KurinduITD - Toleransi Pelajar Lintas Agama dan Antisipasi Diskriminasi

Fidelia Febi Valentika
Karya Fidelia Febi Valentika Kategori Agama
dipublikasikan 19 November 2016
KurinduITD - Toleransi Pelajar Lintas Agama dan Antisipasi Diskriminasi

Indonesia merupakan satu negara yang penuh dengan berbagai macam perbedaan dan ragam budaya. Baik itu perbedaan suku, rasa, agama, dan masih banyak lagi. Terlebih penduduk Indonesia juga terpisah oleh daratan maupun lautan yang begitu beragam. Berbicara mengenai Indonesia bersih diskriminasi, selayaknya kita mulai membuka telinga lebar-lebar. Benarkah bangsa kita ialah bangsa yang dapat saling memberikan toleransi kepada sesama warga negara lainnya? Tentu, tidak dapat dijawab sepenuh seratus persen. Toleransi pelajar lintas agama menjadi suatu bahasan ihwal yang dapat menjadi suatu cikal bakal Indonesia bersih dari diskriminasi. Sebab masa-masa belajar di sekolah ialah masa-masa yang vital dalam penanaman nilai-nilai luhur bagi persatuan bangsa. Pelajar ialah calon masyarakat yang dan calon para pemimpin di masa mendatang.

 

Qua Vadis Toleransi Kehidupan? Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika ialah Jawaban Anti Diskriminasi

            Pemerhati anti diskriminasi kenamaan Denny JA pun mengatakan bahwa agama dan diskriminasi agaknya bukan hanya saja menjadi problematika di Indonesia, melainkan di tingkat global. Bukan hanya bahasan yang sedang faktual saja, melainkan juga di lihat dari sisi historis. Perpecahan yang ditimbulkan dari perpecahan antar agama sudah banyak merenggut korban jiwa di negara-negara Eropa. Agama yang seharusnya membawa kesejahteraan tapi justru memecah-belah banyak pihak karena menonjolkan esensi perbedaan.[1]

Berbagai perbedaan di Indonesia menjadi suatu kepribadian bangsa yang perlu dibanggakan. Setidaknya bangsa Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa, 6 agama yang diakui oleh bangsa, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu (Konfusius). Banyak etnis yang juga ada di Indonesia, seperti Melayu, China, Arab dan lain sebagainya. Setidaknya berbagai macam perbedaan ini seringkali mengalami sebuah paradoks. Di satu banyaknya perbedaan merupakan harmonisasi. Tapi di sisi lain juga memberikan sebuah kerugian yang cukup besar, apabila terjadi diskriminasi .

            Qua Vadis berarti "Mau pergi kemana?" atau "Mau dibawa kemana arahnya?", namun bisa juga diartikan sebagai kata Arah, Tujuan, atau Visi. Sehingga dapat diartikan bahwa kajian Qua Vadis ialah pertanyaan mendasar bagi sebuah rujukan, yang di sini ialah rujukan tentang toleransi pelajar lintas agama dalam kehidupan sekolah di Indonesia. Berbagai macam ragam perbedaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, dibutuhkan sikap tolerans.

            Pada faktanya potret toleransi pelajar lintas agama masih memilukan. Banyak para pelajar dari sekolah negeri pun yang notabene sebagai sekolah yang menerima latar belakang para pelajar dari berbagai agama masih terkotak-kotakkan dalam bergaul. Banyak doktrin akan perpecahan antar pelajar lintas agama sering disampaikan oleh para guru. Bahkan di desa-desa yang sangat jarang adanya pelajar agama non-Islam seringkali mendapatkan perlakuan buruk, misalnya bully, penghinaan, atau bahkan dijauhi. Sebaliknya jika ada seorang pelajar beragama Islam maka bersekolah dengan basis sekolah Kristen seringkali juga akan dijauhi dan mendapatkan perlakuan yang berbeda.

            Membincang pertanyaan bagaimana kelanjutan toleransi pelajar lintas agama, dibutuhkan beberapa hal. Pertama, adanya pembiasaan dalam pergaulan pelajar lintas agama. Pembiasaan ini dapat kita ilhami dalam sekolah-sekolah yang memberikan toleransinya dalam menerima pelajar dengan berbagai agama yang diakui oleh negara Indonesia. Bagi sekolah negeri jelas, tentu akan terbuka bagi pelajar dari keturunan 6 agama yang diakui oleh negara.

