Jomblo karena Dipaksakan

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 November 2017
Jomblo karena Dipaksakan

Terkadang menjadi jomblo itu bukan nasib, apalagi kutukan. Jomblo itu bukan kekurangan jumlah manusia, yang bisa dijadikan pasangan.

Tapi, menjomblo juga karena dipaksakan.

Mari berpikir sejenak. Barangkali. Kita adalah manusia selektif. Senang memilah dan memilih pendamping. Senang memberikan kriteria tertentu.

Akibatnya, orang lain yang tidak sesuai kriteria, kita black list sebagai pendamping hidup.

Kalau kita memerhatikan kehidupan orang-orang di sekitar kita. Lihatlah bagaimana orang-orang mendapatkan pasangan.

Mereka mencari pasangan, kenalan, mendatangi orang tua, membuat jadwal pernikahan, menikmati hidup sebagai pasangan. Hidup beranak pinak. Membangun rumah tangga.

Lihatlah juga bagaimana yang belum memiliki pasangan.

Beberapa di antara mereka, sibuk dengan ungkapan klasik. Jodoh itu pasti datang. Setiap orang memiliki jodoh. Menunggu waktu yang tepat. 

Pernahkah kita memikirkan jika menjomblo terkadang dipaksakan dengan alasan di atas.

Setiap orang sebenarnya tergantung apa yang diusahakannya. Narasi seperti itu pun ditemukan di dalam kitab suci.

Manusia apapun latarbelakang, warna kulit, maupun status sosialnya berhak memiliki pasangan.

Pasangan itu adalah sisi manusiawi yang menentukan perjalanan manusia selanjutnya. Untuk itu, memilih pasangan secara selektif pun sisi manusiawi untuk memiliki yang sesuai selera dan harapan.

Namun, menunda memiliki pasangan, apalagi melabeli diri kita sebagai jomblo adalah sesuatu yang kurang etis. Terlebih, saat kita menyadarinya jika status jomblo itu karena dipaksakan oleh diri kita sendiri.

Sudahkah kalian berpikir seperti itu?

© Fendi Chovi


  • view 16