Hormatilah Para Nelayan

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 April 2017
Hormatilah Para Nelayan

Aku dilahirkan dari orang tua yang setiap hari pergi menangkap ikan di laut.

Dari bapakku ini, aku mengenal pertaruhan nyawa seorang nelayan di tengah laut hanya demi menafkahi keluarga.

Kata bapakku, "Jika kamu bisa melanjutkan sekolah setinggi-tingginya. Bersekolahlah. Jangan mengikuti jalan bapak menjadi nelayan."

Pesan bapakku itu tersirat banyak makna.

Pertama, menjadi nelayan memang bukan perkara yang gampang. Menjaring ikan di laut lepas memang bukan perkara mudah. Tubuh bapakku memang terlihat kuat. Tapi, telapak tangannya terlihat mengeras.

Tak hanya berhadapan dengan terik matahari, gelombang, angin maupun suasana laut yang digambarkan adalah kuburan nyata bagi para nelayan.

Jika sampan tenggelam dan nelayan tidak pintar berenang. Maka tamatlah riwayat hidupnya jika tak segera mendapatkan pertolongan di tengah deru gelombang.

Banyak sekali kisah sampan yang dinaiki nelayan lalu tenggelam dan para nelayan itu pun meninggal terbawa arus gelombang. Tak jarang sebagian harus terlilit jaring penangkap ikannya saat sampan yang dinaikinya diterjang gelombang.

Bukan tenggelamnya saja yang menyisakan pilu. Apalagi, bila jasad tubuhnya tidak juga ditemukan selama dua hari.

Tangis anak-anaknya, istri dan keluarganya. Kejadian-kejadian seperti ini seperti kisah-kisah yang begitu dekat sekali dengan masa kecilku.

Tangis-tangis istri dan anak-anak yang ditinggal keluarga karena tenggelam saat melaut. Sungguh hal menyesakkan dada.

Mereka sesunggukan di depan jasad sang nelayan yang terbujur kaku. Setelah setelah tubuh itu ditemukan oleh sampan lain.

O, Gusti Allah!

Kedua, jam kerja para nelayan itu melebihi jam kerja kantoran

"Coba bayangkan. Berapa jam kerja para nelayan. Mereka harus berangkat ke tengah laut menjelang shubuh. Lalu pulang ke rumah sekitar jam 3 sore. Jika belum memungkinkan, bisa sampai magrib baru tiba di rumah dengan penghasilan setiap hari tidak menentu."

Begitulah beratnya menjadi nelayan. Bahkan, terkait jam kerja ini, terkadang ada rasa cemas ketika adzan magrib berkumandang tapi bapakku juga belum datang.

Pernah suatu ketika saat hujan turun deras dan suara petir berdentuman, bapakku juga masih belum pulang melaut.

Tak hanya ayahku, para tetanggaku juga merasakan hal yang sama. Apalagi, kabar yang beredar ada sampan tenggelam dan belum diketahui milik siapa?

Ibuku lebih sering berdoa sambil berharap bapakku segera pulang ke rumah. Entah, apa yang lebih diharapkan dengan kenyataan seperti itu?

Iyaa, keselamatan.

Dari bapakku ini, sejak kecil aku mendapatkan pembelajaran berharga tentang hidup.

"Hidup itu medan perjuangan. Melawan arus gelombang. Melawan udara yang dingin. Melawan semua rasa takut demi menafkahi keluarga."

Adakah kalian berpikir tentang para nelayan saat menikmati ikan segar yang kalian nikmati di meja makan?

Perjuangan para nelayan itu saat menjaring ikan di laut lepas  memang perjuangan penuh nyali, Seperi dipuisikan dengan begitu elok oleh penyair Madura, D. Zawawi Imron :

"Berbantal ombak berselimut Angin"

Saat kamu menikmati ikan-ikan segar di meja makan? 

Sudahkah kamu menghargai jasa para nelayan?

Fendi Chovi,  2017

 

  • view 111