Memaknai Bertambahnya Usia

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 19 Maret 2017
Memaknai Bertambahnya Usia

Setiap bertambah usia dan kesempatan hidupmu di dunia ini semakin berkurang. Lalu, apa yang kamu pikirkan?

Mungkin kamu perlu diam sejenak sebelum membalas pertanyaan itu. Memikirkan kembali perjalanan yang terlewati dan tanpa disadari usia yang kamu lewati semakin bertambah.

Usiamu bertambah. Sedangkan perjalanan waktu yang kamu lewati semakin berkurang. Kamu tinggal memiliki beberapa perjalanan lagi untuk menuntaskan perjalananmu.

Namun, usia tak selalu seperti hitung-hitungan matematis. Detik ini, hari ini, maupun besok kamu bisa saja tidak lagi menambah usiamu. Tersebab Tuhan terburu memanggil ruh-mu dan meninggalkan tubuhmu diluar dugaanmu.

Untuk itulah. Apa yang kamu pikirkan saat usiamu bertambah dan waktumu berkurang?

Tak lain adalah amal baik apa yang bisa kamu haturkan kepada tuhan. Yang dengan berbaik hati tak meminta sepeser pun biaya untuk setiap apa yang ada pada dirimu.

Pada nafasmu, pada gigi yang kamu gunakan menguyah makanan, pada kaki dan tanganmu, pada bagian-bagian tubuhmu, mata, hidung telinga, mata, jantung, rambut, maupun jenggot yang begitu enteng kamu mencukurnya.

Coba tanyakan ke rumah sakit terdekat. Berapa biaya jika semua pemberian tuhan itu dikalkulasikan dengan uang?

Memang tak penting bertanya itu ke rumah sakit. Memangnya rumah sakit tempat bertanya gratis.

Pada usia yang tuhan berikan untukmu. Tuhan hanya memintamu agar bersyukur.

Sudahkah kamu bersyukur dengan segala apa yang tuhan berikan untukmu. Yang mungkin rasanya pahit. Tapi kepahitan itulah yang kelak memberikanmu kesempatan menjadi lebih baik.

Sekali lagi. Apa yang kamu pikirkan saat usiamu bertambah dan waktumu berkurang?

Tak lain memperbaiki diri dan menambah pundi-pundi amal kebaikan. Amal baik itulah, sesuatu yang tak terlihat maupun yang terlihat. Namun, pengaruhnya sangat besar yang nanti bisa membantumu di perjalanan baru hidupmu setelah kematianmu itu.

Jika hidup adalah perjalanan ujian untuk melihat siapa di antara hamba tuhan yang baik amal ibadahnya dengan sebaik-baiknya kebaikan tanpa harus menyakiti manusia yang lain. Maka beramal baik tentu kewajiban bagi kamu.

Amal baik itu bisa saja kamu berbagi makananmu untuk orang-orang miskin maupun kamu menyisihkan tabunganmu yang berjumlah miliaran itu untuk ikut membangun lembaga pendidikan maupun rumah ibadah. Agar-agar setiap orang semakin religius dan berpendidikan.

Dengan itu, kamu bisa memetik pahala yang berlipat-lipat.

Seperti nasehat para ulama, orang tua jika kita lahir kedunia ini tanpa membawa apa-apa. Maka saat meninggalkan dunia ini, kamu pun pulang tanpa membawa apapun.

Kamu tak akan membawa mobil, rumah mewah, istri cantik maupun jumlah uang yang kehadirannya mewujud di depan mata semua orang.

Kamu pulang menghadap tuhan hanya membawa catatan kebaikan yang mungkin (catatan kebaikan itu) tak terlihat manusia lain.

Kamu tak perlu memamerkannya. Amal baik bukan ajang pamer. Amal baik adalah soal ketulusan. Soal keikhlasan.

Sebab, dengan ketulusan dan keikhlasan itulah. Kamu mewujudkan tindakan-tindakan kebaikan tanpa motif-motif untuk berbangga-bangga diri.

Dari setiap amal dan perbuatan yang kamu lakukan. Kamu bisa memaknai setiap hari yang kamu lewati. Kamu bisa memaknai setiap kehidupan yang kamu jalani.

Itulah makna bertambahnya usia. Yang sebenarnya begitu sederhana untuk dijadikan refleksi diri untuk kebaikan hidup. Untuk diri sendiri di tengah-tengah menjalani kehidupan bersama orang lain.

Fendi Chovi, 2017

  • view 216