Sekolah maupun perguruan tinggi dengan basis agama tertentu juga menerima pelajar dari lintas agama. Mengapa? Agar terjadi pembiasaan toleransi beragama antar pelajar. Referensi berteman dengan berbagai kalangan termasuk teman dengan lintas agama secara langsung akan memberikan pelajaran bagi para pelajar untuk saling memberikan toleransi. Jika waktunya sholat bagi pelajar muslim, maka pelajar dengan agama yang lain perlu menghormatinya dengan cara tidak mengganggu atau menunggunya jika akan melalukan kegiatan berkelompok. Sebaliknya jika ada pelajar yang beragama Kristen yang melakukan ibadah di Hari Minggu, maka para pelajar dengan agama yang lainnya dapat memberikan toleransinya untuk mengerjakan tugas kelompok di hari lain. Perdamaian yang terwujud dari para pelajar dengan lintas agama secara langsung atau tidak langsung akan mewujudkan kemajuan kualitas generasi penerus. Mengapa? Sebab dengan adanya komunikasi antar pelajar lintas agama akan memungkinkan para pelajar saling bertukar pikiran dan bekerja sama dalam memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara dalam berbagai bidang. Misalnya dengan memberikan ide-ide, penemuan-penemuan yang dihasilkan dari generasi penerus bangsa yang terdiridari berbagai pelajar lintas agama. Bayangkan jika kita membatasi gerak dan aktivitas pelajar lintas agama? Apakah lama kelamaan akan mengkerdilkan kualitas generasi penerus bangsa?

Kedua, adanya permenungan dan pelaksanaan berkaitan dengan ideologi bangsa kita yaitu Pancasila dan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Pancasila ialah falsafah, ideologi, jiwa, dan way of life yang bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat. Tiap-tiap silanya memiliki makna yang sangat dalam, hakiki, dan saling bertautan. Isi Pancasila pada intinya ialah cita-cita luhur bangsa Indonesia. Meski dari masa ke masa hingga kemerdekaan sudah mencapai 71 tahun, kita dapat menyaksikan sendiri bagaimana intrik untuk menggeser Pancasila. Padahal saat ini sedang marak perpecahan antar suku, antar agama, antar etnis, dan sebagainya. Bung Hatta menggulirkan argumentasi fundamental yakni hubungan kooperatif (co-operatif relationship) yang seharusnya menjadi pijakan bermasyarakat di Indonesia. Pola hubungan kooperatif sebenarnya sama dengan gotong-royong yang mengedepankan prinsip tanggungjawab sosial, solidaritas, sosial, dan bantu-membantu.[2]

            Sedangkan “Bhineka Tunggal Ika” merupakan sebuah semboyan luhur yang berasal dari Bahasa Jawa Kuno, yang artinya itu memang lahir dari kebudayaan Indonesia. Semboyan luhur yang kita miliki ini layak digunakan sebagai penggambaran akan persatuan dan kesatuan Bangsa dan NKRI.

Perlu adanya pemahaman mengenai makna “Qua Vadis Toleransi Kehidupan” yang tercermin dalam Bhineka Tunggal Ika. Toleransi perlu diupayakan untuk terjadi pewarisan nilai-nilai budaya yang bertujuan untuk merevitalisasi nilai luhur, karakter, dan budaya bangsa melalui pembelajaran yang mengedepankan kaidah-kaidah etika.[3] Dengan berorientasi pada toleransipelajar lintas agama, akan terbentuk proses penanaman nilai dan warisan budaya, juga penanaman kesadaran untuk hidup lebih baik.

 

Deposisi Permenungan: Toleransi Pelajar Lintas Agama yang Menghasilkan Kontribusi

Perdaiaman ialah cermin dari masyarakat modern yang dapat berpikir jernih dan dapat bertindak dewasa. Toleransi kehidupan bangsa bagaikan jantung hidup perdamaian. Sebab perdamaian ialah syarat mutlak terjaganya keharmonisan dan keutuhan NKRI. Tanpa perdamaian akan terjadi banyaknya permasalahan sensitivisme yang beraroma perbedaan. Sehingga toleransi kehidupan hadir sebagai kunci utama mengikis banyaknya perselisihan umat maupun suku. Kini tinggal bagaimana kita memaknai toleransi kehidupan, akan kah hanya menjadi pertanyaan “Qua Vadis” yang tidak pernah terjawab? Atau sebagai ritus, formalitas, atau justru sebagai pemecah segala konflik? Indonesia yang damai dan makmur menunggu kita para pelajar dalam hidup saling toleransi (?)

 

 

[1] http://www.inspirasi.co/post/details/21926/agama-dan-diskriminasi-tantangan-budaya-global/.

[2] Mohammad Hatta, Islam, Society, Democrazy & Peace (New Delhi: Information Service Indonesia, the Embassy of the Republik of Indonesia in India), hlm 45-47.

[3] Joko Sutarto, Membangun Sekolah Unggul Berorientasi Konservasi Nilai dan Warisan Budaya (Semarang: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, FIS UNNES) http://portalgaruda.org/.

  • view 283