Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 31 Oktober 2017   21:31 WIB
Tahlilan Lagi

Ketika seseorang meninggal dunia. Aku merasakan betapa repotnya keluarga yang ditinggalkan.

Mereka tak hanya merasakan kehilangan anggota keluarga. Lebih dari itu, mereka juga harus mengumpulkan sanak keluarga serta tetangga paling terdekat untuk persiapan selamatan hingga hari ketujuh. 

Di kampung halamanku, yang berkultur Nahdatul Ulama (NU), kegiatan tahlilan menjadi ritual selamatan hingga genap tujuh hari pasca orang itu meninggal dunia.

Dalam tahlilan, hidangan disuguhkan tuan rumah kepada warga yang datang beragam, biasanya kopi, rokok, makanan, serta kue sebagai menu tambahan.

Saat menghadiri acara-acara tahlilan di rumah tetangga yang sedang berbela sungkawa, kutemukan makna kebersamaan dengan warga dengan cara membaca yaasin dan diteruskan dengan dzikir dan doa-doa khusus kepada almarhum (orang yang meninggal dunia).

Seingatku. Tahlilan ini hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 7 menit.

Kalau dicermati lagi. Ada hal lain dibalik sebuah tahlilan. Tahlilan bukan sekadar mendoakan dan selamatan untuk orang yang meninggal dunia.

Setidaknya, kita bisa melihat hal lain yang menarik untuk dicermati secara serius.

Sejumlah orang menuturkan bila sebuah keluarga sedang ditimpa musibah, salah satu anggota keluarganya meninggal, lalu jamaah yang ikut tahlilan tidak begitu banyak. Itu pertanda kalau keluarga itu juga pemalas menghadiri tahlilan saat ada tetangganya sendiri meninggal dunia.

Setiap tahlilan, sedikitnya 70 orang berkumpul, terdiri para remaja, pemuda dan orang-orang tua, yang kebanyakan diwakili oleh warga dusun di desa itu.

Angka itu bisa lebih banyak lagi. Tergantung bagaimana warga setempat memiliki relasi khusus dengan keluarga tersebut.

Dalam tahlilan, terdapat juga etika tertentu yang harus dipahami bersama-sama.

Pemilihan hadzi (kiai yang memimpin pembacaan tahlil itu) juga perwakilan dari dusun-dusun yang ada.

Di desa, setiap dusun memiliki tokoh masyarakat dari kalangan kiai. Biasanya, mereka pemilik masjid atau musholla. Saat ada yang meninggal dunia, tugas memimpin tahlil tugas kiai dari dusun setempat. Kiai dusun sebelah dianggap kurang sopan kalau melakukan itu. Sementara masih ada kiai di dusun tersebut.

Jadi, tahlil juga memiliki dimensi-dimensi lain. Tak sekadar ritual mendoakan orang meninggal dunia.

Tapi, tahlil juga menjadi ajang untuk melihat posisi sebuah keluarga di dalam sebuah masyarakat. Kalau apa yang kutulis ini kurang sopan. Maaf, tapi itulah fakta yang diam-diam terdengar dalam masyarakatku.

Fendi Chovi
Dungkek, 31 Oktober 2017

Karya : Fendi Chovi