Bernyali dengan Literasi

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Oktober 2017
Bernyali dengan Literasi

Semenjak pulang ke kampung halaman setelah berbulan-bulan merantau ke Yogyakarta. Hal pertama yang ingin kulakukan adalah berbagi ilmu tentang dunia tulis menulis dan membumikan literasi kepada siswa-siswi di sekolah.

Proyeksi itu menemukan titik temu setelah teman-teman dari Ikatan Alumni Annuqayah bersepakat untuk mewujudkan ide itu menjadi sebuah pelatihan menulis dalam bentuk roadshow ke sekolah-sekolah yang ada di Dungkek, salah satu kecamatan di Sumenep, Madura. 

Mula-mula saya menghubungi Syamsuni, ketua Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Dungkek yang sekaligus jurnalis muda di daerah kami.

Setelah itu, rapat pembentukan tim serta penentuan jadwal kunjungan ke setiap sekolah dan materi yang akan disampaikan pun dibahas dalam setiap pertemuan.

Kami pun menyepakati jika kegiatan itu diberikan nama Roadshow Menulis Gratis : "Sehari Menulis, Sehari Menginspirasi" digagas tim Sahabat Literasi IAA Dungkek. Tim ini beranggota sebanyak 7 orang. (Silakan dibaca reportasenya di sini).

Kegiatan ini merupakan sebuah ikhtiar untuk mengajak generasi muda, terutama para remaja di berbagai sekolah agar gemar membaca dan menulis.

Saat dipikir kembali. Aku justru merasakan inilah bentuk kolaborasi para pemuda lintas desa di Dungkek, yang merelakan tenaga maupun pikirannya terkuras serta waktunya tersita di tengah tanggung jawab kerja dan mencari nafkah untuk keluarga.

Bentuk kolaborasi ini tentu sebuah ikhtiar bersama meskipun kami merupakan anak-anak muda berbeda latarbelakang organisasi serta profesi, tetapi disatukan sebagai alumni pondok pesantren untuk berbagi seputar dunia literasi.

Sebagai pemuda, kami berharap ikutserta menggiring generasi muda di desa kami, untuk mengenal lebih jauh tentang narasi keindonesiaan, bahaya hoax, budaya copy paste, serta ancaman radikalisme.

Kalau orang-orang bertanya kepada kami, apalagi kepadaku sendiri? Apa yang kamu lakukan sebagai pemuda? Aku hanya bisa menjawab, "Mengajarkan anak-anak muda untuk terlatih menulis dan secara istiqomah berbagi tentang narasi kebhinnekaan di negeri ini dalam karya tulis mereka".

Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah negeri yang beragam etnis, budaya, suku, bahasa dan agama serta aneka jenis aliran kepercayaan lainnya. Menulis tentang indonesia adalah upaya untuk menemukan keindahan negeri yang mendapat julukan "Zamrud Khatulistiwa" ini.

Dari tulisan-tulisan itulah, kita menjadi paham tentang banyak hal terkait negeri ini. Makna keindonesiaan dalam pikiran dan karya-karya anak muda Indonesia.

Dari ratusan siswa-siswi yang mengikuti kegiatan Roadshow Menulis Gratis ini, kami berharap mereka paham makna nasionalisme dan kebhinnekaan sebagai penduduk di negeri Indonesia ini di saat mereka belajar di sekolah.

Untuk itulah, kami berharap budaya membaca, menulis dan berpikir menjadi makanan sehari-hari bagi mereka, para remaja yang sedang masa pertumbuhannya menjadi generasi muda.

Pasca roadshow di kelas pendampingan, kami meminta siswa-siswi itu menyetor tulisan dan mendiskusikannya. Tak hanya itu, kami mendorong agar mereka menghidupkan kebiasaan menulis di majalah dinding, ikut berkompetisi membuat karya tulis, serta mengajari mereka memenangkan lomba. Inilah kerja-kerja kami sebagai seorang pemuda.

Momentum Hari Sumpah Pemuda ke-89, menyadarkan kami bahwa berjuang bagi pemuda harus di ruang-ruang yang menjadikan kami lebih mencintai NKRI.

Kami pun berharap kegiatan Roadshow Menulis Gratis yang akan berakhir pada Desember 2017, setidaknya menjadi ikhtiar bagi kami, generasi muda daerah untuk menanamkan makna nasionalisme di benak-benak siswa-siswi.

Mereka adalah para remaja yang perlu mendapatkan didikan serius dalam dunia tulis menulis. Bayangkanlah ketika mereka bisa menulis dan tulisan-tulisan mereka menginspirasi banyak orang untuk mencintai tanah air mereka sendiri.

Bayangkan, bagaimana kelak mereka ikutserta menyerukan nasionalisme tidak sekadar di ranah tindakan. Tetapi, juga dalam ruang pemikiran yang nantinya menjadi rujukan bagi generasi selanjutnya.

Dari membaca, berpikir serta menulis itulah, anak-anak remaja itu membuat frame khusus dibenak sebuah imaginasi ideal tentang Indonesia di masa yang akan datang.

Hari Sumpah Pemuda setidaknya merupakan ekpressi harapan anak muda perindu kemerdekaan yang hendak mewujudkan imajinasi tentang "Indonesia".

Sepotong artikel menarik berjudul Sumpah Pemuda : Imajinasi, Narasi, Kolaborasi, yang ditulis Fahd Pahdepie menuliskan tentang imajinasi keindonesiaan itu lewat momen Sumpah Pemuda.

"Perlu diingat, momen Sumpah Pemuda ini berjarak 17 tahun sebelum Indonesia merdeka. Artinya, boleh dibilang pada saat itu Indonesia belum jelas ada… Atau paling tidak, belum jelas bentuk legal-formalnya. Negara Indonesia masih sebatas imajinasi belaka".

Seperti dinyatakan kembali oleh Fahd Pahdepie, jika imajinasi tentang tanah air bernama Indonesia itu kemudian mereka perluas lagi dengan membayangkan sebuah komunitas bersama yang di sana orang-orang memiliki identitas dan rasa bangga yang sama: Ihwal kebangsaan.

Kami berharap, setidaknya Roadshow Menulis Gratis ini menjadi penting untuk membingkai imajinasi para remaja, siswa-siswi di sekolah itu ikutserta menulis sesuatu yang berarti bagi tanah air, tanah tumpah darah mereka.

Setidaknya, berkali-kali, dalam Stadium General yang disampaikan Syamsuni ditegaskan secara jelas upaya merawat NKRI serta tentang bahaya plagiasi, hoax serta copy paste yang mengancam iklim intelektual di negeri ini.

Negeri ini tentu membutuhkan para remaja jenius yang bisa menyadarkan bagi segenap penduduk, makna NKRI Harga Mati yang harus dirawat dan dibela dan dijaga.

Saat Bung Karno mengatakan dengan berapi-api, "Berilah aku sepuluh pemuda, maka akan kutaklukkan dunia!"

Di era teknologi informasi seperti sekarang ini, kami membutuhkan siswa-siswi melek IT, tetapi memiliki kebiasaan membaca, berpikir dan menulis. 

Di tangan generasi muda seperti nilah, harapan merawat dan menjaga NKRI bisa terwujudkan dalam sejumlah narasi tentang kebhinnekaan.

Fendi Chovi, 
Dungkek, 30 Oktober 2017