Tetap Bahagia Meski Berkubang Masalah

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 31 Juli 2017
Tetap Bahagia Meski Berkubang Masalah


Setiap manusia memiliki definisi tersendiri tentang kebahagiaan.


Sebagai blogger, aku seringkali merasakan sebuah kebahagiaan saat bangun tidur lalu menemukan ide menarik untuk ditulis. Terkadang juga, saat aku memiliki banyak kesempatan untuk membaca buku-buku menarik dan menginspirasi. 

Tentu setiap orang memiliki cara dan definisi tersendiri menyangkut kebahagiaan yang dirasakan serta diharapkannya.

Pada suatu hari, aku bertemu dengan orang-orang yang memiliki profesi "ngowan sape", yaitu memilihara sapi ternak sebagai upaya menambah perekonomian keluarga.


Bagi mereka, bahagia itu saat menyaksikan sapi mereka gemuk, sehat dan pada saatnya terjual mahal di pasaran. Kadang saat hujan ataupun tubuh mereka kurang fit sekalipun, mereka tidak begitu ambil pusing dan tetap berusaha untuk mencari rumput untuk memberikan makan kepada sapi mereka, dan di sanalah mereka justru bahagia meski tubuh mereka kurang sehat.


Pemandangan lain terkait kebahagiaan, aku menyaksikan pada orang-orang yang hidup di kampungku sendiri yang memiliki kegemaran pada layang-layang.


Saat menaikkan layang-layang ke udara di kala suasana terik matahari  sekalipun di tengah tanah tegalan,  mereka justru merasakan kebahagiaan.


Menyaksikan layang-layang menari-nari indah bersama angin. Menciptakan kebahagiaan tiada terkira. Begitulah kebahagiaan. Ia terkadang berjalan beriringan dengan kesenangan.


Jika kebahagiaan hanya tentang kepemilikan sejumlah uang. Banyak kok yang uangnya berlimpah, tapi tidak juga kunjung bahagia. Jika kebahagiaan adalah soal nama baik. Banyak juga kok yang justru terbebani dengan nama baik itu.


Mendiskusikan tentang kebahagiaan itu sendiri, aku jadi teringat dalam suatu obrolan menarik dengan seorang teman mengenai bahagia di tengah kejenuhan dan sederet permasalahan.

Di didalam diskusi ini, aku menemukan definisi yang sangat tidak lazim mengenai bahagia.

Kata temanku, terkadang bahagia itu justru hadir ketika kita memiliki sejumlah persoalan rumit saat kita sedang mengejar cita-cita dan harapan. Suasana kebahagiaan itu terletak saat masa-masa mengejar cita-cita itu. Meskipun saat itu kita sedang berhadapan dengan banyak persoalan dan tantangan, namun suasana saat memperjuangkan cita-cita itulah yang membuat kita merasakan bahagia.


Benarlah apa yang ditulis M Faizi tentang bahagia dalam salah satu buku puisi liriknya, Sareang.


Menurutnya, bahagia itu relatif dan tergantung pada kondisi.


Aku pikir, pernyataan itu memberikan gambaran jelas kepadaku. Bahagia bukan sekadar tentang apa yang kita punya atau miliki. Tapi soal bagaimana memandang kondisi kita sendiri.


Saat aku bisa menyaksikan diriku baik-baik saja. Terkadang aku berpikir ada sesuatu yang harus kulakukan. Duniaku tak boleh mendatar atau nyaman-nyaman saja. Sejak saat itu, aku berjalan memasuki arus yang berlawanan. Aku tercebur pada sejumlah persoalan yang menantang.

Namun, keadaan itu justru memberikan kebahagiaan. Bukan karena keadaan memprihatinkan itu yang kudefisinikan. Tapi, karena aku sendiri menjadi bagian dari solusi persoalan yang kuhadapi dan hidupku tidak lagi biasa-biasa saja.


Dengan demikian, justru dalam kubangan masalah, aku tetap bisa bahagia dan menafsirkan keprihatinanku dengan pelukan kebahagiaan.


Bagaimana menurutmu?


Dungkek, 30 Juli 2017

  • view 180

  • dadang kurniawan
    dadang kurniawan
    3 bulan yang lalu.
    "Bahagia bukan sekadar tentang apa yang kita punya atau miliki. Tapi soal bagaimana memandang kondisi kita sendiri", bahagia bukan tidak bisa dilihat dari apa yang kita miliki atau kita lakukan, bahagia adalah menerima segala hal, hal yang kita punya, hal yang kita lakukan

    • Lihat 1 Respon

  • Aina Masrurin
    Aina Masrurin
    3 bulan yang lalu.
    dalamnya hati hanya Tuhan dan kita yang tahu, begitu juga kebahagiaan. ketika kebahagiaan adalah sesuatu yang datang karena orang lain selama itulah kita belum pernah merasakan hakikinya bahagia ~ terinspirasi dari bab akhir novel ayahku bukan pembohong (Tere Liye) dengan kolom Danau kaum sufi