SURAT UNTUKMU YANG SEBENTAR LAGI MENJADI SARJANA

FIRMAN TO MARADEKA
Karya FIRMAN TO MARADEKA Kategori Inspiratif
dipublikasikan 07 Mei 2016
SURAT UNTUKMU YANG SEBENTAR LAGI MENJADI SARJANA

SURAT UNTUKMU YANG SEBENTAR LAGI MENJADI SARJANA

Assalamualaikum, Wr, Wb.

Nak surat ini kutuliskan untukmu yang sebentar lagi menjadi sarjana. Sungguh bahagia hati ini tak kala mendengar kabar bahwa dirimu telah menjalani ujian pendadaran pada tanggal 9 April 2016 yang lalu. Itu artinya sesuai dengan prosedur kampusmu tinggal satu tahap lagi kau akan menjadi seorang sarjana dan namamu akan bertambah dibelakangnya setelah mengikuti yudisium. Ditengah kebahagiaan itu terbesit diingatan ibu tentang perjalananmu sebagai anakku sebelum sampai disitu. Ijinkan ibu menceritakan proses itu melalui surat itu agar dirimu juga dapat mengingat kembali tentang siapa dirimu sebelum kau sampai dititik itu.

Pertama mungkin kau tidak pernah lupakan bahwa kau itu lahir dipagi hari jam 07.00 tepatnya hari selasa tanggal 12 Januari 1993 untuk itu ibu sering beranggapan bahwa kau itu adalah putra sang fajar. Bahkan dulu ibu memberimu nama Firman Haryadi Fajar, namun karena kau sering jatuh sakit-sakitan nama itu kemudian diganti dengan Firman tanpa tambahan Haryadi Fajar. Konon katanya menurut nenekmu nama itu tidak cocok dengan dirimu maka harus diganti. Tapi meski dengan namamu sekarang ibu tetap ingat bahwa kau itu putra Sang Fajar karena dilahirkan dipagi hari tepat saat matahari sedang menyinsing, dan menurut kepercayaan orang kampung seorang anak yang dilahirkan saat matahari menyinsing nasibnya akan baik dan telah ditentukan sebelumnya oleh Sang Maha Pemilik Semesta.

Kedua masih segar diingatan ibu saat hendak pertama kali mengantarkanmu untuk belajar di sekolah dasar, hari itu tepatnya hari senin di tahun 2000 kau kuantar pertama kalinya memasuki lingkungan pendidikan. Harapanku hanya satu kau akan menjadi anak yang pintar dan bisa merasakan bangku sekolah agar nasibmu tidak seperti diriku. Hari itu kau disambut oleh seorang guru perempuan dengan senyuman yang penuh optimis yang juga membuat diriku optimis bahwa anakku sedang berada di tempat yang akan menjadikan dirinya menjadi siswa yang sesuai dengan harapanku. Yang membuat aku teringat semasa kau sekolah dasar adalah tangisanmu di dalam kelas ketika aku hendak pulang kerumah ketika kau sudah berada dalam ruang kelas. Dan itu yang membuatku harus tinggal bersamamu di dalam ruangan selama satu minggu belajar bersamamu layaknya teman-teman kelasmu. Tetapi yang membuatku bahagia tak kala kau kembali kerumah dan membuka bukumu kemudian kau baca. Bukan hanya itu sesekali kau menunjukkan keahlianmu dalam menghafal angka dan menghitung hingga kau hafalkan sila pancasila dan menyebut nama lengkap Presiden Indonesia.

Ketiga masih ku ingat dikala kau menangis semalaman gara-gara tidak mau masuk sekolah SMP dikampung karena kau benci dengan sistem yang diterapkan guru-guru dalam sekolah itu yang selalu memberikan hukuman kepada anak didiknya yang terlambat masuk kelas, tidak mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) hingga akhirnya kau kumasukkan disekolah pilihanmu sendiri di Madrasah Tsanawiyah. Waktu itu tepatnya hari kamis aku dan nenekmu mengantarkan kau ke sekolah itu untuk mendaftarkan kau sebagai siswa. Begitu bahagia raut muka yang kau pancarkan hari itu seolah kau ingin berteriak bahwa dirimu telah masuk sekolah pesantren dan akan belajar sebebas-bebasnya dan jauh dari hukuman guru-guru yang taunya hanya menghukum siswa yang tidak patuh atau taat dengan perintah dan aturan. Hari itu aku melihatmu sebagai anak yang tidak suka pada tekanan dan ancaman yang selalu mengatasnamakan aturan.

