Berhenti Menulis, Berarti Mati

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 08 September 2017
Berhenti Menulis, Berarti Mati

Bagi kamu, yang tidak terlahir dari keluarga besar. Menulis atau apapun hal yang bisa membuatmu bersuara dan didengarkan layak kamu lakukan.

Aku pernah mendengar ketika suara kita, peran kita tak lagi signifikan untuk didengarkan di lihat secara publik, apalagi memengaruhi cara berpikir mereka. Maka, kamu layak untuk menulis.

Aku menemukan hal terbaik yang kuketahui dari manfaat menulis itu sendiri. Sebelum kita mendiskusikannya lebih jauh. Mari kita ingat sepotong puisi Chairil Anwar, raksasa penyair besar di negeri kita.

"Aku ingin hidup seribu tahun lagi," begitu bisikan Chairil Anwar di sajaknya berjudul "Aku".

Chairil, dalam catatan sejarah yang kita baca. Tak memiliki umur panjang. Ia mati muda. Tapi, karya-karya yang ditulisnya. Membuat ia hidup lebih dari ratusan tahun lamanya.

Ia tetap abadi dengan karya-karya puisinya.

Bayangkanlah diri kita. Apa yang bisa kita berikan untuk dunia agar kita didengar, diperhatikan hingga dijadikan rujukan?

Cara yang bisa kita lakukan adalah dengan cara menulis.

Bagaimana kita bisa didengarkan?

Ini tugasmu untuk memikirkan sendiri. Tapi, mengutip pendapat Imam Al-Ghazali, "Kalau kamu bukan anak seorang raja atau ulama, maka menulislah!"

Sebab, tanpa menulis itu kamu sudah mati. Itulah tantangan penulis, ia akan mati jika berhenti menuliskan gagasan dan pengalaman hidup yang dijalani dan dirasakannya.

Fendi Chovi, blogger tinggal di pinggiran kecamatan Dungkek, Sumenep.

Fb : Fendi Chovi

  • view 74