Akhirnya, Aku Denganmu

Firdyas Dwi Kurniawati
Karya Firdyas Dwi Kurniawati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Februari 2016
Akhirnya, Aku Denganmu

30 Desember lalu aku sudah kembali ke rumah setelah diadakan UAS di kampusku, Universitas Negeri Malang. Rasanya lelah. Sudah sekitar 2 bulan aku tidak pulang kampung. Ya karena apa lagi kalau bukan karena kesibukan dan tugas yang menumpuk atau pun karena banyak acara hangout dengan teman-teman kampus. Semester ini sangat melelahkan, juga menghabiskan lebih banyak biaya untuk inilah, itulah, pokoknya ada saja keperluan mendadak yang butuh uang tidak sedikit. Semester ini juga kesehatanku sepertinya menurun. Bagaimana tidak, aku sering begadang untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Makanku jadi kurang teratur. Itulah sekilas tentang kehidupanku beberapa bulan belakangan.

??????????? Ada juga kisah lain. Masih masalah hati. Aku jatuh cinta lagi. Eh iya! Aku jatuh cinta. Aku tau orangnya sudah lama tapi belum akrab. Waktu itu ada acara di kampus dan waktu itu juga dia pertama kali berbicara padaku. Sebelumnya hanya lewat chatting facebook. Kesan pertama waktu chatting, dia orangnya asyik diajak bicara. Kesan kedua waktu pertama kali dia berbicara padaku, dia orangnya menyebalkan, membuatku gemas ingin melemparkan sepatu ke wajahnya. Omongannya itu lho, sedikit tapi ?nylekit?.

***?????

Semua berjalan seperti biasa. Sesekali aku bertemu dengan dia di kampus. Menyapa tetapi hanya dengan anggukan kepala, tanpa salam atau memanggil namanya. Dia pun begitu, melakukan hal yang sama. Ada satu yang khas dari dirinya yaitu cara memandang dia. Lucu. Matanya menyipit, dahinya mengernyit. Itulah sekilas tentang dia.

??????????? Saat menjelang ujian, seperti yang lainnya, aku sering begadang untuk makhluk terkutuk bernama tugas. Suatu malam, aku merasa jenuh. Akhirnya aku putuskan untuk membeli nasi goreng di depan rumah kos. Waktu menunjukkan hampir tengah malam, 23:24 WIB. Aku keluar dengan kaki sedikit lemas karena terlalu lama duduk bersilah menghadap laptop. Sesampainya di tempat bapak penjual nasi goreng, aku menangkap sosok yang sudah jelas aku kenali. Ya itu dia, yang tadi aku ceritakan. Namanya Odi. Aku hanya diam meskipun aku tau dia ada disana. Dalam hati ada sedikit rasa senang karena dia disini, tetapi juga masih tersisa rasa jengkel karena omongan dia beberapa waktu lalu. Aku langsung memesan satu bungkus nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi.

?Pak, nasi goreng satu ya, gak pedes, tambah telor mata sapi ya, Pak.?

?Iya, Mbak.?

??????????? Lalu aku duduk di kursi yang sudah di sediakan bapaknya. Aku duduk di samping Odi. Dia tetap tidak menyadari kedatanganku. Hingga akhirnya saat dia hendak beranjak membayar nasi goreng, dia menoleh ke arahku.

?Lho. Ada kamu rupanya. Udah lama disini?? Tanyanya

?Barusan kok. Kamu kok bisa makan sampe sini sih? Kan di deket gang rumah kosmu juga ada nasi goreng? Kok belinya disini. Jauh amat.? Jawabku panjang lebar. Tapi ternyata dia malah seperti tidak mempedulikanku. Memalingkan tubuhnya begitu saja. Lagi-lagi dia menyebalkan. Aku tersenyum kecut. Lalu dia kembali duduk di tempatnya tadi, lebih tepatnya disampingku.

Dia hanya menghela nafas panjang dan belum merespon omonganku yang panjang lebar tadi.

