Maka Merantaulah

Fiqly R. Ardiana
Karya Fiqly R. Ardiana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Desember 2016
Maka Merantaulah

Imam Asy-Syafi’i. Beliau adalah seorang ahli fiqh mempunyai akal yang tajam serta piawai dalam membuat sya’ir. Dalam ketajaman fiqh beliau yang terdahulu sempat disebut-sebut Abu Muhammad oelh Imam Ahmad Bbin Hanbal yang kisahnya dicatat oleh Imam Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i yang setelahnya bagaimana kisah ini menjadi awal pertemuan mereka dan berujung menjadi sahabat sepengetahuan serta saling bertukar pikiran tentang kepemahaman dalam beragama.

Dalam bidang fiqh beliau menyusun sebuah kitab Ushul Fiqh dengan ketakwaan yang sungguh, dengan keringat dan peluh. Beliau mampu menyusun hingga menjadi rujukan para ulama dan shalihin setelahnya dan juga menjadi salah satu rujukan serta bahan pertimbangan bagi masalah-masalah fiqh yang baru, hingga sahabatnya pun Imam Ahmad bin Hanbal menuturkan, “Jikalau bukan karena Asy-syafi’i, aku tidak akan mengetahui fiqh dari sebuah hadits”. Hingga kini kitab beliau masih menjadi sebuah rujukan bagi perkara-perkara hadits dalam pandangan fiqhnya.

Tidak berhenti dalam masalah fiqh, beliau juga mahir dalam hal bersyair yang ia dapatkan dan telah ia petik ibroh dari setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, hingga bertahun-tahun, beliau berhasil menyusun sebuah kitab yang berjudul Diwani Asy-Syafi’i.

Diantara syair beliau yang sangat perlu kita ambil setiap makna dari rajutan katanya “Merantaulah”, beliau menuturkan dalam kitabnya syairnya, “orang berilmu dan beradab tidak akan beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negeriu dan hidup asing (baca: Di negeri orang).

Pertama-tama kita mengetahui bahwa merantau sering terucap lewat kalimat “mengadu nasib diperantauan”. Ya, ia bermakna pergi dari kampung halaman, seperti yang kita sering tafsirkan lewat akal. Maka sebagaimana kita ketahui pula meratau adalah sebuah tradisi yang dari moyang Minangkabau bermula di sekitar Semenanjung Malaka hingga daerah di pulau Sumatra lainnya. Kini tidak hanya disekitar Sumatra dan pulau-pulau sekitarnya, melainkan telah tersebar keseluruh dunia.

Lalu demikian kita bertanya mengapa masyarakat Minangkabau suka merantau? Dalam situs kompasiana.com yang dianalisa oleh Akbar Pitopang. Beliau menuturkan setidaknya ada enam  alasan mengapa masyarakat Minangkabau merantau.

Pertama. Tradisi dan kebiasaan yang sudah diajarkan oleh nenek moyang orang Minangkabau sejak zaman dahulu kala.

Kedua, Faktor ekonomi. Banyak ditemui para perantau didaerah tempatnya merantau melakukan kegiatan berdagang. Dari mulai yang paling kita kenal dengan rumah makan padang hingga pedagang di pusat grosir tanah abang.

Ketiga. Faktor sosial. Jika salah satu anggota masyarakat meraih kesuksesan ketika merantau, dan merasa telah membawa keberhasilan mereka tersebut ke kampung halaman, lalu mereka yang berleha akan termotivasi hatinya tuk bergegas merantau. perantau yang meraih keberhasilan memenangkan nasib baikknya akan lebih dihormati dan dihargai dikampung mereka.

Keempat. Faktor pendidikan. Para perantau senantiasa tidak hanya berdagang atau sekedar mengadu nasib semata, akan tetapi mereka berminat untuk menuntut ilmu baru. Hingga mereka dapa bertahan dengan segala kemampuan yang ia kerahkan tuk belajar.

Kelima. Faktor pepatah adat. Banyak pepatah minang yag berisikan motivasi dan lecutan bagi para calon yang hendak merantau. beberapa diantara ialah “jangan hanya berbangga diri dikampung”, malah yang sering kita dengar hingga saat ini adalah lecutan “jangan mau seperti katak dalam tepurung”. Kesemuanya itu dapat membuat mereka terpacu dan syarat akan makna yang mendalam. Hingga akhirnya memutuskan untuk merantau.

Keenam. Faktor kemandirian. Kemandirian disini bisa diartikan banyak hal. Tidak hanya mandiri dari ekonomi saja, namun juga dituntut untuk kepribadiannya. Para orangtua perantau sangat berharap banyak pada kesuksesan yang akan diraih oleh putra dan putrinya kelak diakhir.

            Setelah keenam faktor tersebut, bahwasannya kita memaknai kata merantau sebagai sebaik-baik pembelajaran, sekokoh pengetahuan, seramah-tamah adab. Hingga kita tersadar perantau akan menemui watak serta karakter yang baru. Ia bermula dari akal dan sudut pandang serta kesensitifan orang dimana ia berpijak serta melangkahkan kaki. Mereka akan belajar mengasah kepandaian dalam bertutur kata, bertegur sapa. Hingga sang lawan bicara tak tersinggung.   

