Rethinking You

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 20 Februari 2017
Rethinking You

Di dunia ini, kita adalah perwujudan kehadiran "aku dan kamu".

Saat kata "kita disebutkan". Saat kata "kita dimunculkan". Lalu siapakah kita itu sendiri?

Kita adalah penyatuan sebuah kesadaran untuk mencipta keserasian dan keharmonisan serta pemufakatan dua orang. Meskipun dibalik layar yang tak pernah diketahui orang-orang dan sengaja disembunyikan. Kata "kita" cenderung lebih memanfaatkan posisi "aku" atau "kamu".

Aku buka obrolan ini dengan sebuah permenungan seperti yang kutulis di atas.

Aku tak tahu kenapa jemariku tiba-tiba hendak menuliskan tentang "rethinking you".

Aku terus mencoba memikirkanmu kembali sambil bertanya-tanya, siapakah kamu?

Kamu, pada suatu waktu tak bisa dikatakan, "kita" meski aku hadir di sisimu.

Kamu tak selamanya bisa merasakan dan selalu sama pemikiran denganku. Pada titik ini, kamu ya kamu.

Sebenarnya, kata "kita" hanya layak dimunculkan sebagai keserasian dan untuk memuliakan dua mahluk yang bisa bersatu.

"Kita ingin berjuang bersama-sama."

Dengarkanlah ungkapan di atas. Apakah benar kita ingin berjuang bersama?

Apakah dirimu senang berjuang denganku? Jangan-jangan ini hanya klaim sepihak dan ajakan sepihak juga.

Pada keadaan seperti apakah, kata "kita" bisa mewakili kehadiran aku dan kamu.

Entahlah, aku hanya ingin memikirkanmu kembali.

Aku hanya ingin mengingatmu seutuhnya.

Kamu tetaplah kamu. Yang tak selalu bisa diajak menyatu menjadi "kita".

Aku adalah aku. Yang ke-aku-an-ku pada suatu saat juga bisa memecah harapan menjadi "kita".

Ahh! Maaf. Sepertinya antara aku dan kamu memang tak mudah disebut "kita".

Itu sebabnya, aku memikirkanmu lagi.

Yang tak layak disebut "kita".

Yogyakarta, 18 Februari 2017

Dilihat 49