Kelakar Gus Dur untuk Kaum Jomblo

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Tokoh
dipublikasikan 25 Februari 2017
Kelakar Gus Dur untuk Kaum Jomblo

Para jomblo sejatinya layak belajar kepada (almarhum) KH. Abdurahman Wahid, nama besar yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur. Sebab, guru bangsa dan guru perdamaian tersebut, tidak hanya mewariskan berbagai bentuk pemikiran mengatasi persoalan kebangsaan yang hari ini benar-benar dibutuhkan bangsa Indonesia. Namun, beliau juga meninggalkan jejak perjalanan saat hendak menaklukkan sang pujaan hati, yang kini menjadi istrinya.

Gus Dur, yang kita kenal dengan kebesaran nama dan perannya. Memiliki masa muda yang begitu gigih dalam memperjuangkan segala hal, termasuk dalam urusan memikat hati sang pujaan hati.

Perjuangan tersebut selayaknya diteladani sekumpulan anak muda berstatus jomblo. Yaitu, sosok yang miskin strategi bagaimana mengait pasangan.

Setidaknya, trik gusdur ini mampu menghilangkan kerisauan saat World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa para jomblo atau sosok yang tak menemukan pasangan untuk melahirkan anak bisa masuk kategori disabilitas, (Health.detik.com, 2016).


Bila Cinta Maka Perjuangkan

Di acara Kick Andy, Sinta Nuriyah, istri gusdur pernah ditanya, “Dulu Anda cantik dan diperebutkan banyak pemuda .. Mengapa anda mau kawin sama gusdur?” tanya Andy F Noya, host Kick Andy.

Mendengarkan pertanyaan tersebut, Shinta Nuriyah tersenyum lalu menjawab, “Karena itu kehendak Allah.”

Jawaban yang sangat bijak. Namun, benarkah sesederhana itukah perjalanan kisah cinta guru bangsa tersebut.

Tulisan ini merupakan sarana refleksi untuk generasi muda, khususnya kaum jomblo agar belajar dari guru bangsa ini dalam membingkai cinta, menghargai pasangan saat membangun hubungan rumah tangga, sebagai pondasi awal membangun perdamaian.

Bila kita membaca kisah perjalanan cinta Gus Dur dan Sinta Nuriyah. Ternyata, gusdur menempuh perjuangan yang sangat gigih, bahkan berkali-kali bertepuk sebelah tangan sebelum mendapatkan cinta dari sang pujaan hati.

Dalam sebuah wawancara dengan news.detik.com, Sinta menuturkan jika sebelum Gus Dur pergi ke Mesir untuk melanjutkan studinya. Gus Dur melakukan pendekatan intensif, hampir setiap hari dia main ke rumahnya untuk main catur bersama ayah sinta.

“Main catur sama ayah saya dalam rangka PDKT (pendekatan). Pada saat-saat yang memungkinkan (Gus Dur) meminta ke saya tapi tidak langsung. Dari ayah saya, ke ibu saya, nenek saya, baru ke saya, jadi terminalnya banyak, karena terminalnya jauh saya katakan tidak mau, berapa kali ngga mau,” jawab sinta sambil tersenyum.

Saat mendapatkan penolakan dari Sinta, Gus Dur tidak berputus semangat. Bahkan, saat hendak berangkat ke Mesir, dia masih menitipkan surat cinta untuknya melalui teman dekatnya. Sinta pun menuturkan jika membalas surat untuk Gus Dur  dengan perasaan bimbang.

“Persoalan jodoh, hidup dan mati itu ada di tangan tuhan, kalau kita berjodoh, meski berjauhan pun kita bisa bertemu, tapi kalau tidak berjodoh, meski dekat juga tidak akan bertemu, jadi jawabannya ngambang, iya atau ngga sih,” kata sinta sambil tertawa menyebutkan isi surat yang ditulisnya.  

Dengan jawaban tak pasti itu, akhirnya Gus Dur berangkat ke Mesir. Keduanya tetap rajin berkirim surat hingga akhirnya, hati sinta pun luluh.

Suatu hari Gus Dur berkirim surat lagi dan menyebutkan jika dirinya bermasalah dalam studi gara-gara keaktifannya berorganisasi. Kemudian Sinta membalas surat Gus Dur tersebut, “Kalau jodoh itu memang ada jalannya, tiba-tiba tergerak hati saya, masa orang hidup harus gagal dalam segalanya, kalau gagal dalam kuliah, mestinya tidak gagal dalam lainnya, termasuk cintanya,” ucap sinta.

Menerima surat balasan dari Sinta tersebut, hati Gus Dur senang bukan main. Kemudian, Sinta pun dilamar. Sayangnya, keduanya belum bisa bertemu dan masih membutuhkan waktu 3 tahun lagi untuk bersatu.

Kisah cinta di atas menegaskan bahwa Gus Dur adalah sosok pejuang yang gigih. Percaya kepada pilihannya. Selayaknya, generasi muda meneladani kepribadian tersebut.

