Sepotong Sajak untuk Picesty yang tak Terlupakan

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 01 Maret 2017
Sepotong Sajak untuk Picesty yang tak Terlupakan

Para penulis tidak selalu terlahir dari ruangan workshop kepenulisan ataupun diskusi literasi. Beberapa terlahir dari kegelisahan dan kekecewaan.

Keadaan seperti itulah yang diam-diam memaksa mereka menulis dan memberanikan diri untuk menumpahkannya lalu dijadikan buku.

Hal serupa dialami Nata Timothy, seorang mahasiswa di Yogyakarta dengan buku kumpulan puisi, Sisa -Sisa Picesty.

Buku itu dilaunching pada 12 Februari 2017 di Omah Kopi, Yogyakarta.

Penulis buku ini menuturkan proses kreatif sekaligus ikhwal kelahiran puisi tersebut ditemani dua penyair muda berbakat sebagai pembedah, Raedu Basha dan Alfin Rizal.

Dimoderatori Neng Lilis, para peserta terlihat antusias menikmati kegiatan bedah buku sambil menyeruput secangkir kopi hangat tentang kisah ikhwal kelahiran buku tersebut.

Raedu Basha, dalam selebaran tulisan untuk peserta berjudul, Patah Cinta akan Menyulap seseorang Menjadi Penyair, sebagai ruang apresiasi untuk karya Nata Timothy, memaknai jika puisi kerapkali lahir dari ketersakitan. Jika karya belum bagus. Berarti rasa sakitnya belum benar-benar terasa ke hulu hati.

"Seperti kisah pemuda saat bertanya kepada (Almarhum) Gus Dur tentang karya tulisnya yang jelek. Dengan enteng Gus Dur menanggapi, berarti kamu belum disakiti perempuan. Pantas tulisanmu jelek."

Ledekan Gus Dur di atas, kata Raedu mirip dengan puisi Jalaluddin Rumi, Jika seseorang bertanya, "Bagaimana rasanya terbunuh cinta?"

Pejamkan matamu, lalu sobeklah bajumu. Katakan padanya, seperti ini.
"Jatuh cinta dan patah hati, dua peristiwa jantung itu, akan dengan mudah menyulap seseorang yang baru mengenal bahasa dan baru bisa merangkai frase, kalimat, paragraf, menjadi pemabuk puisi," ujarnya sesekali menyinggung puisi-puisi yang ditulis Nata.

Sementara Alfin Rizal, menuturkan awal prosesnya mencari arti kata Picesty lewat mesin pencari di internet.

Sayang, pencariannya malah berbuah nama-nama masakan. Lalu, dirinya baru tersadarkan jika Picesty ternyata merupakan nama khusus di hati penulis (pujaan hati, red).

Soal proses menghidupi semangat berkarya, Alfin hampir sama dengan Raedu, jika proses menulis kurang maksimal. "Mintalah kepada Picesty untuk disakiti kembali. Sesakit-sakitnya," tuturnya disambut gelak tawa peserta.

Menurutnya, jalan Nata menulis puisi sebagai pelampiasan apa yang berkecamuk di dalam dirinya setidaknya, ditemukan pada puisi berjudul, Kata Lawan Kata : kata lawan mata / mata yang dapat berbicara dengan lantang / lantang dengan segala peluru-peluru aksara yang bermutu, maupun tidak ...

Sementara, Nata sendiri menceritakan ikhwal proses kreatifnya dimulai dengan ingatan yang pernah datang, entah sejam yang lalu maupun beberapa hari yang lalu.

Ingatan itulah yang diam-diam dihadirkan sekaligus diwujudkan kembali dalam bentuk potongan puisi dan kemudian diterbitkan.

Nata mengakui jika penulis puisi tersebut semata-mata ruang untuk berkontemplasi memikirkan sisa-sisa kenangan untuk Picesty, yang disebutnya sebagai nama pertama dari wanita pertama.

Buku cetakan 2016 ini diterbitkan Penerbit Ganding Pustaka Yogyakarta. Berisi 29 puisi. Sebuah karya hasil pergulatan seseorang menghadirkan kembali sisa-sisa kenangan yang tak ingin dilupakan bersama pujaan hati. Keren, kan?

Fendi Chovi, 2017

  • view 276