 ¨           ¨           ¨

Maka kita bisa berkaca pada kisah sang anak durhaka penuh nista pada ibundanya. Hingga murka menjelma serupa kata “jadilah batu” seru ibu pada anaknya yang durhaka lagi menuhankan harta. Nampaklah batu yang tertancap rapat-rapat di pantai air manis.

Berkisah pada tokoh yang durhaka lahir dari keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Terdiri dari seorang Ayah, Ibu, dan anak yang beri nama Malin Kundang. Kehidupan yang sangat memprihatinkan, penuh dengan kesulitan dan jauh dari kata mapan. Melihat kondisi kehidupan begitu pelik hingga pelik, sang ayah yang memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas lagi ganas, berharap akan bisa merubah nasib kehidupan yang keras. Maka tinggalah si Malin dan ibunya di gubug kecil mereka menetap.

Minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan sudah satu tahun lebih lamanya, ayah malin tak juga kembali ke gubuk kecilnya. Bahkan kabar keberadaanya pun sudah tidak terdengar lagi. Sang ibu yang bisa pasrah menerima kenyataan bahwa hingga saat itu sang suami tak berada disampingnya lagi, entah berada dimana ia sekarang.

Hari-harinya kini dilalui berdua, ibunya pertama-tama menjadi tulang rusuk sang ayah kini berbalik jauh mengambil posisi sebagai tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah. Semua pekerjaan seberat apapun selama yang ia dapatkan halal dari peras keringatnya jiwa raga dikerahkan dengan pemenuh kesabaran demi menghidupi anak semata wayangnya Malin Kundang.

Dikisahkan Malin adalah termasuk anak yang cerdas namun sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam lalu memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya terluka akibat batu. Hingga luka menjadi bekas yang tak bisa hilang.

Setelah beranjak remaja, Malin sudah mulai berpikir tentang kehidupan keluarganya. Malin merasa kasihan dengan kondisi ibunya yang bekerja keras mencari nafkah untuk menghidupi dan membesarkan dirinya. Terbesit niat serta tekad yang kuat tuk mencari nafkah di negeri seberang dengan berharap pulang kelak ia akan menjadi seorang yang kaya dan bisa membalas jasa ibunya, membahagiakan hingga membanggakan keluarganya.

Saat Malin berada di pantai, ia memperhatikan seorang nahkoda yang tidak lain adalah tetangganya. Ia melihat bagaimana nahkoda tersebut menjadi kaya nan raya dan hidup serba ada. Ia dengan ragu mendekat dan bertanya akan keberhasilannya. Dan sang nahkoda pun menceritakan bagaimana kisah hidupnya dimulai. Lalu Malin pun terpikat ingin seperti nahkoda tersebut. Hingga akhirnya sang nahkoda pun menawarkan Malin untuk ikut berlayar dengannya. Setibanya Malin di gubuk tempat ia menetap bersama sang ibu, ia memberanikan tuk mengutarakan niatnya kepada sang ibu.

Malam hari Malin mulai berdialog dengan ibunya. Saat Malin mengutarakan kemauannya, sang ibu dengan serta merta keberatan, karena Malin anak satu-satunya dan harta paling berharga dalam hidupnya, namun ketika Malin tersu mendesak, ibu Malin Kundang akhirnya menyetujui dengan berat hati.

Setelah mempersiapkan bekal pada keesokan harinya dan perlengkapan secukupnya, Malin bergegas enuju ke dermaga yang diantar oleh ibunya. Sebelum kapal berlayar ibundanya berpesan dengan lirih pedih dan air mata yang melinang “Anakku” tutur sang ibu, “jika engkau berhasil menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamanmu ini, nak”, ujar sang ibu sembari melepas kepergian anak tercinta dan satu-satunya.

Kapalpun mulai berlayar dan semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan sang ibu Malin yang tersuk terisak tangis sedih. Hingga kini sang ibu hanya hidup sebatangkara. Hingga yang ia miliki hanyalah ssebuah harap cemas untuk bisa bertemu kembali dengan anak kesayangannya kelak.

Selama berada di kapal, Malin banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang telah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin diserang oleh bajak laut. Semua barang dagangan serta para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di atasnya tumpah ruah bersimbah darah setelah diserang hingga dibunuh oleh bajak laut. Akan tetapi Malin sangatlah beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin bersembunyi di sebuah ruang kecil lagi sempit yang tertutup oleh kayu. Pada akhirnya iapun terkatung-katung di tengah lautan, hingga akhirnya kapal yang ia tumpangi terdampar disebuah pantai.

Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang bergegas bangun dengan keberadaanya yang jauh dari ibunya dan tak tau harus kemana melangkah, dengan inisiatif ia berjalan. Berharap ada desa di pulau yang ia singgahi, hingga pada akhirnya ia melihat sebuah desa. Sesampainya disana ia ditolong oleh masyarakat yang menetap di desa itu setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Sebuah keajaiban yang didapatkan oleh Malin bahwa desa yang ia ditolong oleh masyarakatnya adalah desa yang subur. Di sanalah Malin mulai merintis kehidupannya. Bertahun-tahun Malin bekerja siang hingga malam, sampai pada akhirnya dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, ia berhasil menjadi seorang yang sukses nan kaya raya serta memiliki banyak kapal dagang dengan anak buahnya yang jumlahnya lebih dari 100 orang.

