Hari Ibu

Fikri yadin
Karya Fikri yadin Kategori Lainnya
dipublikasikan 22 Desember 2016
Hari Ibu

Setelah aku diterima bekerja, mama senang luar biasa. Mama membelikanku sepatu, kemeja, dasi, dan celana. Mama juga mengadakan pengajian dan syukuran: khusus untuk mendoakan keselamatan dan kelancaran semua yang akan kukerjakan. Tapi, gaji pertamaku: Blackberry untuk linda. Gaji kedua: Aku mengajak linda makan malam di restoran mewah di jakarta. Gaji ketiga: Uang muka dan cicilan pertama motor baru. Ah, mengapa tak pernah ada "Mama" dalam buku rencana belanjaku? Mengapa tiba-tiba Mama menjadi nama kesekian dalam daftar orang-orang yang segera ingin kubahagiakan? Mama selalu mencintaiku seolah tak ada lagi waktu di dunia selain untuk membahagiakanku, sementara aku hanya bisa mengaku-ngaku mencintaimu dan ingin membahagiakanmu. Kenyataannya, tak! Aku tak pernah bisa membuktikan semuanya, Ma. Tak seperti cinta mama padaku, kenyataannya aku tak pernah bersungguh-sungguh ingin membahagiakanmu. Sudah cukup alasan untukmu mengutukku menjadi batu. Terlalu banyak pengkhianatan yang kurahasiakan, hal-hal yang barangkali terlalu buruk untuk ku ceritakan padamu, semua yang kudustakan dari rasa cinta dan percayamu. Aku telah terlanjur menjadi anak durhaka yang dengan sengaja menggagalkan semua doa ibunya sendiri, dosa-dosaku yang menggagalkan doa-doa sucimu.

 

Tulisan di ambil dari buku "Perjalanan Rasa" Fahd Pahdepie

  • view 133