Yang Tersisa Saat Berprasangka

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Agama
dipublikasikan 15 Juni 2017
Yang Tersisa Saat Berprasangka

Dalam acara kemah perdamaian (Peace Camp), digagas YIPCI. Ada satu materi menarik tentang prasangka. Acara yang dihadiri anak muda dari berbagai komunitas dari berbagai daerah di negeri ini menjadi menarik. Sebab, setiap peserta bisa berbagi cerita tentang kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Dan dari cerita dan pendapat mereka sendiri bahwa hal yang tak bisa dilepaskan dari gejolak ketidakharmonisan hidup berkelompok, yaitu karena adanya prasangka.

Maka, tak mengherankan bila Harper Lee, penulis novel To Kill Mockingbird, menulis di halaman depan novelnya yang legendaris itu tentang prasangka seperti ini : “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat sesuatu dari sudut pandangnya hingga kau menyusuf ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Nah, apa yang ditulis peraih Pulitzer th 1961 itu cukup beralasan. Selama ini kita gampang berbuat prasangka buruk kepada pihak lain tanpa terlebih dahulu kita mengenal dan mempelajari kehidupan mereka.

Beruntungnya, di acara Peace Camp itu peserta juga diperkenalkan cara memecah balon prasangka yang masuk pada modul 12 perdamaian YIPCI, yaitu sebuah upaya untuk mengarahkan diri agar mengenal orang / kelompok lebih bijaksana.

Dalam materi yang dibentuk permainan ini. peserta dipandu oleh fasilitator. Dalam permainan ini, peserta diminta menyebutkan empat kategori berkaitan dengan profesi, kelompok, suku dan negara.

Fasilitator lalu meminta peserta menyebutkan hal-hal baik dan buruk mengenai keempat kategori tersebut. beberapa peserta mengambil contoh, Israil. Di pandangan mereka, negara itu buruk dan seringkali melakukan aksi barbarian, terutama kepada penduduk Palestina. Nah, apa benar Israil seperti itu? apakah benar semua orang Israil seperti itu. peserta menjawab, “Tidaaaaaak!”.

Nah, begitu juga ketika peserta menyebut orang Jawa cantik. Lalu, ketika ditanya lagi, apakah benar semua orang Jawa cantik. Mereka pun mengatakan, “Tidaaaaak!”.

Begitulah pandangan kita terhadap sesuatu di sekitar kita. Kita terlebih dahulu menaruh rasa curiga dan gampang berburuk sangka. Akibatnya, semua penilaian kita terhadap orang lain menjadi kacau.

Oleh karena itu, momentum bulan suci ramadhan ini seharusnya kita jadikan sebagai pijakan untuk menyadarkan diri kita dari perbuatan berprasangka. Hentikan setiap prasangka buruk yang ada pada diri kita terhadap orang lain.

Puasa harus kita maknai sebagai upaya menahan diri kepada prasangka buruk yang menyebabkan orang lain dirugikan, diteror, diintimidasi, hingga terjadi pembunuhan.

Ingatlah jika berpuasa bukan semata-mata menjalankan ibadah rukun Islam ke-4 yang diwajibkan atas setiap diri umat islam yang sudah berakal baligh dengan cara tidak makan dan minum sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, juga soal menahan diri dari perbuatan tercela lainnya agar kita bisa mencapai derajat taqwa. Dalam bahasa arab, puasa yaitu Shaum, yang memiliki makna menahan,

Tak salah jika puasa dijadikan jihad untuk menahan diri dari hal-hal yang merugikan orang lain. Untuk mencapai derajat ketaqwaan dengan cara berpuasa tersebut, maka kita harus memahami terlebih dahulu makna taqwa itu sendiri.

Taqwa memiliki arti hati-hati, mawas diri, ingat dan waspada. Sebagai hamba yang beriman, kita harus senantiasa mengoptimalkan potensi diri agar tidak terjebak, pada sesuatu tindakan yang merugikan orang lain dan diri sendiri. berburuk sangka adalah sesuatu yang sangat kurang terpuji,

Kita harus senantiasa mawas diri, agar kita tidak mudah berprasangka buruk kepada sesama. Sebab, prasangka buruk yang kita sematkan kepada orang lain, tidak sekadar menyakiti kehidupan mereka, tetapi juga membuat diri kita kehilangan rasa empati kepada sesama. Rasa penghargaan akan kehidupan orang lain.

Apakah kita akan menjadi hamba yang bertaqwa? Sementara hati dan pikiran kita dipenuhi hal-hal negatif kepada sesama, dengan deretan sifat berburuk sangka yang menyertai kehidupan kita yang seharusnya hidup dengan cara bekerjasama dengan orang lain. Putuslah sifat-sifat buruk itu. sekarang juga !

@fendichovi, 2017
#HentikanPrasangka

  • view 88