?Heh kamu gak dengerin aku ya. Kamu kok nyebelin sih. Jawab kek.? Aku bicara dengan sedikit emosi

?Aku dengar kok, Nin. Tapi masih belum mau jawab hahaha. Masih kenyang ini.. sabar dong. Bawel kamu! Aku seharian belum makan nasi.? Katanya sambil membenarkan posisi duduknya

?Yeee siapa juga yang tanya kamu udah makan apa belum.?

?Hahahahaa gitu amat sih, mbak? Ini tadi baru selesai lembur tugas di kosnya temen. Berhubung lapar dan aku lihat ada nasi goreng ya aku berhenti. Lha kamu? Lembur juga ya? Kasian! Kosanmu dimana sih??

?Tuh.? Jawabku singkat sambil menunjuk rumah kosku

?Oh yaudah.Eh, jangan sering begadang. Jaga tuh kesehatan kamu. Ntar sakit kamunya. Aku balik dulu. Bye!?

Oh Tuhaaannnnnn apa ini? MIMPIKAH INI?? Kalimatnya! Kalimatnya!!!! Bisa diulangi lagi gak ya? Aku pasang muka cemberut waktu itu. Tapi sebenarnya dalam hati aku tertawa kegirangan. Lalu aku tersadar dari lamunanku karena kalimat yang bapak penjual nasi goreng ucapkan.

?Mbak, nasi gorengnya sudah jadi. Monggo.?

?Oh iya, Pak. Terimakasih, Pak.? Jawabku sembari memberikan uang untuk membayar nasi goreng. Lalu aku kembali ke kamar kos yang ada di lantai dua. Selama berjalan aku masih memikirkan omongan Odi. Ternyata dia juga bisa perhatian. Ternyata dia tidak se-menyebalkan itu. Haha. Dasar ODI! Tidak terduga.

??????????? Hari-hari setelah itu berjalan sedikit berbeda. Sebelumnya, setiap kali bertemu Odi aku hanya mengangguk begitu pun dia, kali ini aku memanggil dia. Hari ini hari Senin, ada UAS.

?Hei, Di!? Sapaku

?Hei juga. Kuliah di kelas mana? UAS??

?Iya UAS. Di E8 203. Kamu sendiri dimana??

?Di E8 204. 30 menit lagi.?

?Oh yasudah, Di. Aku duluan ya. Mau ngerjain tugas yang lain dulu mumpung belum masuk. Udah ditungguin anak-anak yang lain soalnya.?

?Oke.? Jawabnya singkat

??????????? Entahlah, setelah malam itu semuanya mencair begitu saja. Ternyata dia benar-benar seperti kesan pertama yang aku rasakan. Asyik, nyambung diajak bicara. Aku semakin menyukai dia. Gayanya, semua yang ada di dirinya. Aku suka. Ya, kalau boleh di bilang sih, dia paket lengkap.

??????????? Aku berjalan menuju ruang kelas. Disana sudah tampak beberapa teman sedang sibuk mengerjakan tugas untuk mata kuliah yang lain, karena waktu kami juga semakin sedikit. Jadi harus bisa memanfaatkan waktu yang ada. Lalu aku turut bergabung dan mulai mengerjakan juga. Semakin lama semakin ramai saja di depan kelas ini. Teman-teman sekelas sudah hampir datang semua. Tidak lama kemudian dosen datang dengan gaya khasnya, menenteng tas kulit berwarna hitam di tangan kirinya. Kelas dimulai. Selama kelas berlangsung pikiranku selalu tertuju pada Odi. Hatiku bergumam.

?Odi. Seandainya kamu tau ada sebuah hati yang memiliki perasaan lebih dari sekedar teman yang saling sapa-menyapa. Di, gimana caranya biar kamu tau? Gimana? Gimana???

??????????? Lamunanku dibuyarkan oleh salah satu teman.

?Woiii. Ngelamum mulu deh! Mikir apa sih??

?Ih kepo deh! Bukan apa-apa. Hehe.? Jawabku dengan tersenyum

?Nahloh sumringah banget sih wajahnya. Lagi jatuh cinta nih kayaknya. Terlihat dari mata kamu tuh. Siapa dia? Siapa? Hayoo hayoo. Hahaha.?

