4 Alasan Kenapa Hati bisa menjadi Gudang Data dalam Proses Menulis?

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 05 April 2017
4 Alasan Kenapa Hati bisa menjadi Gudang Data dalam Proses Menulis?

Banyak yang bilang untuk lancar menulis, membaca buku adalah keharusan. Membaca buku adalah kewajiban yang perlu dilakukan. Selain untuk menambah wawasan, juga untuk menambah daftar kekayaan kosa kata.

Namun, banyak yang melupakan satu ruang yang sebenarnya darinya banyak denyutan nafas kehidupan yang sekaligus menjadi ekspresi detak kehidupan manusia setiap harinya, yaitu hati.

Untuk itu, 4 alasan ini membuatmu berpikir seratus kali untuk tidak menyia-nyiakan apa yang ada di hatimu.

Kamu hanya perlu lebih banyak waktu untuk mendengar dan menikmati bisikan hatimu sebaik mungkin dan kemudian menuliskannya menjadi sepotong karya tulis.  Apa saja? Baca baik-baik poin-poin berikut ini!

I - Kenangan
Setiap dari manusia pasti memiliki kenangan. Namun, kenangan saja tidaklah berarti apa-apa bila hati tidak memaknainya sebagai kenangan yang sulit dilupakan. Hati seolah ikut memberikan peran untuk menjadikan kenangan sebagai uang-ruang bernostalgia. Kembali ke masa lalu meskipun kita sudah melewatinya hingga beratus-ratus hitungan hari lamanya. Masihkah kamu enggan menulis kenanganmu itu?

2- Perjumpaan
Setiap manusia memiliki kesempatan berjumpa dengan segala hal yang sebenarnya menarik untuk dituliskan. Perjumpaan itu bukan hanya pada momen yang diciptakan. Namun, juga soal obrolan, rajutan tawa dan senyuman maupun kisah kesedihan yang menyertainya.
Apakah perjumpaan itu kurang menarik untuk dituliskah?

3- Kehilangan
Setiap manusia dipastikan berjumpa dengan sesuatu yang bernama kehilangan. Dari kehilangan itu, mereka memaknai hati yang harus bersabar dan hati yang harus menerima kepergian sesuatu yang (barangkali) sangat kita cintai. Lalu, bagaimana hatimu merespon bentuk-bentuk kehilangan itu. Apakah ini tetap tak cukup menarik untuk ditulis?

4- Waktu
Setiap dari kita diberikan waktu yang sama. Kita merasakan detakan waktu 24 jam. Dari waktu itu, hati kita menerima banyak momen yang setiap harinya tidak selalu sama. Cenderung berbeda. Yang mungkin tak selamanya membahagiakan, tapi lebih sering menjengkelkan.

Dengan tulisan ini, setidaknya kamu tidak melulu merasa cerdas menulis hanya dengan modal rajin membaca dan membaca. Kamu juga punya hati. Di hatimu itulah, banyak segala jenis rasa, mulai kebahagiaan, kesedihan hingga hal-hal pelik tentang kehidupan terlintas di dalam hidupmu.

Yang sebenarnya bisa kamu jadikan inspirasi untuk menulis setiap hari agar kamu semakin produktif. Sudahkah kamu menulis dengan memanfaatkan data dari ruang hatimu sendiri?

Fendi Chovi, 2017

 

  • view 83