Ke empat yang sepertinya sulit untuk kulupakan adalah saat kau hendak memasuki sekolah SMAN. Hari itu selepas pengumuman keluluasanmu di Pesantren yang mendidikmu selama tiga tahun, kau datang padaku menyatakan niatmu untuk masuk disalah satu sekolah unggulan impian banyak orang di daerahmu. Hari itu aku sempat pesimis kau akan diterima di SMA itu mengingat kau bukan berasal dari sekolah negeri melainkan swasta. Tapi melihat usahamu aku menjadi yakin kau akan diterima disekolah itu. Hari itu tepatnya senin kau mulai melangkah kesekolah itu membawa setumpukan berkas persyaratan pendaftaran gelombang pertama, kau jalan sendirian dengan penuh harapan kau akan diterima. Waktu itu aku tak sempat mengantarkanmu untuk mendaftar disekolah itu seperti halnya tak kala kau akan masuk SD dan Pesantren. Sebulan telah kau mendaftar dan memasukkan berkasmu, pengumuman gelombang pertama pun datang dan namamu tidak ada di lembar pengumuman tersebut yang menandakan kau tidak lulus. Apa yang ku khawatirkan diawal ternyata benar-benar terjadi kau tidak dapat diterima karena asalmu bukan dari sekolah negeri dan bahkan menurut cerita yang kudapat sekolah pesantrenmu pun tidak terdaftar dilembaga pemerintahan. Meski kau tidak lulus digelombang pertama aku tetap melihat semangat juangmu untuk masuk disekolah itu. Setelah gelombang kedua terbuka kau pun kembali mendaftar dan mengikuti test tertulis dan dinyatakan lulus. Suatu hal yang kulihat dalam dirimu semenjak SMA, kau anakku yang tak pernah ragu untuk mencoba.

Kini kau telah menjadi mahasiswa yang sebentar lagi menjadi sarjana. Rasanya baru kemarin kau masih kulihat memakai seragam putih merah, putih biru, dan putih abu-abu. Rasanya baru kemarin ibu mendengarmu belajar menghitung, membaca, mengahafal sila-sila pancasila, belajar mengaji, khutbah dan melafalkan ayat-ayat al-qur’an. Rasanya baru kemarin untuk pertama kalinya aku mendapatkan surat dari sekolah SMA mu untuk menghadap guru BK lantaran sikapmu disekolah yang selalu menentang gurumu dan bahkan tidak taat pada aturan sekolah. Hari itu tak kala diriku untuk pertama kalinya melepasmu menuntut ilmu ditanah jawa seolah kosong dan tak bisa berkata apa-apa selain meneteskan air mata. Tidak pernah kubayangkan kau akan memiliki niat untuk keluar pulau menuntut ilmu. Bukan hanya itu bahkan ketika aku pertama kali mengantarkanmu pertama kali masuk SD aku tak pernah berharap kau akan sampai dititik itu, sebagai seorang mahasiswa yang sebentar lagi menjadi sarjana. Sungguh sulit rasanya melepaskanmu hari itu, sulitnya seperti tak kala ibu melahirkanmu dulu dipagi hari. Tapi aku selalu yakin bahwa engkau itu putra sang fajar, nasibmu Insya Allah baik dan masa depanmu telah digariskan Sang Maha Pemilik Semesta. Almarhum kakekmu yang meninggal tak kala kau dilahirkan didunia pernah berpesan padaku jika cucuku lahir simpan tali pusarnya di atap rumah biar kelak dia bisa keluar melihat dunia dan mencari yang terbaik buat dirinya. Jangan pernah khawatir untuk melepasnya karena kecemasanmu karena matahari tidak mungkin tenggelam ditengah langit (bahasa bugis : Taroangnga erunna eppoku ri coppona bola’e naweddi engka totona messu mita kampong nasikki biritta naenre mallongi-longi, nasikki biritta narewe mappedeceng, aja musangkai narekko meloi messu nasaba sara ininnawa De’ tanna telleng matanna essoe ritengngana bitara’e). Kulepaskan kau kepulau seberang, hari itu ibarat aku melepaskan anak dari kota pengalaman menuju kota harapan. Hanya tiga ujung (tellu cappa) yang menjadi bekalmu. Cappa Lilalu (ujung lidahmu yang tidak bertulang, maka jagalah jangan sampai kau menyakiti perasaan sesamamu dengan ucapanmu) Cappa Kawali (ujung badikmu sebagai prisai keberanianmu) Cappa Lasomu (ujung kemaluan sebagai siri napaccemu). Tetaplah kau jaga sifat Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakalebbi (saling memuliakan/menghargai), Sipakainge (saling mengingatkan) sesama saudaramu disana.

