aku benci Ibu, maafkan aku

Fina Rowati Satiraksa
Karya Fina Rowati Satiraksa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
aku benci Ibu, maafkan aku

Aku membanting pintu kamar, tak peduli dengan suara Ibu yang mulai mengomel dengan terisak. Tau apa dia tentang kesedihan, toh yang difikirkannya hanya kesedihannya, bagaimana dengan kesedihanku? Apa ia peduli? Aku muak!!

Aku bergegas memasukkan baju seadanya ke dalam ransel kumuhku. Menghidupkan motor, lalu pergi tanpa pamit diiringi tatapan Ibu yang penuh air mata. Tujuanku satu, segera berbaring di kamar kos, sambil mendengarkan lagu up beat. Akhirnya 2 jam perjalanan kuhabiskan dengan menangis, sesekali berteriak. Caraku membuang muak.

Sudah hampir setahun aku tak pulang kerumah. Sibuk mengerjakan skripsi dan kerja sambilan cukup membuatku tak membutuhkan Ibu. Aku bisa memenuhi kebutuhanku, bisa membeli ini itu, tanpa harus berdiskusi dengan Ibu. Aku juga mulai jarang menelepon Ibu. Ntah bagaimana kabarnya, Aku pun sudah terlalu malas mendengar omelannya tentang skripsiku yang tak kunjung usai. Sudah hampir semester 10.

"Wah Mba, cepet baliknya, padahal baru semalam pulang." Icha, Adik Kos ku bertanya

"Iya nih Cha, besok aku bimbingan skripsi, buru-buru balik deh." Jawabku asal

Aku mandi, sambil menahan tangis, berharap tubuh yang segar akan membuat fikiranku menjadi segar kembali. Sial, bahkan sampai rambutku kering aku tetap menangis. Paginya Icha membangunkanku untuk segera Sholat Subuh, aku ketiduran.

Hampir tengah hari sewaktu Ayah meneleponku, menanyakan kabar dan keberadaanku. Menasehati agar aku bersikap baik pada Ibuku, selayaknya anak.

"Ayah rasa kamu mengerti dengan sifat Ibumu, jangan dilawan, kasian dia jadi tidak nafsu makan jika ada masalah"

""Kurasa Ayah juga tahu sifatku, aku bukan anak kecil lagi Yah, aku tahu yang benar, izinkan aku menentukan hidupku"

"Apa meninggalkan rumah tanpa izin dan melawan Ibu itu adalah sesuatu yang benar?"

"Aku tahu, aku salah Yah. Tapi kenapa Ibu selalu menentang semua keputusanku? Aku kerja sambilan untuk meringankan beban Ayah, kebutuhan kuliahku banyak, dan kenapa setiap kesalahan yang ku buat, Ibu selalu saja mengaitkannya dengan pacarku? Apa salah Genta Yah? Genta hanya temanku bercerita, bahkan mungkin Ibu harus berterimakasih padanya, karena ia selalu menyuruhku berbaikan dengan Ibu"

"Ibumu pernah muda nak, dan kau belum pernah tua, wajar jika ia menasehatimu, ia sudah melalui masa-masa itu, Ibu hanya ingin kamu fokus kuliah. Selesaikan skripsimu. Tak ada yang menyuruhmu bekerja, uang yang Ayah kirim pun rasanya lebih dari cukup, masih bisa kau tabung sisanya.

"Yah, sudahlah, aku akan minta maaf pada Ibu. Bagaimanapun juga aku anak, aku yang salah"

"Nisa, ini bukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ini tentang caramu memperlakukan Ibu. Ayah jadi serba salah, kalian sama-sama keras kepala. Ya sudahlah, yang penting kamu baik-baik saja, segera minta maaf dengan Ibumu. Jika ada sesuatu segera kabari Ayah."

Sambungan telepon terputus. Aku merenung. Aku memang keras kepala, sifat yang diwariskan Ibu padaku. Setelah menyelaraskan hati dan fikiran, aku menyerah, memutuskan membuang ego dan menghubungi Ibu, nanti malam.

Ku rasa Aku terlalu angkuh, alih-alih menelepon untuk meminta maaf, aku hanya meng-SMS Ibu

Maaf bu, aku salah, Aku minta Maaf


 

Skripsiku dinyatakan lulus dengan predikat terbaik. Ayah menyuruhku pulang. Aku diminta mencari pekerjaan di kotaku. Lagi-lagi ini ide Ibu, padahal aku sudah banyak sekali memasukkan lamaran di perusahaan di Ibu Kota Provinsi. Genta menyuruhku pulang, sudah waktunya aku berdamai dengan Ibu, katanya.

"Selagi Ibumu masih ada, sayangi, lihat aku, ingin sekali memeluk Ibuku, tapi ia sudah tiada" Genta menasehati

Baiklah, kuputuskan pulang.


 

Kembali siang ini aku bertengkar dengan Ibu

"Bu, sudah berapa tawaran pekerjaan selalu kutolak hanya karena Ibu tak mengizinkan jika penempatannya di luar provinsi. Aku ingin merantau Bu. Teman-temanku bahkan keluar pulau!"

Jiwa berontakku memuncak. Aku sudah merancang masa depanku. Aku tak mau semua rencana yang telah ku rangkai berantakan, karena Ibu tak mengizinkan.

Jadilah Aku mendiamkan Ibuku. Berhari-hari kami mempertahankan ego dan kepala yang terlanjur membatu. Hingga hari itu, hanya ada aku dan Ibu dirumah. Ibu mendekatiku, berbicara sambil menahan lelehan air matanya

"Nak, Ibu bukan menghalangi cita-citamu. Mungkin Ibu hanya terlalu khawatir. Membayangkanmu pergi merantau lama, padahal kita sudah jarang bertemu sejak kau kuliah di kota. Coba ingat, kapan terakhir kali kita makan siang bersama sambil tertawa. Umurmu bertambah, sebentar lagi akan bersuami dan meninggalkan Ibu. Izinkan Ibu bersama denganmu, menuntaskan kewajiban Ibu, mendidikmu menjadi wanita yang dirindukan surga. Hingga nanti jika Tuhan mengizinkan kita bisa bersama-sama disurganya. Kita sekeluarga sehidup, sesurga. Dunia ini jangan dikejar Nak, hanya sementara, persinggahan."

ibu memelukku. Aku menangis. Aku tak menyangka masalahnya seperti ini. Aku hanya berfikir Ibu terlalu kolot, tak mengizinkan anaknya merantau, hanya terlalu takut aku tak bisa menjaga diri. Ternyata ia hanya ingin lebih lama bersamaku.

Kubalas pelukan Ibu, aku berdamai dengan hatiku, memaafkan ibu, dan memaafkan diriku sendiri.

 

 

 

  • view 639