??????????? Oh iya, temanku ini memang jago membaca pikiran orang. Hampir semua tebakannya benar dan sialnya, aku hampir tidak pernah berhasil berbohong kepadanya. Apalagi urusan hati. Akhirnya aku menceritakan semua kejadiannya setelah dosen keluar kelas untuk mengambil barangnya yang tertinggal di ruangannya.

?.....jadi gitu. Menurutmu bagaimana?? kataku mengakhiri cerita

?Hmm. Lanjut dulu deh. Siapa tau dia juga punya perasaan yang sama kayak kamu. Good Luck for Odi. Eh, sorry keceplosan. Aku seneng sih kalo temenku sumringah gini haha. Daripada mukanya kusut terus.? Jelasnya

?Heh! Ga bisa jaga mulut nih anak! Untuk yang lain pada serius enggak dengerin kita curhat.?

??????????? Dosen kembali, jam mata kuliah berakhir. Aku teringat Odi. Dia bilang kelasnya bersebelahan dengan kelasku, E8 204. Aku langsung menuju kesana, mengintip di sela-sela lubang jendela kelas. Mataku seperti elang yang mencari mangsanya. Meneliti satu-persatu orang yang ada di kelas. Hasilnya nihil. Aku tidak menemukannya. Hatiku kembali bergumam.

?Kamu dimana, Di? Kok gak ada dikelas??

?Hei. Cari siapa?? Kata seseorang sambil menepuk pundakku dan membuatku kaget. Dia Odi! Iya dia Odi. Aku jadi salah tingkah.

?Hee.. eee gak cari siapa-siapa kok. Lah kamu darimana kok diluar bukannya di dalem?? jawabku dengan berusaha membuat diriku terlihat se-biasa mungkin.

?Iya dari toilet tadi. Aku masuk dulu ya.? Jawabnya singkat sembari menata rambutnya.

Ya Tuhaaannn. Auranya!! Bening!

?Oke.? Jawabku singkat

??????????? Aku memutuskan untuk pulang. Hari ini aku merasa senang sekaligus malu. Senang karena dia menjawab sapaanku dan menyapaku terlebih dahulu ketika aku mencari dia di kelasnya. Malu karena salah tingkah ternyata orang yang aku cari ada diluar kelas. Entahlah waktu itu wajahku terlihat bodoh atau gugup atau terlihat biasa. Aku tidak tahu. Sesampainya di kos aku menulis di buku harianku.

Dear diary,

Aku ketemu Odi. Kami saling sapa. Aku seneng banget bisa ketemu sama dia. Kapan ya dia bisa tau perasannku sama dia? Hahahaha. Tapi aku enggak mau keburu dulu, ah. Biar jalan kayak gini dulu. Semoga besok bisa ketemu dia lagi. Aamiin.

??????????? Aku menutup buku harianku dan tidur mulai dari senja hingga bertemu dengan pagi.

??????????? Keesokan harinya aku bangun sekitar pukul 06.30 WIB. Kuliah dimulai pukul 8.45 WIB. Sehingga masih ada waktu untuk bersantai. Tidak ada tugas untuk hari ini. Tapi ada UAS. Astaga! Aku lupa kalau hari ini masih ada UAS. Handphoneku berdering. Aku mengabaikannya. Lalu aku menonton televisi, pindah beberapa channel tidak ada yang menarik. Akhirnya aku mengalihkan perhatianku pada sebungkus susu bubuk kesukaanku. Aku menyeduhnya lalu menikmati sendirian. Iya, sen-di-ri-an. Aku sekamar sendiri. Terdengar anak-anak kos lain mengantri untuk mandi dengan kalimat-kalimat yang khas. ?Halo siapa di dalam? Ada yang ngantri gak? Aku ngantri ya?? Membosankan. Setiap hari seperti itu. Pagi dan sore sama saja.

??????????? Setelah puas menikmati segelas susu aku berkemas untuk kuliah. Lalu aku berjalan menuju kamar mandi. Beruntung aku hari ini karena tidak ada yang mengantri. Itu artinya aku bisa bersiap-siap lebih cepat.

