Wefie dengan Teman Lama

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Maret 2017
Wefie dengan Teman Lama

Percayalah kepadaku, Ariana!

Pada suatu waktu, seperti ucapmu, hasrat untuk berjumpa dan berkumpul adalah harapan yang selalu menggairahkan untuk dilakukan.

Seperti pertemuanku dengan tiga teman lama yang dulu menjadi seniorku di kampus.

Ariana!

Dalam pertemuan itu, aku belajar untuk memaknai perjumpaan sebagai bagian kebersamaan.

Dan kamu juga pasti ingin berjumpa dengan teman-temanmu serta dengan orang - orang yang (kamu) baru kenal maupun yang (sudah) kamu kenal. Pertemuan itu senantiasa menjadi harapan yang selalu ditunggu-tunggu. Bukan?

Sebab, pertemuan itu pada saat tertentu bisa dinyatakan sebagai momen melankolia untuk dirayakan bersama-sama.

Di era teknologi informasi saat ini, momen-momen pertemuan itu yang dilakukan banyak orang itu selalu terbiasa dilakukan dengan aksi wefie alias we selfie.

Ariana!

Kamu pasti mengerti bila wefie ini juga disukai olehmu. Mungkin, kamu akan berkata kepadaku, jika aksi ini lebih mengundang kesempatan orang-orang sebagai imaji untuk menegaskan  proyeksi kebersamaan.

Maafkan aku, Ariana!

Aku tak punya cukup ilmu mengulas seputar wefie itu. Yang kutahu saja, ternyata setelah ber-wefie itu, manusia selalu suka ditandai ataupun menandai foto-foto selfie itu di akun sosmed mereka.

O, di luar urusan tandai dan menandai diakun jejaring sosial, berfoto bersama entah dengan cara wefie ataupun mengajak fotografer dipastikan memberikan ruang terciptanya semangat kebersamaan yang terus menerus mewarnai imajinasi orang-orang yang di saat melihat foto itu.

Apakah kamu sudah melihat foto wefie yang kulakukan dengan seniorku, Ariana! 

Jika iya, aku hanya ingin menuturkan jika kamu punya senior dan ajaklah mereka berwefie. Tak harus di depan kota-kota besar yang dikenal dalam buku-buku sejarah.

Cukup di dekat jalan di pinggiran sawah dengan latar pohon-pohon yang menghijau. Itu sudah cukup. Itu sudah cukup untuk menghadirkan imaji kebersamaan lewat foto yang terdokumentasikan.

Hahaha. Aku tak sedang bercanda.

Oya, apa yang kamu bayangkan saat berselfie ataupun berwefie?

Adakah yang mengagumi foto-fotomu atau sebaliknya menjadi nyinyir dengan aksimu itu.

O, Ariana!

Ketahuilah, kegiatan selfie ataupun wefie memang multitafsir. Setiap orang di luar subjek yang merayakan aksi tersebut. Pasti ada yang nyinyir.

Pernyataan nyinyirnya kadang dilukiskan dengan ungkapan sinis, "eksisss terus gaes" maupun "narsis melulu, gaes".

Di luar suara sumbang dan nyinyir itu, aku juga menemukan bentuk pujian yang salah satunya, berbunyi :

"Kegiatan-kegiatan yang kamu ikuti keren-keren, lho."

"Orang-orang yang kamu temui orang-orang berkelas dan kamu beruntung bertemu dengan mereka."

Pernyataan seperti itu, hadir saat foto-foto entah ber-wefie ataupun sengaja minta dipotret dishare ke medsos dan membuat teman-teman yang terkoneksi memberikan penilaian.

Perlu dipahami bahwa kehadiran sebuah foto (terutama objek-nya bersama-sama) senantiasa memberikan penilaian akan lahirnya identitas "merajut kebersamaan".

Identitas itu tercipta saat foto hadir dan objek bidikanya melibatkan banyak orang, entah pada ruang yang formal maupun ruang informal dengan obrolan ringan. Dengan tema yang juga sangat ringan.

Bisa membentuk imaji keakraban dan terbentuknya rasa untuk semakin menciptakan kebersamaan setiapkali melihat momen dari bingkai "dokumentasi foto" yang diabadikan itu.

Dari pengalamanku sendiri, entah kalau kamu, kehadiran momen seperti itu sungguh mempertegas ingatan untuk mencetuskan harapan maupun kesepakatan untuk terus bersama dan berjumpa di lain kesempatan dengan momen yang lebih indah lagi.

Dari berbagai kegiatan yang kuikuti, sesi foto-foto senantiasa menjadi alternatif untuk menjadikan momen kebersamaan itu terpatri di dalam ingatan.

Foto-foto itu terus berbicara dengan bahasa rasa dan kenangan yang kelak kita berkata di dalam hati seputar perjumpaan-perjumpaan yang dilewati.

Maka, kesempatan untuk wefie dengan teman lama terus menerus kulakukan. Jika bukan karena untuk mengingat momen itu, pasti ada maksud lain, yaitu pamer perjumpaan dengan teman-teman, terutama teman lama yang entah untuk "berapa kali sekali" bisa berjumpa kembali.

Disayangkan sekali jika tidak diabadikan, kan?

Dengan demikian, Apakah kamu punya pendapat yang sama denganku?

Fendi Chovi,  2017

  • view 120