Lilin untuk Ahok, Logika Terbalik soal Toleransi

Figo Kurniawan
Karya Figo Kurniawan Kategori Budaya
dipublikasikan 14 Mei 2017
Lilin untuk Ahok, Logika Terbalik soal Toleransi

Hitam sebenarnya bukan warna. Hitam adalah ketika putih dan semua warna turunannya tidak bertemu dengan cahaya.
Begitu juga dengan kebencian. Sesungguhnya, tidak pernah ada kebencian, yang ada  adalah cinta yang tersakiti.

***

Tak akan ada asap tanpa ada api. Begitu juga dengan kasus Ahok. Munculnya ‘kebencian’ umat Islam terhadap Ahok yang ditandai dengan serangkaian demo dan berujung dengan vonis 2 tahun penjara adalah hubungan sebab-akibat yang tak terelakkan. Ada cinta yang tersakiti.

Umat Islam tidak akan marah, protes, dan demo kalau Ahok tidak bicara soal kitab suci Al-Quran yang ia sendiri sebenarnya mungkin (pasti) tidak paham karena ia bukan orang Islam.

Ingat! Ahok dihukum karena dinyatakan bersalah melakukan penodaan agama. Ahok dihukum karena sikap intoleran-nya terhadap pemahaman umat Islam dalam hal memilih pemimpin (gubenur). Bukan persoalan karena ia beragama non Islam atau warga keturunan etnis Tionghoa.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 9 Mei lalu menyatakan Ahok terbukti bersalah melakukan penodaan agama karena pernyataan soal Surat Al-Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, September tahun lalu.

Anehnya, substansi persoalan, yang pemicunya adalah ucapan  Ahok yang kebablasan hingga menyebut kitab suci sebuah agama yang tidak ia anut, seolah sengaja digeser-geser ke persoalan etnis-SARA.

Akibatnya, ketika hakim memvonis Ahok bersalah dan menjatuhkan hukuman, para Ahoker menganggap sistem peradilan kita telah 'mati'.  Seolah ada perlakuan tidak adil terhadap Ahok. Seolah hanya mereka yang cinta NKRI, paling toleran dan paling ber-Bhineka Tunggal Ika.

Inilah akar persoalan yang dilupakan. Logika terbalik soal toleransi. Menuntut keadilan untuk seseorang dengan berteriak soal toleransi, padahal orang tersebut yang justru menjadi pemicu kebencian karena sikapnya yang intoleran.
.
Dengan demikian, menjadi wajar, masuk akal dan manusiawi jika umat Islam tersinggung, tersulut emosi, sehingga ada rasa benci. Keadilan untuk Ahok adalah dihukum. Seperti dulu Arswendo Atmowiloto dihukum 4 tahun penjara karena 'tanpa sengaja' menghina Nabi Muhammad.

Sebaliknya, menjadi aneh, lucu dan konyol serta menimbulkan tanda tanya besar jika ada umat Islam yang justru membela mati-matian dan (masih) menyanjung-nyajung Ahok bak dewa meski sudah nyata-nyata  Ahok diputuskan  bersalah oleh pengadilan.

Cahaya lilin untuk Ahok adalah cara pandang hitam-putih. Logika terbalik soal toleransi. Aksi solidaritas atas matinya keadilan (katanya) serta aksi beribu-ribu lilin di beberapa daerah dan luar negeri adalah penjungkirbalikan logika yang disengaja.

Hemat penulis, dua tahun untuk Ahok bukan soal politik, tetapi soal perilaku dan tidak terjaganya lidah sehingga bisa menimbulkan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia sebagaimana tertulis dalam salah satu pasal KUHP.

Dilihat 2.6 K

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 bulan yang lalu.
    Hallo mas Figo,

    Selamat mas, anda telah memenangkan paket buku dari inspirasi.co.

    Kirim pesan ke fans page inspirasi.co untuk mengklaim hadiahnya. Dengan isi pesan: alamat lengkap beserta nomor telepon.

    Terima kasih.

  • Figo Kurniawan
    Figo Kurniawan
    1 bulan yang lalu.
    Terima kasih