Saat Tamu Menyapa, Sambutlah dengan Senyuman

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Agustus 2017
Saat Tamu Menyapa, Sambutlah dengan Senyuman

Di akhir bulan Juli 2017, aku kedatangan seorang tamu di rumah. Tamu itu mengaku sebagai warga dari salah satu desa di Kecamatan Batang-Batang.

Aku menganggap dia sebagai tamu. Sebab, dia berkunjung ke rumahku. Aku tidak kenal dia. Dia pun sama tidak kenal keluargaku. Tapi, dia berkunjung ke rumahku. 


Setelah itu, dia mengutarakan keperluannya. Katanya, dia hendak mengajukan permohonan sumbangan dan bantuan seikhlasnya untuk pembangunan renovasi masjid.


Ibuku tanpa berpikir panjang. Mengambil uang seadanya dan diberikan kepada orang tersebut. Tamu itu mengucapkan terima kasih. Sebanyak-banyaknya.


Aku mengajaknya berbincang-bincang sambil mempersilakan dia juga menikmati kopi yang kami sediakan.


Saat ngobrol dengan tamu ini. Aku jadi teringat kejadian 4 tahun yang lalu. Saat aku bertamu ke rumah tetanggaku dan di sana kami juga kedatangan tamu peminta amal buat pembangunan masjid.


Namun, tetanggaku itu merespon kedatangan tamu itu dengan cara yang lain. Ia menilai saat ini, begitu banyak peminta amal-amal berkedok pembangunan masjid. Alih-alih dikasih uang. Tetangga itu malah menginterogasi dan hendak memanggil kepala desa. Sebab, informasi yang berkembang adalah mulai banyak orang-orang mendatangi rumah-rumah orang. Meminta amal demi memperkaya diri dan dinyatakan atas nama lembaga.


Tetangga itu sampai menanyakan berkas-berkas resmi dari lembaga atau masjid yang menyuruhnya menggalang dana untuk pembangunan itu, termasuk jenis amplop yang biasa dibagikan.


Dalam satu sisi, aku malu sendiri dengan aksi tetangga itu. Namun, dalam sisi yang lain rasanya memang perlu kritis.


Aku tak perlu menyebutkan siapa nama tetangga itu. Hanya, di rumah tetangga inilah, aku sering berkunjung dan menikmati banyak obrolan menarik saat pulang kampung ketika liburan kuliah.


Akhirnya, tamu itu pun menyerahkan surat dari lembaga yang menyuruhnya menggalang dana amal itu. Mereka duduk terdiam melihat ulah kami.


Aku juga terdiam. Antara iba dan merasa berburuk sangka memperlakukan mereka seperti itu.

Memang sih, banyak oknum-oknum pencari dana berkeliaran ke desa-desa untuk mencari uang dengan motif pembangunan masjid. Beberapa mungkin memang resmi dan tujuan mulia, tapi beberapa juga menjadikan lahan bisnis alias penggalang dana abal-abal.


Kurang eloknya lagi, saat mereka selesai menyerahkan berkas yang kami minta dan puas menginterrogasi.
Kami tidak memberikan uang apapun kepada dua orang itu.


Malah, mereka diarahkan ke rumah kepala desa. Sebab, kepala desa sendiri yang meminta jika ada peminta amal harap disuruh datang ke rumahnya. Aku belum tahu kebenaran info itu, tapi jika memang itu benar. Syukurlah, berarti kepala desa sangat mulia.

Nah, ingatan pada kejadian 4 tahun itu. Menjadikanku belajar satu etika yang kupelajari akhir-akhir ini, yaitu menghormati tamu.


Kepada tamu yang datang ke rumahku ini, aku bertanya kepada tamu itu, mulai nama, daerah dan tujuannya?


Aku tidak mengenal betul tentang motif kedatangan dia. Tapi, aku sebagai tuan rumah yang kedatangan tamu. Aku belajar menghormati dan berusaha memberikan apa yang ingin diminta meski hanya sedikit dan tidak terlalu banyak.

Bagiku, menghormati tamu itu sangat penting. Kita tak akan pernah tahu bagaimana nasib kita nanti. Hanya saja, aku percaya bahwa berbuat baik kepada orang lain. Itu seperti jalan paling tepat mengalirkan kebaikan kepada diri kita sendiri serta anak-anak keturunan kita.

Ketika kita berkunjung ke rumah orang lain. Tentu kita juga ingin dihormati, bukan? Nah, itu sebabnya kita harus juga belajar menghormati orang lain.

Dalam pembayangan yang lain, kadang aku berpikir, bagaimana jika yang datang ternyata malaikat yang diturunkan tuhan kepada kita. Nanti kalian nyesel loo menelantarkan mereka tanpa pesangon apa-apa.

Memberi kepada tamu membuatku juga merasakan sensasi kebahagiaan. Memang benar apa yang dinyatakan Erich Fromm dalam buku, The Art of Loving, bahwa cinta itu adalah memberi.


Dalam tafsir kehidupan yang lain, kita diajarkan memberi kepada siapapun yang butuh bantuan kita. Itulah pertanda kita cinta kepada kebaikan. Ketika rasa cinta itu terwujudkan dalam aspek bertetangga. Maka kita akan menjadi manusia-manusia pemurah.


Ketika kamu bertanya kepadaku. Bagaimana aku merasakan kebahagiaan? Tak lain saat-saat aku belajar memberi dan mengorbankan sesuatu yang sebenarnya juga aku butuhkan. Mungkin kamu punya cara yang lain untuk bahagia.


Aku belajar untuk membahagiakan diri dengan cara memberi. Meskipun, dalam beberapa kesempatan aku juga seringkali dihadapkan dengan banyak pertimbangan-pertimbangan untuk memberi.

Nah, sebagai refleksi bersama. Aku jadi ingat ungkapan Dale Carnegie bahwa ketika tidak sedang memikirkan masalah, 95% waktu kita habis untuk memikirkan diri sendiri.


Bagiku, memberi adalah cara lain memahami persoalan orang lain. Kalau memberi ditiadakan. Berarti kita hanya sibuk memikirkan diri sendiri.


Terima kasih kepada keluargaku. Yang melatihku untuk belajar memberi dan mengkritik sesuatu yang kurang baik dilakukan. Aku menjadi bahagia dengan cara seperti itu. Bagaimana denganmu?

 Dungkek, 1  Agustus 2017

  • view 96