Jika tak Percaya. Nanti Injak-Injaklah Kuburanku, Nak!

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Maret 2017
Jika tak Percaya. Nanti Injak-Injaklah Kuburanku, Nak!

SUATU HARI di ruangan salah satu kepala Bankesbangpol di salah satu kabupaten di Madura, aku bercakap-cakap dengan si kepala untuk urusan menembusi data-data untuk kebutuhan tugas.
Lalu, dia mengatakan kepadaku, "Kamu cocok menjadi marketing", katanya datar.
Aku dinilai lebih cocok menjadi marketing daripada kerja sebagai reporter.
Entah, apa alasannya?
Aku ngga paham. Hanya saja, dia bertaruh seperti ini :
"Nanti jika apa yang aku katakan tidak benar. Datanglah ke kuburanku. Injak-injaklah dan katakan keras-keras."
"Bapak bohong!'
"Aku melihat potensi terpendam di dalam dirimu. Yang perlu dikeluarkan dan dipraktikkan," tuturnya.
Kok bapak bisa menilaiku seperti itu? Tanyaku.
"Aku bisa memahami seseorang dan ini kemampuan mistikal," katanya.
Aku diam. Lalu melirik ke semua isi ruangan.
Aku melihat ada semacam pohon beringin yang terbuat dari plastik berwarna hitam.
"Itu apa, pak?" Tanyaku lagi.
Bolehkah difoto benda itu, pak.
"Jangan, nanti dia bisa mengganggumu," kata bapak itu.
Setelah itu, aku memutuskan tak mengambil gambar dan menemani saja ngobrol tentang apa saja.
Setelah itu, aku pamit keluar dari ruangannya.
Tak disangka. Setahun setelah ungkapan itu keluar dari si kepala tersebut. Aku didaulat menjadi admin sosmed dan tim marketing di salah satu Cafe di daerah Sleman, yang baru saja dibuka dan membutuhkan tenaga mudah.
Ah, aku seolah-olah berjalan membuktikan ucapan si kepala Kesbangpol itu.
Aku mulai bergerak bertindak sebagai marketing. Menawarkan produk-produk di tempatku bekerja.
Jujur. Aku tak punya basic dibidang penjualan. Hanya, ini murni untuk ikutbelajar saja. Semoga memberikan dampak yang lebih baik bagi diri sendiri dan Cafe tempatku bekerja.
Cerita selanjutnya. Nanti aku tuliskan lagi, ya.

  • view 87