Jika Kamu (belum) Bahagia, Belajarlah Memberi

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Motivasi
dipublikasikan 17 Februari 2017
Jika Kamu (belum) Bahagia, Belajarlah Memberi

Saat kamu tidak bahagia, tuhan sebenarnya mengajak dirimu untuk melihat orang lain. Orang lain diluar dirimu dan dari merekalah, sebenarnya kamu akan dipertemukan serta menemukan kebahagiaanmu itu.

Untuk menemukan kebahagiaan, banyak cara yang bisa kamu lakukan, yaitu membiasakan diri untuk membantu orang lain, yang benar-benar membutuhkan bantuanmu.

Orang-orang di sekitarmu, mereka sejatinya sosok-sosok yang memiliki permasalahan yang sama.

Coba bayangkanlah saat dirimu mampu membantu orang lain, diam-diam dirimu juga bisa tersenyum, kan?

Sebab dirimu mampu membuat orang lain tersenyum bahagia.

Suasana tersenyum di dalam diri ataupun pada diri orang lain menandakan jika kita bisa bahagia dan membahagiakan.

Sekilas aku jadi teringat obrolan dengan Fathul Qorib, teman di kampus dulu seperti ini :

"Jika kamu tak bisa membantu dirimu sendiri, maka bantulah orang lain agar nanti tuhan bisa mengulurkan bantuan untuk dirimu,"

 

Jika dibaca lagi. Ungkapan itu mengajakmu, berpikir, merenung, lalu menjalankannya sebagai tindakan nyata, agar dirimu menjadi bagian dari setiap kebahagiaan orang-orang yang membutuhkan bantuanmu.

Jika dipikirkan kembali, kamu akan mampu membayangkan efek yang sama tentang pernyataan itu. Jika membantu orang lain berarti memberikan kesempatan agar tuhan juga menjadi bagian dari dirimu.

Pikirkanlah, jika bukan tuhan, lalu siapa lagi?

Kamu hanya perlu semangat untuk bertindak. Memberi dan membagikan apapun, semampumu, sekuat tenaga terbaikmu.

Yang perlu diingat juga olehmu. Yaitu rejeki itu adalah kebahagiaan. Di kala harta berlimpah, belum tentu dirimu bahagia.

Saat-saat seperti itu. Kadang beberapa di antara kita masih saja mempertanyakan, kenapa kok tuhan belum memberikan rejeki?

Barangkali yang dimaksud rejeki orang itu adalah kepemilikan uang berlimpah, mobil mewah, rumah megah dan naiknya status sosial ke tangga penuh puji-pujian.

Itulah sepertinya yang terus menerus dipermohonkan olehmu setiap saat.

Padahal, jika semua hal  yang dimohonkan olehmu itu, suatu saat kemudian diperkenankan. Lalu dirimu ditimpa sakit-sakitan, kehilangan selera hidup dan keceriaan.

Semua yang didapatkan akan kurang bermanfaat. Iya, kan?

Sudahkah kamu bersyukur dengan apa yang ada?

Fendi Chovi, 2017

 

  • view 108