Berbhinneka di Jagad Sosmed

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Oktober 2017
Berbhinneka di Jagad Sosmed

Indonesia adalah sebuah bangsa terdiri dari sejumlah daerah dan pulau-pulau yang dikaruniai perbedaan dalam sejumlah hal, di antaranya, perbedaan budaya, agama, suku dan bahasa.

Melihat Indonesia seperti melihat aneka warna soal perbedaan. Namun, menyatu untuk menjalin kebersamaan dengan motto Unity in Diversity sebagai warga negara Indonesia.

Untuk itu, upaya menjaga kebhinnekaan di era teknologi informasi seperti saat ini, tak ada kata lain kecuali dengan memaksimalkan sosial media (sosmed) yang kita miliki.

Sebagaimana yang kita pahami saat ini bahwa tipe manusia, bisa dikelompokkan, mengutip pendapat Marc Prensky, generasi penduduk di planet bumi ini, terbagi menjadi generasi native digital dan immigrant digital. Native digital yaitu, generasi muda (sekolah, kuliah yang dimanjakan dengan IT) sedangkan immigrant digital yaitu, generasi tua (yang gagap IT).

Nah, dengan IT itulah, kita bisa menyuarakan ide-ide keberagaman. Kita berharap dengan sosmed itulah, kita bisa meningkatkan semangat menyerukan nilai perdamaian dengan aneka jenis postingan berkonten positif.

Tempo hari, aku membaca berita sekaligus postingan seputar kegiatan Peace Train di dinding sosmed facebook milik Anict Ht.

Tak jarang juga, aku juga membaca dan melihat aksi-aksi bina damai untuk menjaga kebhinnekaan dalam bentuk training serta dialog di komunitas anak-anak muda. Yang kemudian diupload ke medsos dan ditulis di blog.

Saat itu juga. Aku membayangkan, tugas merawat kebhinnekaan juga perlu disematkan ke generasi native digital.

Harapan merawat kebhinnekaan melalui kegiatan Peace Train ini cukup menarik dan menyenangkan serta layak dijadikan sarana mempertemukan banyak orang untuk sama-sama terlibat aktif dalam upaya bina damai menjaga kebersamaan dalam perbedaan.

Sesekali, nikmatilah berkunjung ke daerah-daerah di negeri ini sambil berdiskusi dan berdialog dengan tokoh masyarakat setempat dan menyaksikan keunikan di masing-masing daerah.

Mari! Berikan waktu luang kamu untuk berjalan-jalanlah ke pulau Madura atau ke pulau Bali.

Lihatlah hal-hal menarik di dua daerah itu, mulai tradisi, adat istiadat, bahasa dan agama yang dianut masyarakatnya. Pasti kamu akan menjumpai mereka sebagai dua tempat yang tidak sama. Membayangkan Madura dan Bali. Kita mendapati dua tempat dan ruang kebudayaan milik bangsa Indonesia.

Dengan pengetahuan serta pengalaman seperti itu, kita akan lebih banyak ikutcampur menjadi penggerak yang ikutserta memoles serta menciptakan imajinasi kebhinnekaan sejak dari perasaan, pikiran hingga perbuatan nyata.

Untuk itu, generasi muda Indonesia, sebagai native digital sudah selayaknya diajak terlibat agar mereka ikut berperan aktif menyoal isu-isu seputar perbedaan dan membabat habis sekat-sekat yang kelak menghadirkan bibit-bibit kebencian dan perpecahan kalangan anak-anak muda.

Sebagai native digital, upaya merawat kebhinnekaan semakin terbuka lebar, diantaranya dengan menulis konten positif dan menyebarkannya di ranah media sosial.

Setidaknya, mendsos sebagai sarana untuk mengekspresikan gagasan dan buah pikiran serta bagian dari rekontruksi ulang atas buah kejadian, peristiwa dan harapan-harapan maupun kegetiran banyak orang di dunia nyata perlu diarahkan ke hal-hal bernuansa bina damai.

Itulah sebabnya, kita membutuhkan peran dari native digital untuk merawat kebhinnekaan ini.

Percayalah, kita berbeda bukan karena kita dilahirkan sebagai musuh. Kita berbeda karena kita adalah pembentuk keindahan. Mirip seperti pelangi.

Kita bisa saling berdiskusi, membicarakan kebudayaan kita masing-masing.
 
Kita membicarakan keadilan agar setiap orang di sejumlah tempat di negeri ini mendapatkan hak-haknya untuk hidup layak.
 
Di media sosial, kita juga bisa ikut menyoroti kebijakan publik yang merugikan banyak pihak, serta ikut mengkritisi serta mengawasi dan mendorong para pejabat negara agar serius dengan tanggung jawabnya merawat bangsa ini bersama-sama.

Itulah yang kulihat hari ini dan dimasa yang akan datang hingga era sosmed berhenti. Bagaimana menurutmu?

Dungkek, 18 Oktober 2017

 

  • view 109