Pastor Frans Magnis Suseno: "Ahok Ini Bisa Dibilang BRUTAL"

Ferly Norman
Karya Ferly Norman Kategori Politik
dipublikasikan 22 Maret 2017
Pastor Frans Magnis Suseno:

Salut dengan cara berpikir yang egaliter seorang Romo Franz Magnis Suseno yang terlepas dari ikatan primodial sebagai seorang kristiani serta jernih menilai kebijakan Ahok menggusur kampung-kampung di Jakarta.

Ia tegas mengatakan “Membangun kota memang harus ada pengorbanan, tapi apa yang dilakukan Ahok ini bisa dibilang brutal,” kata Romo Magnis saat memberikan materi pada Media Dialogue Germany-Indonesia 2016 diorganisir oleh Kedubes Jerman dan organisasi Friedrich Naumann Stiftung fur die Freiheit (FNF) yang dimuat oleh Harian Republika Rabu, 23 November 2016 dengan judul “Transparansi, Partisipasi, dan Jadikan Hukum Sebagai Penyelesaian Masalah” halaman 24-25.

Dari pengamatan penulis, penilaian Pastor Romo Magnis itu tidaklah mengada-ngada, ada tiga pendapat dari wartawan, LBH Jakarta dan Pakar Permukiman dan Tata Kota dari ITS yang menguatkan penilaian Romo tersebut.

Penilaian Wartawan Jerman

Masih dalam forum Media Dialogue Germany-Indonesia 2016 diatas, pemikiran Romo Franz Magnis Suseno ini didukung oleh para wartawan Jerman, saat mereka diminta tanggapan terhadap penggusuran-penggusuran kampung di Jakarta? Adakah solusi yang dapat dikatakan sebagai gaya Jerman dalam persoalan seperti ini?

Seorang wartawan Jerman Sven Hansen jurnalis Taz.die tages-zeitung menegaskan, penataan haruslah transparan dan partisipatif. Rakyat miskin pun tetap memiliki hak untuk tinggal di kota. Di Berlin, kata dia, ada perumahan-perumahan rakyat yang terjangkau didirikan di kota-kota, sehingga orang miskin bisa tetap tinggal di kota, dan tidak tergusur ke pinggiran.

Kalau ternyata masyarakat tetap enggan pindah meskipun diganti rugi dan sebagainya, Hanson menilai pemerintah tak bisa serta merta mengambil langkah keras dengan langsung menggusur rakyatnya. Pemerintah dinilainya harus menempuh jalur hukum. “Rakyat harus diperlakukan adil,” katanya.

Tentu saja apa yg diungkapkan oleh wartawan Jerman tersebut diatas bertententangan dengan yang terjadi di lapangan. Seperti Gubernur BTP tetap melakukan penggusuran kawasan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu. Meskipun warganya sedang memperkarakan kebijakan itu di pengadilan.

Penilaian LBH Jakarta

Saya jadi teringat dengan salah satu artikel di Harian Kompas pada 3 Oktober lalu halaman 27, dalam sebuah berita “Penataan Kota Tak Demokratis”. Menurut pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Tigor Gemdita Hutapea, penggusuran di Jakarta perlu memperoleh perhatian serius.

Selama tahun 2015, sudah terjadi 113 penggusuran dan 72 penggusuran tanpa ada tempat relokasi. Setidaknya 84 persen atau 97 kasus penggusuran dilakukan tanpa melalui prosedur musyawarah dengan warga. Hanya 16 persen penggusuran yang melalui musyawarah dan 1 kasus warga membongkar dengan sukarela. Ini menunjukan bahwa pembangunan di Jakarta masih jauh dari partisipatif masyarakat.

“Ini laporan warga yang kamu terima dan kami teliti. Belum ditambah penggusuran selama 2016,” ucap Tigor.

Menurut Tigor, pendekatan yang selalu top-downdari Pemprov DKI Jakarta.

“Ini masalah besar, bukan hanya tidak demokratis, melainkan juga melanggar hak asasi manusia,”katanya.         

Penilaian Pakar Permukiman dan Tata Kota ITS

Pada Harian Kompas Sabtu, 10 Desember 2016 dengan judul berita “Jakarta Masih Butuh Kampung” halaman 1. Dalam diskusi yag digelar harian Kompas dalam menyambut Pilkada DKI Jakarta 2017 di Jakarta, Jumat (9/12), pakar dari ITS Surabaya, Prof.Dr. Johan Silas. Dosen ITS ini bukanlah orang sembarangan, ia adalah tokoh arsitektur Indonesia, terutama dalam bidang perumahan, permukiman, perkotaan, dan lingkungan.

Menukil Wikipedia, Prof. Silas menyelesaikan kuliah arsitekturnya di ITB pada tahun 1963. Kemudian menjadi pengajar dan pendiri Jurusan Teknik Arsitektur ITS Surabaya pada tahun 1965. Pada 1992 ia memperoleh gelar profesor. Pada 2005 ia memperoleh penghargaan Habitat Scroll of Honour untuk kategori "penelitian dan pengabdian bertahun-tahun dalam memberikan tempat bernaung bagi kaum miskin".

Purna tugas sebagai guru besar di ITS pada tahun 2006 namun tetap membagikan ilmunya secara tidak tetap dan menjadi penasehat untuk beberapa pemerintah kota.

Pengetahuan tambahan tentang perumahan, permukiman, perkotaan, dan lingkungan diperoleh di Inggris, Belanda, Jepang, Prancis, dan Jerman. Program yang diikuti antara lain Housing in Urban Development (London, 1979), Housing, Building & Planning (Rotterdam, 1980), Cooperative Housing (Tokyo, 1984/1985), Comparative Study on Urban Anthropoloy (Prancis, 1986), Inner City Conservation (Berlin, 1987).

Beliau mengatakan, kehidupan di Jakarta tidak akan berjalan tanpa warga perkampungan yang rata-rata masuk masyarakat kelas menengah ke bawah (underclass).

“Masyarakat kelas ekonomi bawah ini merupakan penyangga kelas diatasnya”. Kalau mereka tak ada, kelas diatasnya akan tenggelam. Mereka yang masuk dalam underclass inilah yang akan menjadi office boy, tukang bersih-bersih, pembantu, dan sebagainya. Kehidupan di Jakarta tak berjalan tanpa mereka”.

Johan menilai selama ini pemindahan warga kampung yang digusur ke rumah susun di Jakarta belum tepat. Rumah susun masih dibuat dengan model kelas menengah ke atas. Ini akan menghilangkan kekhasan kampung, mulai dari keguyuban dalam interaksi komunal hingga kegiatan ekonomi.

Rumah susun bagi mereka haruslah mempunyai ruang komunal dan dekat dengan layanan publik serta pusat ekonomi.    

Kesimpulan

Kata kunci keempat orang diatas adalah penggusuran perlu dengan cara Demokratis dan Adil, inilah dua kata yang masih menjadi barang langka di Republik ini. Cara brutal BTP melakukan penggusuran adalah salah besar dan dalam soal ini janganlah kita terjebak dengan masalah primodialisme.

Keempat orang diatas dengan hebat terlepas dari masalah primodialisme dalam melakukan penilaian atas suatu masalah yang terjadi di tengah masyarakat. Mereka memberikan serangkaian argumentasi yang kritis dan ilmiah bukan mengemukakan asumsi yang tidak jelas.

Ini patut kita contoh untuk kedepannya! Setujukah anda……………???A

Dilihat 1.4 K