Mengingat Bisikan Perempuan

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 08 Maret 2017
Mengingat Bisikan Perempuan

Hari ini, 8 Maret 2017 merupakan Hari Perempuan Internasional.

Aku tak akan membicarakan perayaan itu terlalu luas di dalam tulisan ini. Esai ini hanya ingin memaknai kehadiran perempuan. 

Mari kita bertanya? kira-kira selepas peringatan Hari Perempuan Internasional itu, apa yang bisa dimaknai kembali dari kehadiran perempuan di dunia ini?

Berbicara soal perempuan. Kita bisa melihat peran Malala Yousafzai maupun RA. Kartini serta perempuan-perempuan hebat lainnya di dunia ini.

Merekalah cerminan perempuan terdidik dan memiliki nyali melakukan perubahan di sekitarnya. Dengan demikian, perempuan juga bisa menjadi agent of change yang perannya sangat signifikan di dalam kehidupan ini.

Selain itu, kita pun memahami satu realitas yang sangat dekat dengan kehidupan kita sebagai manusia, jika dikaitkan dengan perempuan.

Yaitu kekuatan sugesti dari bisikan dan rayuan seorang perempuan. (Mohon maaf. Bila dua hal yang kusebutkan itu menyinggung kaum wanita).

Tapi sejarah awal perjalanan manusia membuktikan. Lihatlah bagaimana kisah Nabi Adam di Surga dan harus melanggar larangan Allah Swt karena tergoda bisikan perempuan.

Pada mulanya, Adam manusia pertama penghuni Surga, yang diciptakan Allah merasa gelisah. 

Gelisah menanggung beban kesendiriannya dan sangat menyesakkan dada. Apalagi, saat menyaksikan hewan-hewan di sekitarnya, hidup berpasang-pasangan.

Allah Swt pun menciptakan perempuan sebagai pasangan untuk Adam yang diambil dari tulang rusuknya dan dikenal dengan nama Hawa.

Dalam perjalanannya, dua sepasang manusia ini akhirnya tergoda rayuan iblis.

Mereka disesatkan Iblis dengan bujuk rayunya. Iblis meminta kedua-nya untuk memakan buah khuldi (pohon terlarang) yang Allah Swt telah melarangnya agar kedua-nya tidak mendekati pohon itu. 

Sayangnya, Iblis terlalu jagoan untuk membuat Hawa ikutserta membisikkan rayuan kepada Adam.

Maka terciptalah perbuatan yang dikenal sepanjang sejarah yaitu Adam dan Hawa memakan buah khuldi dan Allah SWT. menurunkan kedua manusia itu ke bumi.

Di bumi itulah, dua sepasang manusia itu menjalani takdirnya. Berpisah selama berhari-hari hingga dipertemukan kembali di Jabal Rahmah (Gunung Kasih Sayang).

Ah, perempuan !

Semoga dari pelajaran dua manusia itulah. Laki-laki dan perempuan saling belajar untuk menjaga diri dari bisikan iblis.

Manusia, terutama laki-laki bisa  menjadi jahat dan hatinya melunak bila dibisiki ungkapan-ungkapan  seorang perempuan.

Bisikan perempuan serupa magnet yang membuat laki-laki tak berkutik yang justru banyak dialiri bisikan iblis. 
Iblis, mahluk ciptaan Allah yang ditakdirkan menjadi musuh utama manusia memang banyak menggoda lewat perempuan.

Di Hari Perempuan Internasional ini, perempuan haruslah sadar bila tugasnya bukan sekadar menghadirkan publikasi tentang perjuangan kaum perempuan untuk melepaskan diri dari jeratan jenis-jenis penindasan dan tindak kekerasan yang seringkali dilakukan kaum laki-laki.

Bukan itu. Bukan itu.

Tapi, mengingatkan perempuan lainnya untuk tidak menggoda laki-laki atau sebaliknya, menasehati laki-laki agar tak menggoda dirinya.

Fendi Chovi, 2017

 

  • view 66