??????????? Aku sudah siap berangkat. Seperti biasanya, aku berangkat dengan harapan bisa bertemu dengan Odi walau pun hanya beberapa saat saja. Dia lah jangkar semangatku di kampus sekarang selain teman-teman dekatku.

??????????? Setelah sampai di kelas, aku heran. Tidak ada satu pun yang datang. Lalu aku menelepon ketua kelas.

?Halo.. hei! Kok gak ada yang datang sih??

?Lho gimana sih? Kan udah di jarkom tadi sama Novi. Dosen tidak hadir dan tidak ada UAS untuk mata kuliahnya. Kuliah di tiadakan. Emangnya kamu gak terima jarkom-an?? jelasnya panjang lebar

?Oh gitu. Yasudah.? Jawabku singkat

Tut..tut..tut.. telepon aku akhiri.

Terpampang di layar handphoneku ?1 message from Novi? yang belum aku buka.

?Dosen tidak hadir dan tidak ada UAS untuk mata kuliahnya. Kuliah ditiadakan. Thanks.?

??????????? Ah, sial! Kenapa aku lupa membuka pesannya? Padahal aku tau kalau aku menerima sms. Jadilah aku kembali ke kos dengan hati sedikit dongkol.

?Tin.tin!? bunyi klakson yang berhasil menyita perhatianku. Aku menoleh. Dia Odi!

?Eh, Odi.?

?Iya. Duluan ya, Nin! Udah telat nih.? Katanya terburu-buru

?Oh, oke!? jawabku singkat

??????????? Perasaan hati yang semula dongkol berubah menjadi semangat. Karena siapa lagi kalau bukan karena bertemu dengan Odi. HAHAHAHAHA. Odi selalu muncul di saat-saat yang tidak terduga.

??????????? Aku sampai di rumah kos. Aku duduk di kursi teras. Melepas sepatu dan kaus kaki lalu masuk dan naik ke lantai dua. Terlihat pintu geser berwarna hijau. Itu kamarku. Sudah dua tahun ini aku tinggal disini. Aku membuka pintu dan kemudian merebahkan tubuhku diatas kasur yang lumayan empuk. Aku masih terbayang wajah Odi. Hatiku berguman lagi.

?Ah, Odi. Kamu berhasil merubah mood ku yang jelek jadi semangat.?

??????????? Tidak terasa aku terlelap.

??????????? Singkat cerita, keesokan harinya masih dengan rutinitas yang sama dan juga dengan harapan yang sama. Hari-hari menjadi berbeda lagi. Kalau kemarin Senin aku bertemu dengan dia, selanjutnya, hari Selasa, Rabu, Kamis aku tidak melihat dia. Entahlah, mungkin karena jadwal yang crash atau yang lainnya. Hari ini hari Jum?at, hari terakhir UAS dan hanya ada satu mata kuliah. Itu pun dimulai pukul 09.35 ? 11.20 WIB saja. Longgar. Aku berangkat pukul 09.15 WIB.

??????????? Seperti biasanya, mataku seperti mata elang mencari sosoknya di setiap sudut gedung dan di halamannya. Tiba-tiba ada suara yang memanggilku.

?Ninaaaa! Kumpul sini! Ada yang mau dibicarakan.? Teriak salah satu teman perempuanku yang jago membaca pikiran itu. Aku segera menghampirinya. Ternyata disana sudah ada teman-teman yang lain. Ada satu lagi yang mengejutkanku.

?Hei semua. Maaf telat. Baru keluar kelas. Hehe. Udah lama kalian?? Katanya masih dengan gaya khasnya : menata rambutnya.

Auranyaaa! Selalu bening! Sekali lagi aku mencoba biasa di depannya.

?Belum kok. Nih juga Nina baru dateng.?

?Oh. Yaudah ada apa nih?? Tanyanya.

?Begini, gimana kalau kita tahun baruan bareng disini? Ada yang punya usul menginap di villa, ada yang punya usul camping di pantai. Enaknya gimana, guys??

?Terserah deh aku ngikut.? Jawabku singkat

?Aku juga ngikut deh.? Kata Odi turut menjawab dengan jawaban yang sama.

?Kalau begitu, kalian siap ya apa aja keputusannya??