Alangkah menariknya lagi, jika para generasi muda mempelajari 9 nilai utama Gus Dur, yaitu mengenai ketauhidan, kemanusian, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekastriaan, dan kearifan lokal.

Dari 9 nilai utama Gus Dur tersebut, tentu perihal, “ketauhidan” sangat layak menyegarkan pemikiran kaum muda, terutama kaum jomblo yang kesusahan saat mendapatkan pasangan.

Lihatlah saat Allah Swt menegaskan di dalam Al-Quran : “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. Supaya kamu melihat kebesaran Allah, (QS : Adz—Dzaariyat (51: 49).

Inilah esensi dari ajaran tauhid, yaitu percaya kekuasaan tuhan. Janji Allah pasti benar. Setidaknya, para jomblo tidak menjadi putus asa dan bernafsu untuk melajang selama-lamanya, bila suatu saat perjuangan mereka mendapatkan jodoh selalu menemui kegagalan.


Kesetiaan yang Tak Terbeli

Saat kita mencintai sesuatu, maka bangunlah energi kekuatan cinta itu dengan kesetiaan untuk memberi bukan meminta. Ada baiknya kita belajar kepada Erich Fromm yang menulis, The Art of Loving bahwa hakikat mencintai adalah semangat memberi bukan meminta. Hal seperti itu juga dilakukan Gusdur.

Mantan Presiden RI ke- 4 ini telah memberikan sumbangsih pemikiran yang cukup besar bagi tradisi keberagaman yang layak dijunjung tinggi di negeri Indonesia saat ini. Tidak hanya itu, sebagai kepala rumah tangga, Gus Dur juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya, bukan menuntut anak-anaknya seperti apa yang diinginkan. Namun, Gus Dur memberikan contoh tentang menumbuhkan semangat kebebasan dalam bertindak dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Di Acara Kick Andy, Sinta memberikan keteladanan tentang kesetiaan dirinya kepada Gus Dur yang tidak bisa dibeli dan itu ditegaskan bahwa dirinya selalu mendukung dan tetap bahagia menjadi istri Gus Dur.

“Saya sebagai istrinya menjadi apapun tetap mendukung”, ungkap Sinta terkait kesetiaannya kepada Gus Dur.

“Karena terpaksa atau karena cinta,” tanya Andy F Noya.

“Jelas karena cinta dong,” jawab Sinta disambut tepuk tangan para penonton.

“Mana yang membuat Anda bahagia, menjadi istri Gus Dur sekarang atau menjadi istri Gus Dur ketika menjadi presiden?” tanya Andy F Noya lebih lanjut.

“Sebagai istri Gus Dur, baik sebagai Presiden, sebagai orang biasa, sebagai kiai, atau sebagai apapun, saya tetap bahagia disampingnya,” jawab sinta mantab.

Keteladan seperti ini adalah bentuk pembelajaran humanis bagaimana Gus Dur menjadi sosok yang dicintai dan disayangi di lingkungan keluarga.

Jika kita percaya bahwa perdamaian di negeri ini dimulai dari keluarga, tentu romantika gusdur ini layak diteladani siapapun. Setidaknya, kita memulai menerapkan ajaran perdamaian itu dimulai dari istri, anak-anak, lalu tetangga hingga ke skala yang lebih besar, yaitu Indonesia.

Tentu saja, dukungan keluarga, terlebih seorang istri, sangatlah besar dalam perjalanan karir seorang lelaki saat mewujudkan cita-cita terbesarnya. Tak percaya. Mari dengarkan pengakuan romantis Presiden Amerika, Barack Obama.

“Saya tidak akan menjadi pria seperti sekarang ini tanpa perempuan yang mau menikahi saya 20 tahun yang lalu,” Ungkap Obama di Mc Cormick Place Covention Center Chicago, beberapa tahun lalu.

Bila suatu hari nanti, aku berkesempatan mampir ke Jombang. Lalu, menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Gus Dur. Aku tiba-tiba membayangkan kelakar Gus Dur seperti ini : Kenapa masih menjomblo?

Ngga laku atau memang senang menyendiri?

Ah, kok lama menjawabnya, gitu saja kok repot !

 Tulisan yang pertama kali diupload di inspirasi.co ini pernah masuk menjadi salah satu dari 27 tulisan terbaik sayembara menulis "Merawat Kebhinnekaan dan Menyuarakan Perdamaian" pada hal ke-7 (Almarhum Gus Dur) yang digelar Gusdurianmalang.  Link bisa dicek di sini

Referensi

1)http://news.detik.com/berita/2995679/jalan-panjang-gus-dur-mendapatkan-cinta-dari-sinta-nuriyah

2)https://health.detik.com/read/2016/10/21/153255/3326430/763/who-godok-pedoman-baru-jomblo-bisa-masuk-kategori-penyandang-disabilitas

3) Program acara Kick Andy, Edisi 15 November 2007

4) Harian Surya edisi cetak tanggal 13 Desember 2012

5) Foto untuk Tulisan ini diambil dari http://lsfcogito.org

Dilihat 142