Menyambangi Kuburan Kakek

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 24 Februari 2017
Menyambangi Kuburan Kakek

"Semenjak bisa membaca Al-Quran, orang tua(ku) seperti mewajibkan untuk ziarah ke makam kakek maupun nenek yang lebih awal menghadap Gusti Allah..."

Di sana, aku membacakan ayat-ayat Al-Quran dan doa-doa khusus untuk mereka. Yang terkubur. Yang meninggalkanku lebih awal. 

Saat menyambangi kuburan kakek yang tua dan tak terawat di pinggiran ladang milik tetangga dan berjajar dengan makam tua lainnya, aku seperti diajak untuk memahami dan menghayati dimensi perpisahan  hidup dan kematian.

"Suatu saat kamu pasti menyusul kakek nenek. Bisa lama dan bisa juga lebih cepat," kata orang tuaku.

Kata orang tuaku, kebahagiaan orang mati, yaitu bila memiliki anak sholeh yang mendoakan mereka setiap saat.

"Kuharapkan, kamu menjadi bagian dari anak sholeh yang rajin mendoakan para leluhur (kakek-nenek) itu setiap saat."

Oya, maafkanlah bila judul ini menggunakan kata "menyambangi kuburan kakek".

Yang tepat adalah berziarah. Tetapi, menyambangi apapun (orang-orang di sekitar kita) itu sangat penting.  

Dan begitulah kekacauan pikiran ini mendedahkan kata "menyambangi" sebagai judul untuk catatan ini.

Dengan menyambangi kuburan itulah, ada ingatan yang tercatat di otak tentang kehidupan dan kematian.

Dengan demikian, aku ingin merawat ingatan tentang kematian dari jarak paling dekat, yaitu gambaran kuburan (yang menyimpan tubuh (manusia yang meninggalkan dunia ini).

Aku teringat saat melewati rumputan di ladang milik tetangga, aku bergegas untuk mengunjungi makam (tempat kakekku disemayamkan) setiap sore di hari jumat.

Kulihat sebuah makam tua berkeramik dan beberapa makam bercat putih lainnya (yang juga dikuburkan di sana), terlihat tak terawat dan kelihatan kusam dan berlumut.

Aku menduga tak banyak ternyata yang benar-benar serius menjaga kuburan kakek dan nenek moyang mereka.

Jangan-jangan mereka juga tidak merawat ingatan akan kematian.

Entahlah!

Membicarakan lebih jauh tentang ziarah ke kuburan seringkali melahirkan sejumlah perdebatan sengit di dalam diri seseorang dan dilanjutkan dengan perdebatan berkelompok-kelompok.

Biarkanlah perang pemikiran itu tercatat di buku-buku, di kitab-kitab serta di debat-debat majelis taklim dan pengajian. 

Selama bertahun-tahun, sejernih apapun dan sekuat apapun alasan kita untuk menolak maupun melakukan pembelaan pada makna ziarah kubur itu.

Itu tidak terlalu penting bila dimensi penghayatan kita satu dengan yang lain tidak searah dan memiliki perbedaan.

Untuk apa aku berdebat dan memperpanjang persoalan itu?

Aku lebih senang memikirkan jika mengingat mati lebih penting. Meskipun mengingat mati keseringan juga tidak baik.

Bagi(ku) ziarah kubur adalah seperti menghadirkan kenangan.

Ya, kenangan jika orang-orang yang terkubur di dalam hamparan batu dan keramik itu, dulunya adalah sama dengan kita.

Mereka dilahirkan untuk bernafas, lalu tersenyum, bersedih, berjuang, kalah, jatuh bangun dan sukses lalu kemudian meninggalkan dunia ini.

Ya, itulah yang terkubur di makam yang kita kunjungi.

Bagi(ku) ziarah kubur adalah menghadirkan ingatan jika pada suatu hari nanti, kita akan menjadi manusia yang bisa sama : mati dan dikuburkan.

Entah, apakah saat kita terkubur nanti?

Adakah yang mengingat nama kita? Adakah yang mendoakan diri kita, yang tak bernyawa?

Jika bukan "aku, bagian dari anak cucu kakek dan nenek itu", lalu siapa lagikah yang menghaturkan doa-doa bagi mereka berdua."

Iya, kan?

Menyambangi kuburan kakek ini. Pertanda aku dan (kamu) juga menjaga, merawat ingatan, merawat kenangan masa lalu, yang tertinggal dan tak seharusnya dilupakan.

O,

Terima kasih atas kebersamaan kalian wahai kakek nenekku, yang melahirkan orang tuaku,

Dan lahirlah aku ke dunia ini.

Yang tersenyum bahagia, atas segala perjuangan beratmu sebagai manusia yang akhirnya membuatku bahagia

Yogyakarta, 23 Februari 2017

Dilihat 75