?Yoi.? Jawab Odi singkat

Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala.

??????????? Mereka menyusun rencana dan mendapat sebuah kesimpulan.

?Oke. Udah dapat nih. Jadi begini, nanti kita gak ke villa atau pun camping di pantai. Tapi kita bukit yang bisa lihat pemandangan malam terus kita bikin acara kecil-kecilan deh. Ada makan-makan sama sharing. Sambil menunggu pergantian tahun, kita nulis target-target kita di tahun depan lalu masing-masing membacakan targetnya terus kita aminin bareng-bareng. Setuju kan? Pastinya kan? Iya kan?? Jelasnya panjang lebar.

Semuanya mengangguk tanda setuju.

?Terus, masalah kendaraan, nanti aku sama dia (menunjuk seorang teman), kamu sama kamu ya, (dan memasang-masangkan yang lainnya juga. Hingga yang terakhir aku) dan Nina sama Odi ya.? Jelasnya panjang lebar lagi.

Mengangguk lagi, tanda setuju.

Lagi dan lagi, hatiku bergumam.

?Ya Tuhaannn terimakasihh. Ini kesempatan buatku bisa dekat dengan dia.?

?Yasudah aku balik dulu ya, guys? Mau istirahat dulu. Capek nih. UAS terakhir sih tadi, tapi meres otak juga. Haha. Bye!?

??????????? Odi berpamitan pulang. Aku masih dengan teman-teman. Disini hanya dia yang berbeda kelas dan akrab dengan teman-teman kelasku. Itulah sebabnya teman-temanku mengajaknya merayakan tahun baru bersama.

?Eh, nanti malam ngopi yuk! Kan UAS nya ntar udah selesai. Refreshing kek. Mau ya?? kata seorang teman

?Oke deh siaapp!? jawab yang lain

Lalu waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Itu artinya kami harus segera memasuki ruang kelas agar tidak terlambat dan mengikuti UAS hingga selesai.

UAS berlangsung lancar. Akhirnya selesai juga ujian selama 5 hari ini. FREE!!

Malam tiba. Handphoneku berdering.

1 message from Nano

?Ayo jadi kan ngopinya? Di tunggu di tempat biasa ya, guys??

?Oke. Meluncurr!? Jawabku

Aku langsung mandi dan ganti baju kemudian berangkat menuju tempat biasa aku dan teman-teman menghabiskan waktu bersama. Disana sudah ada beberapa teman yang hadir termasuk Odi. Iya! Odi datang juga! Moodboosterku ada juga ternyata! Aku langsung bergabung bersama mereka setelah memesan segelas cappucino. Pesanan datang dan mulailah obrolan kami malam itu. Seperti biasa, kami memainkan sebuah permainan. Kali ini permainan ?Truth or Dare?. Permainan menyebalkan. Disitulah rahasiaku terungkap. Singkat cerita saja. Akhirnya dia tau perasaanku. Ya, akhirnya dia tau. Aku tidak tau apa yang ada dipikirannya saat itu. Pikiranku langsung buyar. Aku menjadi melamun. Takut kalau setelah ini dia malah berubah menjauh. Setelah permainan selesai dan pulang aku mengirim pesan singkat kepadanya menyampaikan permintaan maaf atas kejadian Truth or Dare tadi. Dia memaklumi dan mengaku sudah mengetahui perasaanku bahkan sebelum permainan itu dimainkan teman-teman. Aku sama sekali tidak menyangka. Dari mana dia bisa tahu? Awkward moment.

??????????? Keesokan harinya aku berharap semua seperti biasa saja. Aku menjadi canggung. Aku bangun pagi masih dengan perasaan kacau. Bukan peraaan takut dia tidak membalas perasaanku, tapi takut kalau seandainya dia berubah setelah kejadian itu.

***

??????????? 31 Desember aku kembali ke tempat rantau (Malang) yang jaraknya memakan waktu sekitar 4 jam dengan bus umum dari kotaku, Lumajang. Tanpa kepastian konfirmasi dari teman-teman jadi atau tidaknya merayakan tahun baru bersama aku berangkat hanya bermodalkan keputusan akhir teman-teman saat hari jum?at terakhir UAS.