¨            ¨           ¨

Sebakdanya Malin menjadi kaya. Malin mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya. Gadis tersebut anak dari seorang saudagar yang juga sederajat dengannya. Hingga ia pun mendapat restu ayah dari sang gadis itu dan dinikahkan. Pada akhirnya berita Malin Kundang yang kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Sang ibu merasa bersyukur dan sangat gembira anak kesayangan dan satu-satunya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, berharap anaknya pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan elayaran dengan kapal besar nan indah disertai anaka buah kapal serta pengawalnya tak terhiung jumlahnya. Sesampainnya kapal Malin berlabuh di sebuah dermaga yang mana dermaga itu adalah tidak lain tempat dimana Malin kecil sering bermain.

Saat kapal Malin berlabuh di dermaga, salah seorang penduduk yang merupakan kerabat dekat Malin melihat dan mengenalinya makan dengan penuh gesa orang tersebut berlari menju tempat dimana ibu Malin Kundang berada, langsung sang ibu dikabarkan saat itu juga sang ibu pun langsung bersegera menuju dermaga.

Hingga pada akhirnya sang ibu melihat kapal yang sangat indah mehwah dan megah itu masuk ke dermaga. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri diatas geladak kapal. Ia sangat meyakini bahwa yang sedang berdiri tegap itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya. Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah anak semata wayangnya Malin Kundang.

            “Malin Kundang”, lirihnya sambil bertanya, “anaku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirim mengirim kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. “wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebegai ibuku”, kata Malin dengan penuh emosi pada ibunya. Malin berpura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan keadaan ibunya yang sudah tua renta dan memekai pakaian compang samping seadanya. “Wanita itu ibumu?”, tanya sang istri kepada Malin. “Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan hartaku”, sahut Malin kepada istrinya.

            Akhirnya Malin pun memerintahkan kepada awak kapalnya untuk kembali naik dan berlayar kembali meninggalkan dermaga. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, sang ibu pun sangat geram dan marah. Ia tak menduga akan seperti ini jadinya. Malin menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang sudah mencapai pada puncaknya, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata “ oh tuhan, kalau benar ia anakku, aku bersumpahi dia menjadi sebuah batu”.

            Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin perlahan  menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Menyadari keadaanya kini Malin sadar dan menyesali atas kesalahan kepada sang ibu, Malin merasa ibin berteriak memohon ampun pada sang ibu, namun semuanya sudah terlambat, dia hanya bisa menangis dan meneteskan air mata penyesalan dalam kebekuan.

¨            ¨           ¨

            Merantau adalah sebuah kata yang sangat menantang dalam hidup manusia, ia bisa menjadi pemacu raga tuk pergi meninggalkan kampung halaman, mendapatkan kejayaan, belajar demi kesuksesan, bersosial demi ketenaran, namun semua itu percuma jika yang ia dapat hanya karena harta dan tahta. Karena syarat mati hanya menerima amal dan keridhaan Ilahi yang pasti. Dengan demikian merantau dalam berbagi kebaikan yang ia dapatkan, kepayahan yang ia rasakan, hingga ia menjadi sebaik-baiknya insan di kampung halamannya.

            Mari kita tinggalkan kisah sang durhaka Malin Kundang terhadap ibunya. Harta dan tahta sudah menjalar dalam darah dan dagingnya, penyesalan hanya tinggal penyesalan. Hingga kekakuan menjadi batu yang ia dapatkan.

            Bahwasannya kita berkaca dari kisah ini. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya”, begitu Bukhari meriwayatkan, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ibumu!” dan kemudian orang tersebut kembali bertanya, “kemudian siapa lagi?”, beliau menjawab, “Ibumu!”, kemudian orang tersebut bertanya kembali, “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab, “Ibumu!”, orang tersebut bertanya kembali, “kemudian siapa lagi?”, beliau menjawab, “kemudian ayahmu.”

            Bukti kecintaan kita pada orang tua sangatlah mendalam. Meninggalkan kampung halam bukan hal yang muda. Orang tua kita pasti merasa khawatir; khawatir bila makan kita tak terjaga, tidur kita bukan di tempat yang enak, kebutuhan sehari-hari tercukupi atau tidak. Semua pertanyaan tersebut menghantui pikiran mereka.

            Maka merantaulah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam merantau ke kota Madinah tuk kembali pada jalan dakwah yang sulit ditempuh di kota Mekkah. Maka merantaulah. Para shalihin terdahulu mengambil jalan tuk mendapatkan sebuah hadits yang shahih riwayatnya. Maka merantaulah tuk menjadi sebaik-baiknya insan dalam mendapat perbekalan menuju negeri akhirat. Maka merantaulah..

 

Dilihat 197