Prolog, Dialog, Epilog Kisah Kita Bersama

Fina Destriana
Karya Fina Destriana Kategori Puisi
dipublikasikan 20 Maret 2016
Prolog, Dialog, Epilog Kisah Kita Bersama

Kita awali semua ini dengan basmallah,

Lalu kita akhiri semua ini dengan?

?

Ssssttt?.

Tetapi ini bukan akhir kawan,

Bukan?bukan itu yang ingin aku dan dirimu katakan hari ini,

Yaa? hari ini,

Justru aku ingin memelukmu dan berkata lirih

Kawan, inilah hari dimana kita akan mengawali semuanya?

?

Hari dimana aku ingin mengajakmu memejamkan mata sejenak,

Mengenang bagaimana kisah kita berjalan,

Diawali dengan prolog sederhana yang mengawali semuanya,

Disaat setiap orang memikirkan bagaimana cara mengatur masa depan demi keuangan,

Tetapi, kita mengawalinya dengan rencana bagaimana diri ini menemukan kebahagiaan sejati di masa depan.

?

Pada awalnya kita datang ke gudang ilmu itu dengan rasa ragu,

Ragu dengan berbagai pertanyaan di benak ini,

Sekelibat pertanyaan datang merasuk ke otak, aliran darah hingga hati ini dirusak keteguhannya,

Apakah benar ini jalanku?

Jalan dimana aku akan menemukan kebahagiaan sejati?

?

Ada beberapa dari kita yang menyerah lalu pergi karena tak teguh hatinya,

Tapi ada pula yang tetap disini yakin dengan pilihannya,

?

Memang begitulah hidup,

Kita berhak memilih, memilih yang menurut kita benar.

Lalu akhirnya seiring berjalannya waktu, kau,aku dan semuanya saling mengenal,

Memulai beberapa dialog ringan hingga membentuk suatu cerita

Cerita utuh yang hingga hari ini membekas di hati,

Konflik hingga antiklimaks yang pada akhirnya berubah menjadi akhir cerita indah diantara kita

?

Banyak tokoh protagonis yang kita temui di gudang ilmu kita dulu,

Mereka yang kita kenal dengan pahlawan tanpa tanda jasa,

Yang tak kenal lelah menghadiahkan mutiara-mutiara berharga tak ternilai

Untuk perbekalan hidup ini di masa depan

Yang selalu memberikan tameng perang agar siap siaga,

Agar siap siaga menyikapi kenyataan yang ada di medan perang.

?

Lalu ingatkah ada sosok protagonis yang terkadang kita lupakan,

Sering kita lupa akan mereka,

Mereka yang selalu menyiapkan senjata peperangan kehidupan,

Perang Kehidupan yang ada di depan mata secara nyata

Yang kini mulai renta dan menua?

Ya? Wahai Ayah dan Bunda, Abi dan Umi, Ibu dan Bapak, Mamah dan papah,

?

Kedua Sosok yang selalu mencari besi terbaik di bumi,

Yang kemudian mereka jadikan tameng dan baju perlindungan diri ini,

Lalu mereka ukir relief-relief simbol indah sebagai ciri khas jati diri,

Tangan halus dibalut keikhlasan dengan harapan meraih kemenangan,

Kemenangan yang mereka lantunkan dalam setiap do?a kepada Illahi Rabbi

?

Mereka itulah yang selama ini menjadi tombak,

Tombak perang kita semua meraih asa,

Dan Wahai angin titipkanlah salam dan doa kepada Sang Pemilik Raga

Lindungilah selalu mereka yang menabuh genderang semangat hidup di jiwa

Mereka yang selalu memberi tombak dan tameng pertahanan

Dan yang utama, Ayah dan Bunda yang senyumnya menjadi tujuan kemenangan

Persiapkan Genderang semangat dan buka matamu kawan,

?

Dan untukmu kawan,

Mari kita buka mata bersama dan persiapkan genderang semangat,

Tuk sejenak merasakan aroma kemenangan hasil perjuangan,

Dan seketika lirih terdengar,

Aku Lelah kawan,

Aku benar-benar lelah,

Apakah aku harus mundur?

Aku ingin lari dari semua ini,

Aku tak sanggup lagi

Mungkin inilah waktu untuk kita melepaskan seragam,

Seragam perang yang penuh dengan besi,

Besi berat yang selama ini harus kita tanggung

Tidak?.Tidak Kawan!

Jangan kibarkan bendera putih itu dulu,kawan!

Mari kita lawan musuh bedebah dari negeri malas ini,

Bersama kita bom bardir keluhan menyesatkan,

Sadarlah bahwa ini adalah awal, bukan akhir peperangan

?

Karena diluar sana,

Masih banyak peperangan yang harus kita hadapi,

Ingatlah saja bahwa kita pernah bersama dan menang,

Dan epilog akhir cerita indah akan menanti di kemudian hari,

Berharap kita akan berjumpa kembali di dalam kemerdekaan yang sejati.

?

(Fina Destriana)

  • view 195