??????????? Akhirnya aku sampai di rumah kos. Aku naik ke lantai dua, memasuki pintu geser berwarna hijau. Seperti kebiasaanku, aku langsung merebahkan tubuhku. Aku terlelap. Lalu terbangun karena suara bising dari jalan raya sore itu. Jalanan ramai sekali. Aku berjalan keluar kamar dan memandangi jalanan. Hatiku bergumam lagi dan lagi.

?Salah satu pengendara motor disana.. Ada Odi gak ya??

??????????? Odi. Odi. Odi. Dia selalu dipikiranku. Aku kembali masuk kamar dan aku melihat lampu led handphoneku menyala. Ada pesan masuk dari teman-teman. Isinya adalah acara tahun baruan bersama GAGAL. Salah satu dari kita ada yang berhalangan hadir. Tidak lama kemudian handphoneku berdering. Ada panggilan masuk. Tertulis nama ODI. Tanpa pikir panjang aku langsung menjawab panggilan darinya.

?Halo, Di. Ada apa, Di? Tumben telfon??

?Eh, itu lho. Nanti malam gak jadi ya? Padahal aku udah di Malang loh. Sayang banget. Terus ngapain dong disini.?

?Oh iya. Aku juga baru tau. Aku juga di Malang. Tadi aku berangkat gak tanya-tanya dulu sih jadi apa enggak. Hahahaha. Jadi krik krik di kosan. Palingan besok aku pulang lagi deh.?

?Hahaha ternyata kamu juga udah di Malang ya. Hmm, gimana kalo nanti malam keluar aja. Berdua aja deh. Mau gak? Daripada dikosan kesepian. Ya kan??

?...........? Aku terdiam. Aku tidak menyangka dia akan mengajakku keluar malam ini. Hmm, aku tidak boleh percaya diri dulu. Siapa tau dia mengajakku karena alasan tidak ada lagi yang bisa diajak selain aku.

?Halooo... Ninaaa! Bisa gak, Nin??

?Eh. Iya. Eh.. Hmm.. Mau kemana emangnya, Di?? tanyaku gugup

?Kemana aja deh daripada suntuk dikosan. Jam 8 malem ntar ya. Aku tunggu di nasi goreng depan kosan kamu ya??

?................? Aku terdiam lagi.

?Ninaa. Kok diam? Gak mau ya??

?Eh. Enggak. Maksudnya, iya mau kok. Mau. Okedeh. Jam 8 kan ya? Sip sip.?

?Oke deh. Kok gugup gitu sih hahaha lucu kamu tuh. Aku tutup dulu ya telfonnya. Bye. Siap-siap ya ntar malem aku sms kalo sudah disana. Bye.? Jelasnya

?Oke, Di. Bye.? Jawabku singkat

??????????? Aku menutup telepon dan tertawa kegirangan seperti anak kecil baru mendapat hadiah. Aku sulit mendeskripsikan perasaan bahagia waktu itu. Nanti malam dia menungguku di tempat penjual nasi goreng di depan. Ya Tuhaann. Aku mimpi apa semalam? Aku segera memilih baju yang cocok untuk aku kenakan nanti malam.

??????????? Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Satu jam lagi. Satu jam lagi dia datang di depan sana. Dia mengajakku keluar. Aku masih sibuk bersiap-siap. 19.30 WIB. Aku sudah siap. Setengah jam lagi.

??????????? Suara jarum jam dinding kamar menemaniku. Disini begitu sepi. Aku menunggu handphoneku berdering. 20.00 WIB. Inilah saatnya. Aku tersenyum menatap layar handphone berharap ada pesan masuk dari dia. 20.05 WIB. 1 message from ODI

?Aku di depan. Kamu keluar ya.?

??????????? Tanpa membalas pesan singkat darinya aku segera turun menuju bapak penjual nasi goreng. Tapi tujuanku bukan nasi goreng, melainkan menghampiri Odi. Saat itu aku mengenakan blouse kuning+cardigan serta celana jeans dan flat shoes berwarna krem yang selalu aku kenakan.

