Membagikan Kenangan kepada Siapapun, yang Senang Membaca dan Mewakili Pikirannya

Fendi Chovi
Karya Fendi Chovi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Februari 2017
Membagikan Kenangan kepada Siapapun, yang Senang Membaca dan Mewakili Pikirannya

Ra. Mohammad Faizi, salah satu penulis catatan perjalanan sekaligus tokoh penting di dalam gerakan kebudayaan di Sumenep, Madura, memberikan buku berjudul, Merentang Sajak Madura-Jerman (Sebuah Catatan Perjalanan ke Berlin).

Buku itu sengaja diberikan saat bertemu di acara workshop menulis catatan perjalanan di salah satu kampus negeri di Bangkalan, Madura.

Sebelumnya, aku sempat bertanya, "Ra, apakah stok buku Merentang Sajak Madura-Jerman masih tersedia? Soalnya, aku kehilangan buku tersebut. Entah, di mana gerangan terjatuh atau siapa yang berani iseng-iseng mengambilnya."

"Oke. Nanti ketemu saja. Sepertinya, saya diundang ke Bangkalan mengisi workshop menulis catatan perjalanan," jawab beliau melalui sms ke ponsel.

Tanpa kuduga, setelah bertemu di event bedah buku tentang trik dan tips menulis catatan perjalanan. Beliau memberikan buku itu kepadaku harus membayar dan lengkap dengan tanda tangannya.

"Ini. Buat kamu," kata beliau.
"Terima kasih, Ra. Faizi," kataku sambil memperlihatkan senyum.

Aku memanggil beliau. Dengan awalan kata Ra. Singkatan dari kata Lora.

"Lora" merupakan sebutan bagi kiai muda atau putera pengasuh di pesantren di Madura. Jika di tanah Jawa dinamakan "Gus".

Jadi, jika ada putera seorang kiai di Madura. Maka sebagai bentuk penghormatan akan keluhuran pengetahuan dan perjalanan hidupnya dalam mengabdikan diri sebagai guru bagi masyarakat.

Putera-puterinya pun harus dihormati. Sebutan kata Lora. Ini pertanda rasa menghormati. Meskipun tidak semua anak kiai senang dibangga-banggakan secara berlebihan dengan sebutan tersebut.

Nah. Dalam dunia tulis-menulis, sejujurnya, aku banyak belajar dari ke-konsistensi-nan Ra. Faizi ini, terutama di dalam menggeluti dunia literasi.

Kiai muda berjiwa penyair dan penikmat perjalanan antar kota dengan menaiki bis akas ini, tergolong kiai dengan cara berpikir yang unik dan kemampuan berbicara yang mampu memikat banyak orang.

Beliau telah menulis sejumlah buku, mulai kumpulan puisi, catatan perjalanan, hingga catatan rutin yang ditulis di blog maupun note Facebook-nya.

Nah, coba apa relevansi dari membagikan kenangan yang kujadikan sebagai judul dengan menghadirkan cerita tentang pemberian buku dan sekilas tentang Ra. Faizi di dalam tulisan ini?

Mari simak tulisan ini kembali!

Aku dan kamu serta orang-orang di sekitarku

Sebagai seorang blogger, aku paling senang menggunakan sudut pandang orang pertama dalam menyajikan tulisan dengan kata "aku" dan bukan "saya".

Kata "aku" di sini, digunakan sebagai perwakilan sosok diri, yang berkesempatan melihat, mendengar serta menikmati segala hal yang terjadi dengan banyak orang. Mungkin juga dengan kamu, sosok yang paling terdekat dengan kata aku tersebut.

Penggunaan aku di sini, setidaknya pada waktu tertentu, tak harus mewakili diriku. Bisa saja orang lain. Jika demikian kata "aku" ini pun beralih fungsi bukan "aku individu" tapi "aku publik".

Aku publik, yaitu pernyataan aku, yang mewakili kehendak orang lain, yang sengaja kutulis tanpa menyebut orang tersebut. Tetapi, mewakilinya dengan kata aku, biar semakin dekat dengan pembaca.

Nah, tentu saja jika menulis kata "aku" dan tulisan itu dikirim ke media cetak, seperti koran, tabloid dan majalah maupun buletin, tentu sangat aneh. Akan tetapi, kata "aku" jika ditulis sebagai sudut pandang pencerita utama pada sosial media berplatform bernama blog.

Kesannya akan sangat terasa. Setidaknya, unsur "latar belakang cerita, sesuatu dibalik layar, serta hal-hal unik lainnya bisa tersajikan dengan sangat memikat dan tak dimiliki semua orang.

Menarik, kan?

Itulah sebabnya. Penggunaan kata "aku" di tulisan-tulisanku, bukan bermaksud untuk mencurhatkan diri. 

Aku hanya ingin penggunaan kata "aku" itu sebagai penegasan tentang keterlibatan diri pada momen ataupun peristiwa yang ada. Lalu, dituliskan sebagai pengamatan orang pertama.

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dijelaskan jika kata "aku" merupakan pronomina pertama tunggal, dinyatakan sebagai ungkapan perwakilan diri paling akrab, kepada teman, saudara maupun kawan-kawan. Lebih personal dan terikat pada sisi emosi.

Sedangkan, kata "saya" meskipun dinyatakan lebih sopan dan ta'dzim lebih terlihat formal dan kehilangan sisi relasi antara "aku dan orang-orang di sekitarku".

Itulah relevansinya, kenapa cerita sekilas tentang Ra. Faizi dimunculkan, yaitu sebagai penekanan jika "aku" senang bercerita seperti Ra. Faizi menuliskan pengalamannya di buku-bukunya.

Terima kasih jika sudah membaca dengan tuntas, ya!

Fendi Chovi, 2017 

  • view 58