Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 24 Januari 2018   13:36 WIB
cerpen rote ndao, (gula air)

GULA AIR

Ada satu keluarga kecil tepatnya di Rote keluarga tersebut suka sekali dengan gula air, keluarga tersebut terdiri dari bapak yang bernama Bapak Elia  namun biasa di pangil Bapak Maneleo karena beliau adalah kepala suku. Istrinya bernama Mama Dorkas dengan tiga orang anak, dua anak perempuan dan satu anak laki-laki.

Pekerjaan Maneleo adalah petani dan pembuat gula air.Maneleo adalah tipe orang yang suka bekerja keras demi masa depan anak-anaknya. Hanya dengan membuat gula air, namun Maneleo mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai pada perguruan tinggi. Anak pertma Rina saat ini sedang melanjutkan studunya di Universitas Nusa Cendana dan anak yang kedua bernamaYuni saat ini masih SMA kelas 3, terakhir anak laki-laki Romi, masih SD kelas 6. Maneleo bertekad untuk melanjutkan anak kedua yuni ke perguruan tinggi mengikuti jejak kakaknya dengan tekad dan kerja keras Maneleo dan isrtinya Dorkas yang setia menemani sang suami mencari uang demi pendidikan anak-anaknya dan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Setiap pagi dan sore Maneleo pergi mengambil air nira di atas pohon lontar kemudian dibawanya kerumah untuk dimasak dalam kuali yang cukup besar, dan menggunakan tungku tradisional dan juga membutuhkan waktu yang cukup lama kira-kira 3 sampai 5 jam dan harus diaduk terus menerus sampai air nira tersebut menjadi kental dan berwarna merah, setelah warnanya sudah merah dan kental itu bertanda bahwa gula sudah matang dan siap di angkat kemudian didinginkan dan dikemas dalam jirgen setiap kali memasak 10 sampai 12 liter air nira yang dimasak namun gula yang didapatkan hanya setengah jerigen.

Harga gula air 80 sampai seratus ribu per jirgen, dengan hasil yang sangat minim Bapak Maneleo tidak pernah merasa lelah. Setiap hari Sabtu, Mama Dorkas pergi kepasar untuk menjual gula air, uang dari hasil jualan gula air di pakai untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan anak-anaknya yang Sekolah, terutama Rina yang sedang kuliah di Undana. Pada suatu hari Maneleo yang masih tertidur tiba-tiba Mama Dorkas membangunkannya dengan suara yang keras.

“Bapa bangun su te ini su siang ni, bangun su ko pi ame air nira,” ujar istrinya mencoba membangunkan suaminya. Maneleo yang dalam keadaan stengah sadar mendengar teriakan dari istrinya itu tiba-tiba terbangun dari tidurnya namun masih dalam keadaan terbaring lesu, dengan muka yang kusut dan rambut yang berantakan kemudian Mama Dorkas berkata kepadanya.

“Bapa tadi malam mete apa ko tidur sampe jam begini ni, ini su jam 7 Bapa, kapan ko pi ame air nira ais datang ko beta masak sampe jam berapa baru katong pi tofa di kebun ni?”

Dengan tiba-tiba Maneleo langsung bangun dan menuju dapur untuk mengambil perlengkapan dan peralatan tanpa mencuci muka dan menyikat giginya, Ia langsung menuju ke pohon lontar yang jaraknya sekitar 100 meter dari Rumahnya. Maneleo yang sementara pergi ambil air nira, Mama Dorkas pun menyiapkan perlengkapan untuk proses memasak gula air, ia mengambil kayu bakar dan mengumpulkannya dekat dengan tungku, sambil menunggu Maneleo yang masih pergi mengambil air nira, Mama Dorkas pun mengisi waktu kosongnya dengan menenun, serta anak kedua dan anak ketiga mereka pun sibuk dengan kesibukan mereka untuk pergi ke Sekolah. Setelah Yuni dan Romi selesai siap mereka pun langsung pergi ke Sekolah. Yuni yang mengendarai sepeda motor mio dan menggonceng adiknya dan mengantarnya Ke Sekolah. Jarak Sekolah mereka pun cukup jauh dari rumah karena Sekolah mereka berada di kampung tetangga, dan jarak dari Sekolahnya Romi ke Sekolahnya Yuni juga tidak terlalu jauh, mungkin hanya sekitar 50 meter. Setelah Yuni mengantar adiknya ia langsung menuju Sekolahnya.