?Udah siap, Nin? Yuk berangkat.?

?Udah, Di. Yuk. Kita kemana??

?Gak tau, Nin. Bingung juga nih aku. Asal jalan aja ya. Siapa tau nanti nemu tempat yang pas. Eh jangan lupa ini malam tahun baru loh.?

?Oh. Oke. Lho kenapa emangnya, Di?? tanyaku penasaran

?Ya gak kenapa-kenapa sih. Cuma ngingetin aja. Yasudah yuk naik.?

??????????? Tanpa banyak bicara aku segera menuruti perkataan dia. Dadaku berdegup kencang. Aku tidak pernah seperti ini. Aku sudah lama tidak merasakan seperti ini. Aku bahagia.

??????????? Lalu kami berhenti di sebuah alun-alun yang disini populer dengan salat satu wahananya yaitu bianglala : Alun-alun Kota Batu. Ada terbersit satu keinginan menaiki wahana itu dengan dia. Tetapi aku hanya memendamnya saja. Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB.

??????????? Kami duduk di salah satu bangku di dekat bianglala. Flat. Semuanya flat. Ada apa dengan diriku? Aku terdiam. Hatiku kembali bergumam. Kali ini lebih panjang dan lama.

?Kenapa aku diam? Bukankah ini yang aku inginkan? Bukankah moment seperti ini yang aku impikan dari dulu? Berdua dengannya. BERDUA. Dia sudah ada di depan mata. Dia ada disini. Sekarang dia disini. Disampingku. Kenapa aku diam saja? Ada apa ini? Ayo Ninaaa!! Bukankah ini yang aku inginkan. Ayo Nina. Ayo! Bicara! Bicara!!

??????????? Akhirnya aku memutuskan untuk memulai pembicaraan.

?Di..?

?Iya? Kenapa? Kamu tadi ngelamun ya??

?Hehe. Iya, Di. Maaf. Tadi kepikiran sesuatu aja.?

?Kepikiran apa, Nin? Boleh cerita kok.?

?Ee.. Hehe. Malu, Di. Nanti kamu ketawa.?

?Hahahah yaudah aku ketawa duluan deh biar paskamu cerita aku gak ketawa. HAHAHA.? Tertawanya mengejek.

?Ih apaan sih.? Aku memasang mimik sebal

?Lho lho kok gitu, Nin? Emangnya kepikiran apa sih??

?Mmm.. mm.. Kepikiran kamu.? Jawabku singkat

?Ha?? Kok bisa?? dia memandangi aku penuh heran dengan dahi mengernyit

?Ya enggak tau. Kepikiran aja.?

?Ngapain dipikirin sih?? Aku kan disini.? Jawabnya sembari mendekat padaku. Iya! Dia mendekat. Tepat disampingku, persis!

?....? Aku hanya tersenyum tanggung.

??????????? Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Tidak terasa aku sudah sekitar 2 jam duduk disini dan tidak melakukan apa-apa. Maksudku, aku juga tidak berbicara banyak kepada Odi. Posisi dudukku dan Odi tetap mepet. Lagi-lagi aku mencoba se-biasa mungkin di depan dia.

??????????? Detik demi detik, menit demi menit berlalu. Terdengar pengumuman.

?Untuk para pengunjung diharapkan berkumpul. Akan diadakan perta kembang api untuk tahun baru kali ini. Sekali lagi. Pengunjung alun-alun diharapkan segera berkumpul. Terimakasih.?

??????????? Aku dan Odi segera beranjak dari bangku dan berkumpul dengan pengunjung yang lainnya. Hanya tersisa beberapa menit lagi menuju pergantian tahun. 2014 akan segera datang. Pengumuman terdengar lagi, meminta para pengunjung harap tenang dan menghitung mundur sepuluh detik terakhir di tanggal 31 Desember ini.

10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, Pesta kembang api dimulai. Terdengar bunyi terompet mainan yang ditiup pengunjung-pengunjung yang lain. Semua bersorak menyambut pergantian tahun. Aku melihat handphoneku. Tertera tanggal 01 Januari 2014. Aku memejamkan mata. Aku memiliki banyak harapan untuk tahun ini. Salah satunya yaitu..

