Naik Gunung untuk Mendengarkan Angin yang Tak pernah Mati

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Wisata
dipublikasikan 09 April 2017
Naik Gunung untuk  Mendengarkan Angin yang Tak pernah Mati

Di atas planet bernama bumi ini, setidaknya sudah ribuan orang melakukan pendakian ke puncak pegunungan dengan misi yang berbeda satu dengan yang lain.  

Namun, apa makna dari pendakian itu sendiri? 

Pertanyaan itu muncul saat pertama kalinya aku diajak mendaki Gunung Merbabu oleh Abah Puken.

Abah Puken adalah sosok yang menjadi tempatku belajar selama merantau ke Jogja. Dari orang ini, aku belajar hal-hal baru yang (belum) kudapatkan di bangku perkuliahan bernama Universitas.

Dalam urusan naik gunung, aku masih pemula. Bahkan, niat untuk menikmati pendakian gunung itu sendiri sebenarnya terobsesi oleh rasa ingin tahu akan suara angin di atas puncak pegunungan. 

Dari pendakian ke Merbabu inilah, akhirnya aku memahami bahwa mendaki gunung tak semudah yang kita bayangkan. Ada makna perjalanan, perseteruan semangat, inspirasi  hingga bayangan kehidupan.

Nah, dalam pendakian kali ini, aku belajar tentang proses menuju puncak ketinggian. Yang dari proses itu, kita bisa memberikan pengambaran bila realitas kehidupan yang kita hadapi seperti naik gunung.

Kami (aku dan rombongan) mulai berjalan untuk mendaki Merbabu pada jam 6.30 Wib.

Kami mendaki melewati jalur Wekas. Jalur yang relatif stabil. Namun, jalan ini relatif licin dan tentu jika kita tidak lihai bisa berkali-kali terpleset.

Dengan membawa carrier yang bermuatan barang-barang yang beratnya 5 kg, energi di tubuhku dengan sendirinya terkuras dan segala bentuk keletihan menyambar tubuh dengan begitu cepat.

Rasa ingin menyerah dan berhenti hilir mudik di kepala.  

 

Saat melangkah menaiki jalan yang semakin menanjak dengan kondisi tanah yang sedikit licin akibat sisa hujan yang turun, saat itulah keletihan demi keletihan terus kurasakan.

"Berhenti dulu, bang. Tubuhku hampir terbakar dengan keringat dan rasa panas yang hilir mudik di tubuh," pintaku pada Abah Puken.

Abah Puken berdiri di sampingku. Aku duduk berselonjor untuk beberapa menit. Lalu, setelah nafas mulai stabil kulanjutkan lagi.

Tak lama, hal yang sama terus terjadi. Hasrat untuk rehat sejenak seringkali menghinggapi harapanku.

"Ayoo, teruslah dipaksa. Pasti bisa. Terus berjalan saja dan jangan lebih banyak mengiyakan istirahat. Bayangkan puncak daripada membayangkan untuk istirahat," kata Abah Puken.

"Oke. Siap," kataku dengan suara parau.

Tak lama, tiba-tiba tubuhku benar-benar letih. Aku meminta untuk berhenti sejenak lagi.

"Aku sudah letih sekali. Silakan Abah berangkat duluan. Aku menyusul," kataku."

Sebenarnya aku tidak sadar mengatakan seperti itu. Bahkan, penyebutan kata "menyusul" itu masih belum bisa dipercaya. Aku belum tahu medan dan rute-nya. Bagaimana jika aku tersesat nantinya.

"Ngga. Kamu tidak boleh menyerah. Ayoo, jalan terus. Bayangkan Puncak Merbabu. Jangan bayangkan untuk istirahat," kata Abah Puken sekali lagi.

"Kamu ngga boleh ditinggal sendirian. Kenapa banyak pendaki meninggal dan menghilang masuk jurang karena mereka salah jalur dan tersesat di dalam perjalanan?" ungkapnya lagi.

Kepalaku dihinggapi antara bayangan berdiri di Puncak dan kondisi tubuh yang benar-benar bermandi keringat basah dan seperti kehabisan tenaga.

"Ayoo. Beban hidup memang berat. Apalagi, kamu lelaki dan nanti menjadi kepala rumah tangga. Jika hal ini saja menyerah. Bagaimana nanti tugas beratmu selanjutnya. Ayoo, paksa kakimu terus melangkah pasti bisa," suara Abah Puken itu benar-benar terdengar jelas sekali sebab suasana benar-benar sangat sunyi sekali.

"Beginilah naik Gunung. Jika dalam hal ini kamu menyerah, tidak bertanggung jawab dengan misimu untuk mencapai Puncak. Kamu berarti tidak bertanggung jawab."

"Tidak mandiri dengan dirimu. Kamu akan kesulitan menghadapi hidup yang lebih berat lagi," ungkapnya lagi.

Keringat ditubuhku semakin berjatuhan membasahi di sekujur tubuhku.

Aku berdiri sejenak. Kemudian, tersenyum dalam keheningan. Kok masih bisa-bisanya Abah Puken menyertakan soal tanggung jawab keluarga dengan misi pendakian ini. 

Sejujurnya, saat itu jika diijinkan memilih, aku ingin berhenti dan berhenti di pos yang ada untuk rehat atau turun ke bawah.

Namun, mendengarkan dorongan dari Abah Puken yang sesekali dibubuhkan nasehat-nasehat pedas tiba-tiba semangatku menyala lagi.

Aku menjadi malu dan dengan kaki sakit terus kupaksakan menanjak menuju pos demi pos di area pendakian ini. 

Hingga akhirnya, kami juga tiba di pos 2. Di pos inilah kami mendirikan tenda. Menyalakan api unggun, memasak nasi dan membuat teh hangat dan kopi untuk santap malam.

Kami istirahat sejenak. Di tempat ini juga aku meloncat-loncat dulu untuk menguatkan otot-otot selain untuk melepaskan beban perjalanan.

Rasa bahagia tiba di pos 2 ini bisa digambarkan dengan dua hal :

Pertama, aku senang karena pendakian hingga ke pos dua ternyata bisa kutaklukkan juga. Selain itu, pendakian berikutnya, beban carrier di pundakku semua kutaruh di pos 2 ini yang nantinya semua barang-barang dijaga oleh porter.

Kedua, aku bisa menikmati hangatnya kopi  di atas alam pegunungan dengan suasana malam yang dingin. 

Jam 3 pagi kami terbangun dan siap-siap untuk melakukan pendakian ke Puncak. Kami berjalan melewati jalanan licin dan berbatu.

Akhirnya, tepat jam 5 pagi, kami sudah bisa berdiri di atas ketinggian gunung Merbabu, yaitu Puncak Syarif 3119 MDPL ...

Di atas puncak itulah, aku melihat awan ketika mataku melihat ke bawah. Sebuah pemandangan yang begitu langkah disaksikan. Selain itu, kami juga berdiri di atas puncak pegunungan, yang deru anginnya sangat kencang dan begitu menusuk tulang-tulang di tubuh ini. 

Impianku berdiri di Puncak Merbabu dan merasakan hembusan angin pun tercapai.

Pada angin itulah, aku berjanji suatu hari akan menemuinya lagi di atas gunung-gunung ciptaan Tuhan lainnya. 

Fendi Chovi, 2017

  • view 194