Menelusuri Riwayat Kebersamaan di Dungkek

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 Juli 2017
Menelusuri Riwayat Kebersamaan di Dungkek

Empat hari yang lalu. Ditemani Munir, aku berkunjung ke rumah Tie Bianhi, di Dungkek.

Ia merupakan warga Dungkek beretnis Tionghoa, yang kini menyandang nama lain, Subiyanto.

Kakek berusia 72 tahun ini, berbagi cerita mengenai asal muasal dan potret kehidupan masyarakat Dungkek di masa lalu.

Dungkek merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Sumenep. Yang terbentang di ujung timur Pulau Madura.


Menelusuri asal penamaan Dungkek itu, menurut Bianhi, berdasarkan penuturan para sesepuh, yaitu berasal dari kehadiran orang-orang singkek. Orang-orang Singkek ini merantau dari Republik Rakyat China (RRC) dan tiba di Nusantara.


Penamaan "Dungkek" karena pada awalnya, orang Singkek itu membabat alas menggunakan "batthung" (baca : kapak besar) yang digunakan memotong dan merobohkan pohon-pohon besar sebelum daerah itu dihuni.


Proses pembabatan alas itu menginspirasi mereka menamai tempat itu menjadi kata "Dungkek". Yang diartikan desa yang dibangun bangsa Singkek menggunakan kapak besar (yang) oleh warga setempat disebut dengan kata "Batthung".


Namun, dalam telisik Batik Madura. Harian Kompas menyebutkan jika kata " Dungkek" itu berasal dari bahasa Hokkian dari kata "Dung" dan "Kek". Dung diartikan "tamu" dan "kek" pertama. Jadi Dungkek adalah tamu pertama yang dihuni orang Singkek.


Terlepas perbedaan dari penyebutan nama asal usul salah satu kecamatan yang ada di Sumenep itu. Dungkek memang daerah yang layak ditelusuri kembali keberadaannya. Ia, menyimpan masa lalu yang menarik untuk dilihat kembali, terutama harmonisasi antara suku Madura dan etnis Thionghoa.


Kehadiran Singkek yang bisa membaur dengan penduduk lokal Madura dan bisa berdampingan. Meski berbeda kepercayaan, tapi bisa hidup berdampingan adalah potret keragaman yang menarik diperhatikan.


Bianhi sendiri, awalnya dibesarkan dengan tradisi kepercayaan Konghucu. Namun, pergaulan dengan warga sekitar menyebabkan ia menyerap banyak inspirasi menarik tentang sikap saling tolong menolong dan menjembatani sikap saling menjaga kepercayaan etnis dan agama.

Namun, di hari tuanya, ia memilih serta memutuskan menjadi mualaf yaitu beragama Islam.


Dalam obrolan soal agama itu. Ia terlihat sangat berhati-hati. Ia menilai semua agama memiliki kebaikan-kebaikan yang diajarkan kepada pemeluknya, hanya pemeluk agama itu sendiri yang menyalahi aturan yang digariskan oleh agama itu sendiri.


Sebelum menjadi mualaf, ia senang berinteraksi dan melihat cara berpikir dan perilaku orang-orang Muslim.

Menurutnya, Islam itu masuk akal dan itu yang menjadikan dia penasaran dan akhirnya memutuskan untuk masuk Islam.


Meskipun demikian. Ia mengutuk keras bila orang-orang saling menghina atas nama agama. Ia tidak suka jika melihat ada penganut agama lain mencela orang-orang yang berbeda keyakinan.


"Kurang tepat sih kalau orang berbeda agama itu saling mencela. Agama mengajarkan sesuatu yang baik. Hanya, para pemeluknya saja yang seringkali bertindak kurang baik," tutur Bianhi.


Menurutnya, agama adalah soal kepercayaan. Yang tentu setiap orang memiliki jalan masing-masing untuk menerima agama dan tuhan menurut apa yang dipercayainya.


Meskipun ia menjadi Mualaf. Ia tetap memperhatikan tradisi asalnya, termasuk tata cara menghormati leluhur dan tradisi mengukuburkan orang-orang yang telah tiada dari etnis Thionghoa sendiri.


Ia berpesan agar anak-anak muda di sekitarnya, benar-benar mengamalkan ajaran agama untuk dimensi kebaikan dan kerukunan antar agama.


"Silakan perbaiki semangat bertaqwa. Kalau bisa jagalah sikap saat hidup berdampingan dengan orang lain. Tidak baik sebagai umat beragama kita saling menyakiti antar sesama manusia," pintanya.


Sebelum mualaf, ia sendiri terlibat aktif dalam proses pembangun masjid dan ikut menyumbang kebutuhan renovasi rumah ibadah tersebut bersama tokoh-tokoh Thionghoa setempat.

Ia berharap anak-anak muda di Dungkek. Tetap menjaga semangat kebersamaan meski berbeda etnis dan agama. Sebab, riwayat masa lalu mengajarkan para leluhur mereka hidup berdampingan.


Dan itulah potret kebersamaan masyarakat di Dungkek yang menarik dijaga bersama-sama.

Dungkek, 27 Juli 2017

* foto diambil dari facebook, Kachong Songenep

  • view 77