Aku sadar bahwa semenjak kau kuliah biaya yang kukeluarkan tidak sedikit. Keringat bercucuran darah ayahmu siang dan malam mencari biaya kuliahmu tidak sedikit nak. Tapi memang itulah yang harus dilakukan karena memang aku sadar pendidikan hari ini memang mahal. Mana ada kampus yang berbiaya murah hari ini. Tapi demi engkau menjadi pintar aku rela bekerja keras. Untuk itu setiap kali aku menelponmu nak aku selalu berpesan disana kau jangan hanya sekedar kuliah, pulang, asrama dan makan. Perbanyaklah aktivitasmu disana, ikutilah kegiatan sebanyak-banyaknya. Kau istimewa bagiku nak maka jadikan hari-harimu istimewa disana. Jika ada demonstrasi membela orang kecil terlibatlah didalamnya. Tanda tanganmu jangan hanya kau bubuhkan dilembar absensi kuliah dikelasmu tapi juga bubuhkan dilembar-lembar petisi kemanusiaan. Jika ada kezaliman terjadi disekitarmu maka lawanlah jangan pernah mencoba menjauh apalagi mencoba lari dari kenyataan dan mengingkari perasaan hatimu sendiri. Jangan pernah takut pada nilai yang buruk, karena buruknya nilai kuliahmu tak membuat masa depanmu menjadi suram. Kau harus tau nak jika hanya bermodal kepintaran mungkin ibu tak bisa mengantarkanmu sampai posisi itu. Ibumu bukanlah orang yang pintar tapi hanya dengan modal keberanian aku melepasmu untuk menempuh pendidikan disana. Besar harapanmu kau akan tumbuh sebagai seorang yang pintar, memiliki sejuta pengalaman, dan berani melawan segala bentuk penindasan.

Aku pesan itu semua bukan tanpa tujuan, aku takut melihatmu lahir sebagai seorang sarjana yang hanya bermodal kepintaran tapi buta dengan lingkungan sekitarmu. Hari ini sering aku melihat orang yang semenjak mahasiswa menguasan materi tapi berbuat nista terhadap sesamanya. Seorang jaksa yang selalu menerima suap dari kliennya. Seorang ketua partai yang korupsi demi kepentingan kelompoknya. Mereka semua dulunya pintar dan mendapat nilai yang baik semenjak menjadi mahasiswa.

Nak sebentar lagi kau akan diwisuda setelah kau yudisium. Aku tidak berharap dihari wisudahmu disaksikan oleh tokoh-tokoh penting. Aku hanya berharap wisudahmu esok disaksikan oleh teman-teman seperjuanganmu dalam membela kemanusiaan dan melawan penindasan. Yakinlah nak selembar ijazah itu bisa saja terbakar dan menjadi abu, tapi kepribadian yang kau miliki itulah yang akan abadi.

Wassalamualaikum, Wr, Wb...

  • view 200