"Ya Tuhann, adakah kesempatan untukku bisa mengenalnya lebih jauh lagi? Adakah kesempatan untukku setiap hari bisa melihatnya? Adakah kesempatan untukku bisa selalu bersamanya? Adakah kesempatan untukku bisa selalu berbicara dengannya? Adakah kesempatan untukku lebih dekat lagi dengan dia? Bila ada kesempatan untuk itu semua, berikan padaku Tuhann. Aamiin."

??????????? Aku kembali membuka mataku dan menoleh kearah kanan. Ada Odi. Dia tersenyum kepadaku dan aku pun membalas senyumnya. Ternyata senyumannya begitu manis. Aku selama ini tidak pernah memperhatikan senyuman Odi yang seperti itu. Kali ini dia berbeda. Senyumannya terlihat begitu tulus. Seperti tidak ada keterpaksaan.

?Baru make a wish ya, Mbak? Pake merem segala.? Katanya sambil tersenyum.

Aku hanya menjawabnya dengan senyuman dan kembali menikmati keindahan kembang api di langit sana. Semuanya indah. Malam ini tidak akan terlupakan.

Waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB. Sudah larut malam, tetapi jalanan belum sepi. Aku memutuskan untuk pulang dan Odi mengiyakan. Ada satu hal yang mengejutkan dalam perjalanan pulang menuju rumah kos.

?Tangan kamu mana, Nin?? katanya tiba-tiba.

?He? Tangan? Buat apa?? tanyaku sambil mengernyitkan dahi.

?Udah sini. Terserah tangan yang mana aja. Cepet.?

?Nih.? Aku menjulurkan tangan kiriku kepadanya. Dia meraihnya dan melingkarkan tanganku di pinggulnya. Aku terkejut tapi aku hanya diam keheranan. Ada apa dengan dia?

?Yang satunya, Nin??

?....? aku hanya terdiam dan menjulurkan tangan tanganku kepadanya. Dia melakukan hal yang sama. Melingkarkan tanganku ke pinggulnya.

?Nah gini kan enak.? Katanya sambil menoleh ke arahku dan tersenyum. Masih dengan senyum yang sama.

?......? aku masih belum mengerti apa maksud dari apa yang dia lakukan barusan.

?Nin. Kok diam saja??

?E...e. maksudnya ini apa, Di?? tanyaku penasaran. Aku dari tadi hanya terdiam. Antara senang dan bingung. Ini mimpi atau kenyataan.

?Hehe. Kamu.. mau gak jadi cewek aku??

??????????? WHAATTT!!???! APA YANG DIA UCAPKAN BARUSAN??

?Hah???? jawabku pura-pura tidak mendengar

?Kamu mau gak jadi pacarku??

?Hmm...? aku berpikir keras. Hatiku berkata, ?IYA, DI. IYA!? seketika aku seperti orang bisu. Speechless.

?Mau gak, Nina??

?Emm.. m.. Iya, Di. Mau. Kamu gak bercanda kan? Kamu serius kan, Di?? tanyaku

?Iyaa aku serius Ninaaa. Aku juga suka sama kamu, Nin. Semenjak kita saling sapa di kampus.?

?Oh. Hehe, terus??

?Yaudah. Kita sekarang pacaran.?

?Oh, iya. Hehe.? Jawabku singkat.

??????????? Sepanjang sisa perjalanan pulang. Dia memegangi tanganku yang masih melingkar di pinggulnya. Sesekali merapatkan kedua tanganku. Aku bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya apa yang aku impikan sejak lama terjadi juga. Aku tidak bisa berkata-kata lagi.

***

Satu hal yang perlu di ingat. Jangan pernah kehilangan harapan dan keyakinan. Apabila kita memiliki perasaan kepada orang lain dan kita yakin orang itu yang benar-benar kita inginkan, percayalah suatu saat nanti dia akan berbalik arah! Sekali pun perasaan itu kita pendam dan tidak kita ungkapkan, perasaan itu tetap perasaan. Tidak akan berubah. Percayalah bahwa akan ada keajaiban setelahnya.

  • view 163