Dengan muka yang keram dan badan yang membungkuk Maneleo memikul air nira dari pohon lontar menuju ke Rumahnya, sesampai di Rumahnya ia langsung memanggil isrinya untuk memasak air nira yang dibawanya itu.

“Mama dating su ko masak ini air nira,” panggilnya. Mama Dorkas yang sedang menenun itu pun langsung bangun dan menuju ke tungku dan menyalakan api serta mengambil kuali yang besar muat di atas tungku kemudian Mama Dorkas betanya pada Maneleo.

“Bapa ada simpan air nira di mana?” muka Mama Dorkas yang kelihatan marah karena hari sudah semakin siang mereka belum pergi ke kebun.

“Beta ada gantung di dapur situ,” dengan suara yang halus dan ia menundukan kepalanya menjawab Mama Dorkas karena ia sudah merasa bersalah.

Setelah Mama Dorkas mengambil air nira yang ada di dapur ia langsung terburu-buru membawanya ke tungku yang ada di luar dan langsung menuangkannya ke dalam kuali. Setelah itu ia mengaduk-aduk tanpa berhenti dan juga memperhatikan apinya dan memasukan kayu bakar kedalam tungku.

Mama Dorkas yang sedang sibuk dengan memasak gula air, Maneleo pun sibuk dengan menyiapkan peralatan untuk pergi ke kebun, tiba-tiba hp berdering di saku Mama Dorkas, dan Mama Dorkas memanggil Maneleo untuk mengangkatnya.

“Bapa, dating dolo ko angkat ini hp te ini beta ada aduk ini gula.”

Kemudian Maneleo langsung pergi dan mengambil hp di dalam saku Mama Dorkas, tenyata yang telpon adalah anak pertama mereka Rina yang kuliah di Universitas Nusa Cendana Kupang,

“Halo nak, karmana?”

“Halo Bapa, Bapa dong apa kabar.”

“Kabar babae sa Nak.”

“Bapak ini b pung uang kos ni bulan belum bayar, baru b pung beras ju su habis jadi bapa kirim kasi beta uang dolo.”

“Ia nak kalau begitu tunggu ko besok hari Sabtu Mama pijual ame gula di Pasar dolo ko Hari Senin baru Bapa kirim.”

“Iya Bapa.”

Maneleo langsung memberi tahu Mama Dorkas kalau Rina minta uang untuk bayar kos dan membeli beras.

“Mama ini Rina ada minta uang ko bayar kos dengan beli beras.”

Namun Mama Dorkas masih diam dan tidak bicara karena Mama Dorkas masih marah dengan Maneleo. Bapak Maneleo pun meninggalkan Mama Dorkas dan pergi ke dalam rumah untuk melanjutkan menyiapkan peralatan berkebun.

Setelah gula sudah matang Mama Dorkas pun langsung mengangkatnya dan mendiamkannya hingga dingin dan setelah sudah dingin Mama Dorkas menuangkan gula air kedalam wadah yang sudah disediakan (jirgen). Bapak Maneleo pun sudah selesai menyiapkan peralatan berkebun mereka, Maneleo dan Mama Dorkas langsung pergi ke kebun, sesampai di kebun mereka langsung membersihkan rumput-rumput dan Maneleo juga memperbaiki pagar kebun yang sudah rusak.

Hari sudah semakin sore dan mereka pun segera pulang ke rumah mereka karena Maneleo harus pergi mengambil air nira.

Begitulah kehidupan sehari-hari Maneleo bersama Istri dan Anak-anaknya dan dengan hasil berjualan gula air Maneleo bersama Istri mampu menyekolahkan ketiga anak mereka sampai pada perguruan tinggi.

Karya : Fersi Tefi