik dengan visi dan misi yang selalu didengungkan setiap jeda acara. Mereka menobatkan diri sebagai ?pelayan? masyarakat dengan janji-janji yang terkesan sangat klise. Hmm.. sepertinya para raja media elektronik tersebut harus nonton dulu drama korea yang berjudul ?PINOCCHIO?. Heheh?

Terlepas dari acara-acara televisi yang kurang mendidik tersebut tentunya banyak pula program televisi lainnya yang sangat mengedukasi. Kembali lagi kepada kita sebagai penonton yang dituntut harus cerdas dalam memilih program-program televisi yang memang layak untuk disaksikan. Jika program atau acara televisi tersebut kurang bermutu dan mendidik, sudah sepatutnyalah kita yang memposisikan diri sebagai penonton yang terdidik yang mampu memilah-milai dan mencermati dengan baik setiap acara yang ditayangkan. Sekian opini yang dapat saja paparkan terima kasih.

Fitri Fita Fauziah

  • view 148