Saat Teror Mengetuk Hati Para Remaja

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 November 2017
Saat Teror Mengetuk Hati Para Remaja

Suatu hari, aku menonton "Jihad Selfie" film dokumenter karya Noor Huda Ismail. Di film ini dijelaskan bagaimana pola perekrutan para jihadis muda untuk bergabung dengan ISIS melalui sosial media.

Para jihadis muda ini, juga mengajak teman-teman sebaya untuk bergabung sebagai bagian perubahan dunia. Motto Hidup mulia atau mati syahid menjadi pemantik agar para remaja tertarik bergabung. 

Setelah itu, lahirkah ancaman dari para jihadis muda yang mendapatkan tugas melakukan bom bunuh diri, maupun serangan barbarian ke lokasi keramaian untuk menebar teror hingga melukai warga sipil. Tentu saja perbuatan ini adalah perbuatan biadab, tidak berperikemanusiaan serta jauh dari nilai-nilai luhur ajaran agama yang ideal.

Setidaknya, kita pun harus ikut berpikir agar jihadis muda dengan janji - janji mendapatkan surga ini tidak semakin meluas. Apalagi, jika mereka sampai mencelakai warga yang lain melalui aksi sebagai teroris. Sadarilah, persoalan ini perlu didiskusikan dan disikapi secara bijak.

Setiap orang memahami bila kehadiran para teroris adalah ancaman.

Beruntungnya, pemerintah telah membentuk Densus 88, sebagai kesatuan kerja dari Polri yang secara khusus membidani penumpasan aksi-aksi terorisme di berbagai daerah di negeri ini.

Meskipun demikian. Melihat besarnya ancaman terorisme akan keselamatan masyarakat. Maka, warga juga perlu turun tangan mengantisipasi agar bahaya-bahaya tersebut tidak terjadi.

Terorisme bukan sekadar jejaring almarhum Dr. Azhari ataupun Noordin M Top serta para milisi separatis ataupun Osama Bin Laden. Terorisme bisa saja proyeksi kepentingan kelompok tertentu untuk menciptakan kekacauan.

Untuk itu. Menjaga anak-anak agar mencintai sesama manusia dan mengedepankan semangat untuk saling berbagi dan mencintai adalah kultur yang perlu diciptakan dan dibentuk para diri seorang anak.

Lihatlah bagaimana orang-orang menderita gara-gara korban tragedi bom bunuh diri, peledakan bom di tempat terbuka yang menyebabkan warga sipil terkena cacat seumur hidup.

Para penerus aksi barbarian itu suatu hari akan dilakukan anak-anak kita sendiri, generasi penerus bangsa jika tidak ditanam nalar sehat betapa berjihad dengan cara menyakiti orang lain dan merugikannya adalah perbuatan dosa.

Untuk itulah, kita sebagai orang tua perlu menjaga gerak-gerik anak-anak kita ketika hendak beranjak menuju masa-masa remaja. Agar tidak menjadi motor penggerak jejaring teroris.

Inilah ancaman serius yang perlu diwaspadai.

"Jihad Selfie" Mengajarkan jika kita harus berhati-hati dengan pola-pola ajakan untuk menjadi teroris yang semakin hari bisa mendatangi siapapun agar menjadi bagian dari jihadis muda.

Teroris itu targetnya adalah meneror. Kurang elok, bukan?

Dungkek, 18 November 2017

Sumber foto : okezone.com

  • view 36