Menyudahi Status Sebagai Jomblo

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Renungan
dipublikasikan 16 Februari 2017
Menyudahi Status Sebagai Jomblo

Dulu saat menikmati awal pergantian tahun baru, aku bertanya ke temanku,

"Kenapa kamu tidak keluar dari kos menikmati gemerlap kembang api dengan perempuan, apakah kamu tidak risau dengan statusmu sebagai jomblo?"

"Kamu sendiri, kenapa senang menjadi jomblo juga," balasnya, ikut menegurku.

"Aku sebenarnya sudah memiliki tambatan hati. Tapi senang merahasiakan status hubunganku. Ya meskipun status ini tak diikat pacaran dan pertunangan. Tapi, statusku ini terasa lebih asyik untuk dijalani."

Aku dan dia sih, hanya belajar untuk saling mencintai. Siapa tahu cocok untuk menikah kelak," jawabku.

"Itu hubungan macam apa, ya?" tanya dia lagi.

"Ya, hubungan tanpa status."

Aku kembali menjawab, setidaknya, dengan keadaan seperti itu. Aku dan gadis (yang dimaksud) sama-sama belajar mengikatkan diri untuk belajar saling menyemangati. Mungkin saja nanti cocok untuk menikah.

"Jika tidak cocok atau tidak bisa bersatu karena persoalan orang tua atau hambatan lain.  Setidaknya,  dia bisa segera mendapatkan pengganti, sosok selain diriku,"

Menurutmu, apakah ini salah?

"Tidak salah sih. Hanya aneh saja. Bagi manusia kekinian. Hubungan cinta dan mencintai itu harus berstatus, ya awalnya pacaran, lalu jika siap ke pernikahan," jawab dia.

"Oke. Menurutku hubungan tanpa status hampir sama dengan hubungan berstatus pacaran. Intinya tujuannya sama dan hanya caranya yang berbeda." jawabku.

Tapi yang perlu kamu ingat adalah jika hubungan tanpa status. Paling tidak, it menjanjikan sebuah penghayatan akan arti menunggu dan sikap saling mempercayai. 

Setidaknya, hubungan itu dijalankan tanpa motif-motif apapun kecuali hasrat mengenal dan proses menuju ke tangga pernikahan.

Kenapa harus tanpa status?

Hubungan tanpa status yaitu, hubungan untuk saling mempercayai.

"Aku masih sibuk mengejar cita-citaku dulu, jadi waktuku untuk dia agak minim. Jika kelak cocok dan dia setia dengan perjanjian tak tertulis ini. Ya, ini luar biasa menyenangkan."

Apa, ya? Intinya dia tahu perasaanku. Jika aku menyukai dia. Itu saja! 

"Aku hanya ingin setia dengan pilihan. Mengejar impian dan bertanggung jawab kepadanya dengan cara yang lain, yaitu mempersiapkan masa depan yang terbaik untuknya."

Tapi, jika hubungan ini tidak seperti yang diharapkan, setidaknya, hubungan tanpa status ini memberikan kesempatan kepada dia untuk memilih yang lain.

Bagiku. Menjalin hubungan itu yaitu soal kenyamanan dan kepercayaan. Jika dua hal itu telah tertanamkan dengan baik. Maka, diganggu dan dipisah dengan cara apapun, akan tetap menumbuhkan semangat kebersamaan.

Kenapa?

Sebab, dia percaya padaku. Jika aku bisa setia, tidak neka-neko, dan bertanggung jawab kepadanya.

Hal lain. Dia juga merasa nyaman. Sesuatu yang tidak didapatkan dari orang lain selain kehadiranku.

Dengan sikap demikian. Aku tak ingin menjebak diri ini dengan penyandangan gelar apapun, bahkan sekiranya diolok-olok, kok jomblo, kok belum pacaran dan kapan mengakhiri status jomblo dan tidak single lagi.

Untukmu, yang membaca tulisan ini. Mari lawan provokasi menyudahi status jomblo, kecuali jika siap untuk menikah. Sebab, itu lebih diberkahi dan dipenuhi keberlimpahan rejeki.

Fendi Chovi, 2017

Sebuah permenungan tentang hubungan tanpa status

  • view 80